Amal Salih
Kebaikan dan amal salih adalah di antara hal-hal yang dapat menggugurkan dosa-dosa. Di antara dalil yang menyebutkan hal ini adalah firman Allah Subahanahu wa ta’ala,
“Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatanperbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).”(QS. Hud : 114)
Disebutkan dalam hadits-hadits yang sahih bahwa hadits ini turun berkaitan dengan orang yang melakukan sebuah maksiat. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,
“Aku berada di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian seorang laki-laki mendatangi beliau dan berujar: ‘Ya Rasulullah, Saya telah melanggar hukum had, maka tegakkanlah atasku!’ Nabi tidak menanyainya. Ketika tiba waktu shalat pun, ia pun ikut shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Selesai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendirikan shalat, laki-laki itu menemuinya dan berkata; ‘Ya Rasulullah, aku telah melanggar had, maka tegakkanlah atasku sesuai kitabullah.’ Nabi bersabda: “Bukankah engkau shalat bersama kami?” ‘Benar’ Jawabnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah telah mengampuni dosamu -atau dengan redaksimengampuni hukuman had (yang menimpa) mu.” (HR. Bukhari 8/167 no. 6823)
Dalam riwayat yang lain disebutkan oleh Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,
“Ada seorang lelaki pernah mencium seorang wanita, lalu dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengabarkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka turunlah ayat: “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatanperbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS Hud; 114). Abdullah berkata; laki-laki itu bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah ayat ini hanya khusus untukku?” Beliau menjawab: “Ayat tersebut adalah untuk orang-orang yang melakukannya dari ummatku.” (HR. Bukhari 6/75 no. 4687)
Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa bukan berarti seseorang dengan gampangnya seseorang melakukan maksiat, kemudian dia shalat maka berguguranlah dosanya. Akan tetapi pemahaman yang benar akan hal ini adalah tatkala seseorang melakukan dosa, menimbulkan rasa takut di dalam hatinya, dan dia bertaubat, inabah kepada Allah, sehingga tatkala dia telah bertaubat dan melakukan kebaikan, maka Allah hapus dosa-dosanya karena amal ibadahnya.
Adapun dalil-dalil dari hadits yang menjelaskan bahwa amal kebaikan dapat mengugurkan dosa di antaranya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan Ramadlan ke Ramadlan berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya apabila dia menjauhi dosa besar.” (HR. Muslim 1/209 no. 233)
“Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari 1/16 no. 38)
“Umrah demi ‘umrah berikutnya menjadi penghapus dosa antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Bukhari 3/2 no. 1773)
“Barangsiapa melaksanakan haji karena Allah lalu dia tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat fasik maka dia kembali seperti hari saat dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari 2/133 no. 1521)
“Fitnahnya seseorang di dalam keluarganya, hartanya, anaknya dan tetangganya, bisa dihapus (diampuni) dengan shalat, puasa, sedekah, amar ma’ruf dan nahi munkar.”(HR. Tirmidzi 4/524 no. 2258)
“Barangsiapa membebaskan budak muslim, Allah membebaskan setiap anggota tubuhnya karena anggota tubuh yang dibebaskannya dari neraka, hingga Allah membebaskan kemaluannya dari neraka, karena kemaluannya.” (HR. Bukhari 8/146 no. 6715)
“Kedengkian akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar, dan sedekah akan menghapus kesalahan sebagaimana air dapat mematikan api. Shalat adalah cahaya seorang mukmin, sedangkan puasa adalah perisai dari api neraka.” (HR. Ibnu Majah 2/1408 no. 4210)
Inilah di antara dalil-dalil dalam hadits yang menunjukkan bahwa hendaknya seseorang memiliki amal salih yang banyak. Sampai-sampai jika seseorang memiliki amal salih yang banyak, maka Allah tidak akan menganggap dosa-dosanya. Dalil akan hal ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang taharah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika air itu mencapai dua qullah (tempayan besar) maka ia tidak akan najis karena sesuatu.” (HR. Ibnu Majah 1/172 no. 517)
Dari hadits ini para ulama mengatakan bahwa jika ada najis kecil jatuh pada air yang banyak, maka najis itu itdak dianggap. Maka demikian pula dengan sebuah dosa. Jika seseorang memiliki amalan yang banyak, maka dosa-dosanya yang sedikit tidak akang dianggap. Karena amal diumpamakan seperti air yang bersih, sedangkan dosa-dosa itu seperti najis. Sehingga Allah tidak akan menganggap dosa seseorang ketika dia memiliki amalan yang banyak.
