Beberapa orang yang sedang kecanduan fitnah manhaj, selalu menyibukkan manusia dengan kesalahan para da’i, melempari mereka dengan berbagai tuduhan hingga terlihat mengerdilkan upaya mereka dalam mengajak manusia dalam kebaikan. Padahal, para da’i itu adalah da’i ahlussunah waljama’ah.
Hilyatu Thalibil ‘ilmi, hiasan penuntut ilmu. Buku yang sangat perlu dibaca bagi setiap penuntut ilmu. Karena begitu pentingnya memahami buku ini, Fahdilatu asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah mensyarah buku itu. Padahal buku itu adalah buku karya muridnya sendiri, yaitu Fadhilatu asy-Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah.
Terkait masalah kebiasaan orang-orang yang sedang kecanduan fitnah manhaj, yang selalu menyibukkan manusia dengan kesalahan para da’i itu, saya selalu ingat perkataan Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam kitabnya Ar-Rudud. Beliau -rahimahullah- berkata:
اعلم أن التصنيف العالم الداعية« – وهو من أهل السنة – وَرَمُيّه بالنقائص: ناقض من نواقض الدعوة، وإسهام في تقويض الدعوّة، ونكث الثقة،وصَرف الناس عن الخير، وبقدر هذا الصد، ينفتح السبيل للزائغين.فاحذر الوقوع في ذلك .
“Ketahuilah, bahwa pengelompokkan para alim dan da’i (walau sebenarnya ia adalah seorang berpemahaman ahlussunnah) dan melemparinya dengan kesalahan merupakan salah satu dari pembatal-pembatal dakwah dan upaya merobohkan sendi-sendi dakwah, merusak kepercayaan, dan memalingkan manusia dari kebaikan. Dan sesuai besarnya upaya penolakan ini, maka terbukalah jalan untuk orang-orang yang salah. Maka berhati-hatilah agar tidak berbuat seperti itu. (Ar-Rudud: 440)
Beliau kemudian menukil perkataan imam adz-Dzahabi rahimahullah, ketika membicarakan imam Qatadah Ibnu Di’amah as-Sadusi rahimahullah.
Jika anda pernah membaca kitab tafsir Ibnu Katsir, pasti akan sering menemukan nama Qatadah dalam nukilan pendapat Ibnu Katsir rahimahullah.
Qatadah, ya Qatadah Ibnu Di’amah as-Sadusi, seorang ulama yang berpendapat tentang benarnya paham Qadariyah. Jika ia hidup di zaman ini, bisa habislah ia. Para pecandu fitnah manhaj akan senantiasa menyebut nama dan kesalahannya tentang pemahaman sesat Qadariyah itu, layaknya apa yang mereka lakukan pada Sayyid Quthb dan Hasan al-Banna rahimahummallah.
Tapi lihatlah Syaikh Bakr Abu Zaid menukil perkataan Adz-Dzahabi rahimahullah dalam siyarnya;
ثم إن الكبير من أئمة العلم إذا كثر صوابه، وعلم تحريه للحق، واتسع علمه، وظهر ذكاؤه، وعُرِفَ صلاحُه وورعُه واتباعُه، يُغْفَرُ له زَلَلَهُ، ولا نُضَلِلُه ونطرحُه، وننسى محاسنَه، نعم ولا نقتدي به في بدعته وخطئه، ونرجو له التوبة من ذلك”
“Kemudian, sesungguhnya seorang pembesar dari ahli ilmu, jika telah banyak kebenarannya, diketahui upayanya dalam mencari kebenaran, ilmunya luas, nampak kecerdasannya, orang mengenal keshalihannya, sikap wara’nya dan upaya ketaatanya pada kebenaran, maka kesalahannya dimaafkan. Kita tidak boleh menyesatkannya dan tidak boleh melupakan kebaikannya. Benar, kita tidak boleh mengikutinya pada bid’ah yang ia lakukan, tapi kita selalu mengharapkan padanya taubat dari itu.” (Siyar a’lam an-Nubala: (Siya A’lam an-Nubala: 14/40; ar-Rudud: 442)
Kepadamu wahai para penuntut ilmu, kebiasaan melempar dan menuduh syubhat itu sudah jauh lama terjadi. Apa yang terjadi hari ini hanyalah pembaharuan sifat yang dahulu sudah lama hampir terkubur, namun ada-ada saja yang memperbaharui fitnah manhaj ini.
Mari bersikap adil seperti mereka, dan jauhkan diri kita dari manjadi manusia pengadu domba yang berjubah salafiyah.
***********
Penulis: Muhammad Ode Wahyu al-Munawy, SH.
(Pembina Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’am an-Nail, Alumni Jurusan Syariah Prodi Perbandingan Mazhab dan Hukum Islam STIBA Makassar dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah











































































