“Jangan kamu tunduk kepada nafsumu meskipun ia mengajakmu melakukan hal yang disenangi.” (Yahya bin Muadz)
Abu Bakar Asy-Syibli berkata, “Janganlah Anda merasa aman terhadap nafsumu meskipun Anda mampu berjalan di atas air, sehingga Anda keluar dari negeri yang menipu (dunia) menuju negeri impian (akhirat). “
Setelah mengetahui tabiat nafsu, maka kita harus waspada terhadap bahaya nafsu yang selalu bersama kita karena ia selalu memerintahkan kepada kejelekan kecuali yang dirahmati Allah. Potensi nafsu memerintahkan kepada kejelekan muncul kalau kita tidak waspada terhadap bahayanya. Kewaspadaan akan meminimalisir peluang jatuh ke dalam dosa.
Al-Junaid mengatakan, “Aku mendengar As-Sirri As-Saqthi berkata, ‘Ada satu penyakit yang tersembunyi dariku selama 30 tahun. Yaitu, dahulu aku bersama beberapa orang selalu pergi shalat Jumat pada pagi hari. Kami mempunyai tempat duduk sendiri-sendiri yang sudah biasa kami tempati, hampir tidak pernah terlewatkan oleh kami. Namun, pada suatu Jumat salah seorang dari tetanggaku meninggal dunia, dan aku hendak ikut mengiringi jenazahnya. Betul, aku datang mengiringi hingga masuk waktu dhuha, kemudian aku pergi shalat Jumat. Ketika sampai di dekat masjid tiba-tiba diriku berkata padaku, ‘Sekararng orang-orang akan melihatmu karena sudah masuk waktu dhuha dan engkau sudah terlambat dari waktu biasanya.’ Hal ini membuatku merasa berat, maka aku katakan kepada diriku, Aku melihatmu telah berbuat riya’ selama 30 tahun dan aku tidak mengetahuinya.’ Setelah itu aku meninggalkan tempat biasa aku duduk dan aku mulai shalat di beberapa tempat yang berbeda agar tidak dikenal bahwa itu tempatku atau semacam itu’.”
Perlu kita sadari bahwa kalau nafsu mau mengerjakan ketaatan dengan ringan dan mudahnya, itu bukan berarti dia mencintai kita, tetapi karena kuatnya keinginan yang Allah berikan kepadamu dan rasa takut kepada akhirat adalah yang memaksanya. Oleh karena itu, apabila nafsumu menemukan celah, ia akan kembali pada keadaan aslinya dan akan berpaling dari ketaatan kepada Rabbnya. Maka pahami dan waspadalah!
Saat-saat lengah dan lalai terhadap nafsu adalah hal yang membuatmu menjadi sombong dan diperbudak oleh segala keinginannya; menggiringmu melakukan yang diharamkan. Hakikat inilah yang disadari dan diperhatikan oleh generasi tabi’in, sebagaimana dikatakan Yahya bin Muadz, “Jangan kamu tunduk kepada nafsumu meskipun ia mengajakmu melakukan hal yang disenangi.”
Bertolak dari pengetahuan ini, generasi tabi’in senantiasa saling menasihati di antara mereka agar tetap selalu waspada. Muhammad bin Malik bin Dhaigham mengisahkan, Abu Ayyub berkata kepadaku, “Suatu hari Abu Malik berkata kepadaku, ‘Hai Abu Ayyub, waspadalah terhadap nafsumu atas dirimnu. Sungguh, aku melihat kekhawatiran kaum mukminin di dunia tidak akan putus-demi Allah-karena khawatir kalau-kalau akhirat tidak datang dengan kegembiraan. Sungguh, terkumpul padanya dua hal: kecemasan dunia dan khawatir sengsara di akhirat.””
Abu Ayyub berkata, “Bagaimana akhirat tidak datang kepadanya dengan kegembiraan sedang dia selalu beribadah kepada Allah hingga lelah?” Abu Malik berkata, “Wahai Abu Ayyub, bagaimana dia bisa merasa selamat?” Kemudian dia berkata, “Berapa banyak orang yang merasa telah memperbaiki dirinya, memperbaiki keluarganya, memperbaiki niatnya, dan memperbaiki amalnya, namun pada hari kiamat semua dikumpulkan lalu dipukulkan ke wajahnya.”
Itulah seruan untuk selalu waspada terhadap nafsu. Seruan untuk waspada terhadap bahaya dan penyelewengan nafsu. Sangatlah berbahaya apabila kita terlelap, meskipun hanya sebentar, dari mengawasi hawa nafsu. Dan ketika sadar, ternyata kita dapati diri kita telah terjerembab ke dalam kemaksiatan yang menjerat. Oleh karena itu, kalau pun lengah atau lalai jangan terlalu terlelap sehingga mudah terjaga.