Dalil yang menguatkan akan hal ini adalah kisah Hathib bin Abi Bathla’ah, salah seorang sahabat yang ikut dalam perang badr. Perang badr yang terjadi pada tahun 2H dia ikut sebagai anggota perang. Dia bukanlah panglima atau orang yang berpengaruh pada perang tersebut. Sehingga ketika kita melihat sejarah, nama beliau tidak disebutkan dalam kisah perang badr. Seiring berjalannya waktu, ppada tahun 8H dia melakukan dosa. Dosa yang dia lakukan adalah dia mengirim surat kepada kerabatnya di Makkah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamakan memerangi mereka dalam perang fathu makkah. Dan sikap tersebut adalah sikap yang berbahaya karena musuh akan mengetahui rencana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga ditakutkan orang-orang Makkah akkan melakukan persiapan, sedangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menginginkan peperangan secara tiba-tiba. Maka tatkala Hathib mengutus seseorang wanita untuk membawa surat tersebut, Allah memberikan wahyu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan kejadian ini. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammengutus Ali bin Abi Thalib untuk mengejar utusan tersebut. Ali bin Abi Thalib menceritakan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menugaskan saya, Zubair, dan Miqdad. Sebelum berangkat, Rasulullah berkata: ‘Berangkatlah ke taman Khakh dan di sana ada seorang wanita yang membawa surat. Lalu, rebutlah surat tersebut darinya!’ Kemudian kami berangkat dengan mengendarai kuda dan di sana kami menjumpai seorang wanita. Lalu kami berkata kepadanya;
‘Keluarkanlah surat yang kamu bawa itu! ‘ Wanita itu menjawab; ‘Aku tidak membawa surat.’ Kami berkata kepadanya sambil memberi ultimatum; ‘Kamu keluarkan surat tersebut atau kami akan menelanjangimu dengan paksa.’ Maka ia keluarkan surat itu dari balik sanggul rambutnya. Lalu kami bawa surat tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ternyata di dalamnya tertulis; ‘Dari Hathib bin Abu Balta’ah untuk kaum kafir Quraisyy Makkah tentang beberapa urusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Rasulullah bertanya; ‘Hai Hathib, ada apa ini? ‘ Hathib menjawab; ‘Ya Rasulullah, janganlah engkau tergesa-gesa marah kepada saya! Sebenarnya saya dulu pernah akrab dengan kaum kafir Quraisyy Makkah (Kata Abu Sufyan; ‘Hathib adalah sekutu kaum kafir Quraisyy, tetapi dia sendiri bukan orang Quraisyy). Saya juga dulu pernah turut serta berhijrah bersama engkau meninggalkan keluarga di kota Makkah yang mereka dipelihara oleh kerabat mereka. Ketika kerabat mereka sudah tidak ada lagi, maka saya ingin ada jaminan dari mereka untuk melindungi keluarga saya. Tentunya, saya melakukan hal ini bukan karena kafir ataupun murtad dari agama saya. Karena, bagaimana pun juga saya tidak rela menjadi kafir setelah masuk Islam.’ Mendengar penjelasan Iangsung dari Hathib, Rasulullah pun bersabda: ‘Kamu benar hai Hathib.’ Tiba-tiba Umar bin Khaththab berkata; ‘Ya Rasulullah, izinkanlah saya untuk memenggal leher orang munafik ini!’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: ‘Hai Umar, tahukah kamu bahwasanya Hathib turut juga dalam perang Badar. Tidakkah engkau mengetahui sesungguhnya Allah telah memberikan keringanan bagi orang-orang yang turut dalam perang Badar dan berfirman: ‘Silahkanlah kalian berbuat sesuka kalian, sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian!’ Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat yang berbunyi: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia’. (QS. AlMumtahanah : 1).” (HR. Muslim 4/1941 no. 2494 dan HR. Bukhari 5/77 no. 3983, dengan lafadz Imam Muslim)
Lihatlah bagaimana Hathib yang Allah ampunkan kesalahannya karena telah melakukan amal salih yang luar biasa yaitu ikut dalam perang badr. Sampaisampai kita katakan kalau sekiranya pahala Hathib yang ikut perang badr seperti kumpulan air, dan jika dosanya seperti kotoran yang dimasukkan ke dalam air tersebut, maka kotoran tersebut jadi hilang dan melebur di dalam air.
Oleh karena itu hendaknya seseorang melakukan amal salih sebanyak-banyaknya yang dia mampu. Perbanyaklah shalat, karena akan ada waktu di mana seseorang akan sudah sulit untuk shalat karena tidak memiliki kekuatan. Perbanyaklah baca Alquran, karena akkan ada waktu di mana seseorang akan sulit untuk membaca. Perbanyaklah sedekah, sebelum harta yang dimiliki sudah tidak cukup bahkan untuk diri sendiri. Milikilah amalan-amalan yang banyak dan yang luar biasa, karena dengan begitu dosa-dosa kita tidak akan dianggap oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,
“Tidak akan masuk neraka orang yang ikut berbaiat (kepadaku) di bawah pohon.” (HR. Abu Daud 4/213no. 4653)
Peristiwa ini terjadi tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak umrah pada tahun 6H. Beliau berangkat bersama kurang lebih 1400 atau 1600 orang yang membaiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan siap membela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai titik darah penghabisan. Sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan perkataan di atas kepada mereka semua. Ini menunjukkan bahwa amalan mereka sangatlah luar biasa, sehingga jika mereka memiliki dosa-dosa, maka Allah tidak akan menganggapnya dan mereka tidak akan dimasukkan ke dalam neraka.Disebutkan juga dalam hadits-hadits bahwa shalat sunnah itu akan menutupi kekurangan-kekurang pada shalat fardhu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Pertama yang akan dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya, jika ia menyempurnakannya maka akan ditulis baginya pahala nafilah. Jika tidak menyempurnakannya, Allah Subhaanahu kepada malaikatNya, “Lihatlah, apakah kalian mendapati ia mempunyai ibadah thathawu’? dengannya sempurnakanlah ibadah wajibnya yang kurang, ” kemudian semua amalan akan diperlakukan seperti itu.” (HR. Ibnu Majah 1/458 no. 1426)
Maka tatkala seseorang melakukan dosa, hendaknya dia segera melakukan kebaikan. Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Bertakwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya, serta pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi 4/355 no. 1987)
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah







































































