“Barang siapa tidak mengenal nafsunya, bagaimana mungkin ia mengenal Penciptanya ?” (Ibnu Qayyim)
Abu Muslim Al-Khaulany berkata, “Bagaimana pendapat kalian tentang sesuatu yang jika aku muliakan, memberinya berbagai kenikmatan dan membiarkannya, maka kelak ia akan mencelaku di sisi Allah. Dan jika aku menghinakannya, membuatnya marah, penat dan mempekerjakannya, maka kelak ia akan memujiku di sisi Allah?” Mereka bertanya, “Siapakah dia, wahai Abu Muslim?” la menjawab, “Dialah nafsuku.
Di antara sarana tarbiyah untuk membina dan mendidik nafsu, serta membawanya berjalan menuju Allah adalah tarbiyah dengan mengenal hakikatnya. Sebab, nafsu adalah sebagaimana yang dikatakan Imam ibnu Qayyim, “Barang siapa tidak mengenal nafsunya, bagaimana mungkin ia mengenal Penciptanya?”
Dari sini generasi tabi’in memahami bahaya kebodohan terhadap hakikat nafsu dan pentingnya mengenal hakikatnya. Sebab, mengenal hawa nafsu adalah langkah penting yang harus ditempuh sebagai sarana untuk memperbaikinya. Sebagaimana dikatakan Wahib bin Al-Wird, “Di antara penyebab lurusnya nafsuku adalah karena aku mengetahui kerusakannya. Cukuplah bagi seorang mukmin untuk dikatakan jelek manakala mengetahui kerusakan, tapi tidak mau memperbaikinya.”
Nafsu itu mempunyai kecenderungan, ketamakan, dan tuntutan. Sesuai sunnatullah dalam penciptaan, nafsu itu tidak akan lurus dan terkendali kecuali apabila berjalan di atas jalan yang telah ditetapkan oleh Zat Yang Mengetahui rahasia nafsu ini. Tujuan seseorang mengenal nafsunya ialah agar sadar akan kelemahan dan kebodohan dirinya, dan merasa butuh terhadap apa yang bisa meluruskan dan memperbaikinya sehingga yakin bahwa dia sangat butuh kepada Rabbnya. Selain itu, dengan mengenal hawa nafsu dan hakikatnya yang cenderung kepada kemaksiatan, suka popularitas, melampaui batas, dan berlebihan, maka orang akan mengetahui kalau nafsunya dibiarkan ia tidak akan mau mengerjakan ketaatan apa pun dan tidak akan meninggalkan kemaksiatan.
“Kalau seseorang mengetahui apa yang di sukai nafsu, dan nampak apa yang tersembunyi darinya, kemudian tidak menuruti apa yang dicintai nafsu kalau menyimpang dan tidak memalingkan daripadanya apa yang dibenci kalau benar, maka sesungguhnya ia telah berhasil menguasainya setelah sebelumnya dikuasai dan mengalahkannya setelah sebelumnya dikalahkan.”
Tujuan lain dari mengenal hakikat nafsu adalah mengetahui apa yang dikejar nafsu agar terpenuhi keinginan dan syahwatnya, dan mengetahui kebodohan nafsunya, dan bahwa ia (nafsu) selalu menyuruh orang berbuat jelek. Apabila dilepas kendalinya dan orang berbaik sangka kepadanya maka itulah kebinasaan baginya.
Imam Abu Hamid Al-Ghazali memberi wejangan, “Ketahuilah bahwa musuh yang paling berbahaya bagimu adalah nafsumu yang selalu ada bersamamu. Sebab, ia tercipta dengan tabiat selalu memerintahkan kepada yang jelek, cenderung kepada kemungkaran, dan lari dari kebaikan. Oleh karena itu, engkau diperintahkan untuk selalu mensucikan, meluruskan, dan mengendalikannya dengan belenggu paksaan agar beribadah kepada Rabb dan Penciptanya, mencegahnya dari syahwatnya dan menyapihnya dari kenikmatarnnya.
Apabila engkau membiarkannya maka ia akan menjadi liar tak terkendali, dan setelah itu engkau tidak akan bahagia bersamanya.”
Imam ibnu Qayyim berkata, “Ada beberapa faedah dari mengenal nafsu, di antaranya mengetahui bahwa ia bodoh dan zalim. Sedangkan kebodohan dan kezaliman hanya akan melahirkan segala yang jelek.”
Yahya bin Mu’adz berkata, “Sebuah kebahagiaan bagi seseorang apabila lawannya mau memahami, tetapi lawanku tidak mau memahami.” Beliau ditanya, “Siapakah lawan Anda?” Beliau menjawab, “Lawanku adalah natsuku. Dia tidak pernah mau memahami, dia menjual surga beserta segala kenikmatan di dalanmnya yang serba kekal dengan kenikmatan syahwat yang hanya sesaat di dunia.”
Oleh karena itu, mereka berwasiat kepada kita agar kita mengenali nafsu kita. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Apabila engkau mengenali nafsumu maka apa yang dikatakan orang tidak akan membahayakanmu.” Senada dengan itu, Sufyan bin Uyainah berkata, “Pujian tidak akan membahayakan orang yang telah mengenali nafsunya.”
Apa pun yang dikatakan orang kepadamu, itu tidak akan membahayakanmu selama engkau mengenal nafsumu. Pujian orang kepadamu hanyalah jaring perangkap yang dipasang oleh setan. Dan setiap kita lebih mengetahui kejelekan-kejelekan dirinya, yang Allah tutupi dari pandangan orang lain.