Ar-Rabi’ bin Shabih mengisahkan, “Kami pernah bersama dengan Hasan Al-Bashri, beliau kemudian memberi nasihat namun ada seseorang yang mengeraskan nafasnya, maka beliau berkata kepadanya, ‘Demi Allah, pada hari kiamat Allah akan menanyakan kepadamu apa maksudmu melakukan itu.”
Begitulah, Al-Hasan selalu ingin menyadarkan kawannya atas apa yang dikerjakannya, sebagaimana beliau menginginkan agar semua muridnya juga memperhatikannya. Akhlak semacam ini tidak akan muncul kecuali dari seorang murabbi (pendidikan) yang benar-benar sadar atas hakikat nafsu dan memahami tabiatnya.
Suatu hari Ibrahim Al-Khawas keluar untuk mengingkari kemungkaran, namun ada anjing yang terus menggonggonginya sehingga dia tidak bisa sampai ke tempat kemungkaran yang dimaksud. la pun kembali ke masjid dan berfikir sejenak, kemudian bangkit menuju tempat kemungkaran dan anjing tersebut hanya mengibas-ngibaskan ekor di sekitarnya dan tidak mengganggurnya. Sehingga ia berhasil menghilangkan kemungkaran tersebut.
Ketika beliau ditanya tentang apa yang terjadi padanya, ia menjawab, “Anjing tersebut menggonggongi aku karena ada sesuatu yang rusak antara aku dan Allah, namun ketika aku kembali dan menyadarinya serta membaca istigtar maka terjadilah apa yang terjadi.”
Sangatlah bahaya apabila kita lalai, jatuh ke dalamn kubangan dosa dan kemaksiatan sehingga Allah menyerahkan kita kepada diri kita. Coba kita perhatikan kilasan pendidikan dari seorang tabi’in bernama Mutharrif bin Abdillah. Ia berkata, “Aku mendapati manusia berada di antara pemeliharaan Allah atau setan. Apabila Allah mengetahui ada kebaikan di dalam hati manusia tersebut maka Dia akan memasukkannya ke dalam pemeliharaan-Nya. Namun, apabila Dia mengetahui di dalam hati manusia tersebut tidak ada kebaikan maka Dia akan menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Dan barang Siapa yang diserahkan kepada dirinya sendiri maka dia akan binasa.”
Termasuk sebuah kelalaian apabila kita merasa nyaman dengan nafsu kita sehingga kita terus berada dalanm tipu dayanya dan menjadi budaknya. Lalu, kita merasa senang dengan kenikmatan yang sejenak dan lupa akan siksaan. Maka waspadalah, terus-menerus bersamanya dan berkompromi dengannya. Abu Hazim mengatakan, “Apabila kamu melihat Allah terus memberikan nikmat-Nya kepadamu sementara kamu bermaksiat, maka waspadalah.”
Abdullah bin Abdul Aziz Al-Umari berkata, “Di antara kelalaianmu menjaga nafsumu adalah engkau berpaling dari Allah dengan mengetahui apa yang Dia murkai, namun kemudian engkau melanggarnya.
Di antara mereka ada yang mengingatkan kita bahaya nafsu yang terkadang mampu mengelabuhi pemiliknya sehingga merasa telah mengerjakan suatu kebaikan yang sangat utdina, seperti merasa telah memerangi iblis, melaknat dan menyelisihinya, namun ternyata nafsu ini telah mengelabuhinya. Oleh Karena itu, kita harus selalu benar-benar waspada terhadapnya. Simaklah perkataan seorang tabi in bernama Wahib bin Al-Wird, ia berkata, “Janganlah engkau mencela iblis di hadapan orang, padahal engkau adalah kawannya ketika sendirian.”
Tentu Anda takjub dengan generasi tabi’in dalam mendidik para pengikutnya, tentang bagaimana harus waspada terhadap bahaya nafsu. Yusuf bin Husain mengingatkan Muhammad bin Junaid, “Semoga Allah tidak membuatmu merasakan nikmatnya nafsumu karena apabila engkau merasakannya maka Anda tidak selamat.”
Barang siapa yang selalu waspada terhadap bahaya nafsunya maka Allah akan menjaganya darinya. Ahmad bin Muhammad bin Masruq At-Tusy mengatakan, “Barang siapa yang merasa selalu diawasi oleh Allah pada setiap bersitan hatinya maka Allah akan memelihara semua gerakan tubuhnya.”
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal. 34-38
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)









































































