Dalil ayat yang kedua yang menjelaskan tentang bahayanya fitnah wanita adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara lakilaki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau puteraputera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur : 30-31)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa ayat di atas dibuka dengan perintah menundukkan pandangan dan di akhir ayat diperintahkan untuk bertaubat. Beliau mengatakan bahwa hal tersebut merupakan dalil bahwa seseorang harus bertaubat dari dosa pandangan yang dia umbar. Karena mengumbar pandangan itu adalah dosa, sehingga Allah memerintahkan kita untuk bertaubat darinya. Oleh karenanya Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman,
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir : 19)
Namun kenyataan sekarang ini, yang ada adalah karena terlalu banyaknya aurat wanita yang terumbar, sehingga padangan kita merasa biasa dan kitapun tidak beristighfar karenanya. Hal ini dikarenakan sudah terlalu sering mata kita terjerumus dalam dosa mengumbar pandangan tersebut.
Dan memang saat ini sudah sangat susah untuk seseorang menundukkan pandangan. Bagaimana bisa seseorang terhindar dari fitnah sedangkan di gawainya dan sosial medianya terdapat bergitu banyak fitnah. Oleh karenanya ketika ada orang yang membicarakan tentang karamah para wali, saya sering mengatakan bahwa karamah itu adalah ketika ada anak muda di zaman sekarang yang mampu menundukkan pandangannya, shalat berjamaah lima waktu di masjid. Itulah karamah yang sesungguhnya. Kita tidak butuh seorang wali yang bisa terbang atau bisa berjalan di atas air. Karena hal tersebut tidak disyaratkan seseroang untuk bisa masuk surga. Oleh karenanya demikianlah bahayanya fitnah wanita sehingga Allah memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa asal dari fitnah kemaluan adalah karena fitnah pandangan. Beliau berkata,
“Menjaga pandangan adalah asal dari pokok menjaga kemaluan. Barangsiapa yang mengumbar pandangannya akan mengantarkan dirinya kepada sumber kehancuran. Dan pandangan adalah pokok dari segala bencana yang menimpa seorang manusia. Karena pandangan akan melahirkan getaran hati, kemudian getaran hati menjadi angan-angan, kemudian angan-angan diikuti oleh syahwat, kemudian syahwat makin menguat dan akhirnya menjadi tekad yang bulat, hingga terjadilah perbuatan itu secara pasti, selama tidak ada penghalang yang menghalanginya. Dalam hal ini ada yang berkata, ‘Kesabaran dalam menundukkan pandangan masih lebih ringan daripada kesabaran dalam menanggung akibatnya’.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ 1/348-350)
Oleh karenanya pada dasarnya menjaga pandangan itu sangat mudah. Tatkala seseorang melihat perkara yang haram, maka segera beristighfar dan menundukkan pandangannya. Maka demikian akan terjaga seseorang dari dosa mengumbar pandangan. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib,
“Wahai Ali, janganlah engkau menigkuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Sesungguhnya pandangan pertama itu bagimu (halal) dan bukan bagimu pandangan berikutnya (haram).” (HR. AbuDaud 2/246 no. 2419)
Oleh karenanya tatkala seseorang berhasil menundukkan pandangannya dari pandangan pertama, maka mudah bagi seseorang untuk tidak terjatuh dalam dosa menugmbar pandangan tersebut. Akan tetapi jika seseorang membiarkan dirinya jatuh pada pandangan-pandangan berikutnya, maka pasti akan terbetik dalam hatinya, kemudian jadi pikiran, kemudian jadi syhawat dan seterusnya hingga akhirnya terjadilah angan-angan sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah. Oleh karenanya ketika Allah memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan, Allah memerintahkan kita juga untuk bertaubat atas dosa pandangan yang kita umbar. Dan Allah Subhanahu Wata’ala tahu tentang pengkhianatan lirikan mata kita sebagaimana dalam firman Allah dalam surah Ghafir yang telah kita sebutkan, dan juga para ulama mengatakan bahwa ِpenggunaan kata “khobirun” dalam penggalan ayat ” innallaha khobirun bimaa yasna’uun” adalah untuk mengungkapkan perkara-perkara pelik yang terkadang tidak diketahui oleh orang lain. Dan memang benar bahwa tatkala seseorang mengumbar pandangannya, terkadang tidak diketahui oleh temannya atau orang lain, akan tetapi Allah mengetahui setiap apa yang dia pandang. Oleh karenanya hendaknya kita meminta pertolongan kepada Allah agar dimudahkan untuk menundukkan pandangan di zaman yang sulit seperti sekarang ini.
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah















































