Aun bin Abdillah mengatakan, “Apabila nafsumu bermaksiat kepadamu dalam hal yang engkau benci, janganlah engkau menaatinya dalam hal yang disukai. Janganlah tertipu oleh pujian orang yang tidak mengetahui keadaan dirimu.”
Adapun doa yang selalu mereka panjatkan adalah sebagaimana yang diucapkan Yusuf bin Asbath, “Ya Allah, kenalkan aku dengan nafsuku, dan janganlah Engkau putuskan harapanku kepada-Mu dari hatiku.”
Sesungguhnya di dalam nafsu ada hal-hal yang tersembunyi dan rahasia yang tidak bisa disingkap kecuali dengan pertolongan Allah karena pengetahuan tentangnya adalah sebagaimana yang dikatakan Sahal bin At-Tusturi, “Pengetahuan tentang nafsu adalah lebih pelik dari mengenali musuh.” Artinya, kejelekannya sangat terselubung dan menipu sebagaimana musuh menyembunyikan diri dan menipu. Namun, apabila kita mau men-tazkiyah jiwa maka hal tersebut bisa tersingkap dan terang.
Intinya adalah supaya Anda memahami bahwa Anda hanya memiliki satu jiwa yang wajib dipelihara dan tidak ada peluang untuk menggantinya dengan selainnya. Abu Hafsh Al-Jazri mengatakan, “Abul Abyadh menulis surat kepada salah seorang kawannya yang berisi:
“Sungguh, engkau tidak diberi beban dari dunia kecuali hanya satu jiwa. Apabila engkau menjadikannya baik, maka tidak akan membahayakanmu orang yang merusaknya. Namun, apabila engkau merusaknya maka tidakakan berpengaruh orang yang memperbaiki kerusakannya. Ketahuilah bahwa engkau tidak akan selamat dari dunia hingga tidak peduli dengan orang dari golongan merah atau hitam yang memakannya.”
Tujuan lain dari mengetahui pendidikan mengenal hakikat nafsu dari kehidupan tabi’in adalah agar setiap dari kita mengetahui asal penciptaan manusia, yaitu dari tanah yang diinjak kemudian awal kejadiannya adalah dari air mani yang apabila ia melihatnya pasti jijik, maka dari sini wajib baginya agar tidak tertipu, sombong, dan durhaka.
Suatu ketika Mihlab bin Abi Shafrah berjalan dengan angkuh dan sombong di depan Malik bin Dinar, maka Malik berkata kepadanya, “Tidak tahukah engkau bahwa cara jalan seperti ini makruh (dibenci) kecuali ketika di depan barisan musuh?” Mihlab berkata, “Anda tidak tahu siapa saya? Maka Malik berkata, “Aku tahu betul siapa Anda.” Malik berkata, Apa yang Anda ketahui tentang saya?” Mihlab menjawab, “Bukankah Anda berasal dari air mani yang menjijikkan dan akhirnya menjadi bangkai yang busuk, dan antara keduanya selalu membawa kotoran.” Maka Mihlab berkata, “Sekarang Anda benar-benar mengetahui siapa saya.”
Bakr As-Syabli menyadarkan kita untuk pandai-pandai mengenal hakikat nafsu dengan gambaran dan cara seperti ini, “Apabila Anda ingin melihat hakikat dunia seutuhnya, maka lihatlah tempat pembuangan sampah. Itulah hakikat dunia. Apabila Anda ingin melihat hakikat diri maka ambillah segenggam tanah. Dari tanah itulah Anda diciptakan, kepadanya Anda akan dikembalikan, dan dari tanah itu pula Anda akan dibangkitkan. Apabila Anda ingin melihat siapa Anda sebenarnya maka lihatlah apa yang keluar darimu ketika masuk WC. Barang siapa yang keadaannya seperti itu maka tidak layak baginya untuk congkak atau sombong. ” Apabila Anda sombong, maka pikirlah kembai apa yang ada dalam perut Anda.
Tujuan lain dari mengenal hakikat nafsu adalah telah dijelaskan oleh Abul Faraj Ibnul Jauzi. Mari kita perhatikan apa yang beliau katakan agar Kita mengetahui kedudukan diri ini di sisi Allah, “Kalau engkau mengetahui kedudukan dirimu maka engkau tidak akan menghinakannya dengan kemaksiatan. Iblis dijauhkan dari kamu karena ia tidak mau sujud kepadamu. Maka sangat aneh, bagaimana engkau bisa berbaikan dengannya dan menjauhi Allah.”
“Seoranng mukmin tentu mengetahui kedudukan dirinya tanpa sombong, congkak, dan tertipu. Dia akan menjauhkan dirinya dari kejelekan, menjaganya dari kehinaan, mensucikannya dari hal-hal yang rendah dan tidak bermanfaat baik tersembunyi maupun terang-terangan. Ia juga menjauhkan dirinya dari tempat-tempat yang hina seperti membebaninya dengan yang tidak dimampui, atau meletakkannya pada posisi yang tidak sesuai dengan kedudukannya, sehingga dia selalu terjaga, berada dalam kemuliaan, tidak mendatangi yang rendah, tidak ridha dengan kekurangan, dan tidak puas dengan kerendahan.”
Ya Allah, kenalkan aku pada diriku dan janganlah Engkau putuskan harapanku kepada-Mu dari hatiku.
UNTUK PEMESANAN BUKU: KLIK DISINI..
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal.28-33
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































