“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengam sendiri-sendiri.” (Qs. Maryam: 95)

Abu Abdillah Muhammad bin Qasim Ath-Thusi mengatakan, Muhammad bin Aslam berkata kepadaku, “Abu Abdillah, apa perluku dengan makhuk? Dahulu aku dalam tulang punggung bapakku sendirian, kemudian berada dalam perut ibuku sendirian, kemudian terlahir ke dunia sendirian, kemudian dicabut nyawaku sendirian, kemudian di dalam kubur sendirian, kemudian malaikat Munkar dan Nakir mendatangiku dan menanyaiku sendirian. Kalau aku menuju kepada kebaikan maka aku pun sendirian, kemudian diletakkan amal dan dosaku di atas timbangan dan aku sendiri. Kalau aku dibangkitkan ke surga maka aku dibangkitkan sendirian, dan kalau aku dibangkitkan ke neraka maka aku dibangkitkan sendirian.” Kemudian dia termenung sesaat, lalu tubuhnya menggigil hingga aku khawatir dia jatuh.

Sungguh generasi tabi’in sangat menyadari makna yang agung ini, karena mereka adalah hasil didikan Al-Qur’an:

“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Qs. Maryam: 95)

Maka mereka mengetahui “Bahwa Allah Subhanahu Wata’ala tidak menghisab manusia secara berkelompok, tetapi Allah akan menghisab mereka secara sendiri-sendiri. Semua sesuai dengan amalannya dan dalam batasannya masing-masing.”

“Bertanggung jawab sendiri dan dihisab sendiri. Setiap jiwa bertanggung jawab atas dirinya dan tidak ada jiwa yang bisa menanggung jiwa yang lain. Inilah prinsip Islam yang agung. Prinsip pertanggungjawaban sendiri yang didasarkan di atas keinginan dan pilihan manusia sendiri, dan di atas keadilan yang mutlak dari Allah. Itulah prinsip yang paling kuat yang menjadikan manusia merasa akan kemurahan Allah kepada hamba-Nya serta membangkitkan kesadaran dalam hatinya. Keduanya sangat berperan dalam tarbiyah.

Perasaan setiap orang bahwa dirinya akan diberi balasan atas amalannya dan tidak diberi balasan dari amal orang lain serta tidak terlepas dari apa yang telah dikerjakan adalah memiliki peran yang kuat untuk selalu berintrospeksi sebelum dihisab, dengan menyingkirkan segala angan-angan yang menipu seperti adanya seseorang bisa memberi manfaat baginya, atau akan ikut menanggung bebannya.

Perkara ini sangat dipahami oleh Abu Ishaq Al-Fazari, ketika suatu hari Harun Ar-Rasyid berkata kepadanya, “Syaikh, sesungguhnya engkau berada di tempat yang dekat.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya itu sama sekali tidak menjamin bagiku nanti pada hari kiamat dari hisab Allah.’

Atha’ bin Abi Rabah mendatangi Amirul Mukminin Hisyam bin Abdul Malik, lalu Hisyam meminta kepada beliau wasiat dan nasihat, maka beliau berkata kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah pada dirimu, Amirul Mukminin, dan ketahuilah bahwa engkau diciptakan dalam keadaan sendiri, meninggal sendirian, dikumpulkan sendirian, dan dihisab sendirian. Demi Allah, tidak ada seorang pun yang engkau lihat bersamamu

“Kalau engkau kembali ke tempat tinggalmu maka kabarkan kepada mereka bahwa aku berkata kepadamu aku tidak menguasai masalah tersebut.” _ Imam Malik

Diriwayatkan dari Ayub, dia berkata, “Aku mendengar Qasim bin Muhammad bin Abu Bakr Ash-Shiddiq ditanya di Mina, lalu menjawab, ‘Aku tidak tahu, aku tidak tahu’. Ketika mereka banyak bertanya kepadanya maka dia berkata, Demi Allah, kami tidak mengetahui jawaban dari setiap yang kalian tanyakan. Kalau kami mengetahuinya maka kami tidak akan menyembunyikannya kepada kalian dan tidak halal bagi kami menyembunyikannya’.”

Beliau juga pernah berkata, “Saya tidak mengetahui jawaban dari setiap yang ditanyakan kepada saya. Seseorang hidup dalam keadaan bodoh setelah mengetahui hak Allah atas dirinya adalah lebih baik baginya daripada dia mengatakan apa yang tidak diketahui.”

Penyakit yang harus diwaspadai oleh para aktivis yang bergerak di medan dakwah ialah memberanikan diri menjawab semua pertanyaan sehingga berfatwa dengan apa yang tidak diketahui. Sangat mengherankan orang-orang yang mudah berfatwa itu. Ini adalah penyakit yang harus diobati, khususnya di kalangan aktivis shahwah islamiyah.

Marilah kita renungi bagaimana sikap lmam Malik bin Anas bin Malik, yang merupakan orang terfakih di zamannya, ketika ada seseorang bertanya kepadanya tentang Suatu masalah, maka beliau menjawab, “Aku tidak menguasainya. Orang tersebut berkata, “Sesungguhnya aku telah menempuh perjalanan dari suatu tempat untuk bertanya kepadamu tentang masalah tersebut.” Maka Imam Malik berkata, “Kalau engkau kembali ke tempat tinggalmu maka kabarkan kepada mereka bahwa aku berkata kepadamu aku tidak menguasai masalah tersebut.”

Imam Malik bin Anas yang merupakan imam kota Madinah tidak keberatan untuk mengatakan, atas masalah yang ditanyakan kepadanya, “Aku tidak menguasainya.” Maka wajib bagi setiap dai untuk belajar dan menahan diri sebelum menjawab.

Imam Malik bin Anas mengatakan, “Aku tidak berani berfatwa hingga ada 70 ulama yang bersaksi bahwa aku sudah ahli untuk mengeluarkan fatwa.”Bahkan beliau juga mengatakan, “Tidaklah aku mengeluarkan fatwa hingga aku bertanya kepada orang yang lebih tahu dariku, apakah sudah sesuai pada tempatnya.”

Ibnu Abi Hisan berkata, “Imam Malik pernah ditanya tentang 22 masalah, dan beliau tidak menjawab kecuali hanya dalam dua masalah setelah banyak membaca: laa haula wa la quwwata illa billâh.”

Sufyan bin Uyainah pernah mengatakan, “Apabila seorang alim meninggalkan kata “aku tidak tahu” maka perkataannya terkena musibah. “

Diriwayatkan dari Daud bin Yazid Al-Udi, dia berkata, “Asy-Sya’bi berkata kepadaku, “Abu Yazid, bangunlah dan ikut denganku hingga aku memberimu pelajaran’. Maka aku berjalan bersamanya dan aku bertanya, Apa yang akan engkau berikan kepadaku?’ Dia menjawab, ‘Apabila engkau ditanya tentang sesuatu yang tidak engkau ketahui maka katakan: Allahu a’lamu bihi (Allah lebih mengetahui tentang itu). Karena itu adalah ilmu yang bagus’.”

Permasalahan anak muda aktivis harakah islamiyah adalah ketergesaan berfatwa dalam masalah-masalah yang sekiranya itu disodorkan kepada Umar bin Khathab maka beliau akan mengumpulkan ahli Badar untuk membahasnya!

Saudaraku, marilah Kita mencoba belajar dan mendidik diri kita di atas manhaj para tabiin, berada di garis mereka dan menapaki jejak mereka serta menempuh jalan mereka.

**********

Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 216-220

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)