Secara fitrah, manusia bergembira jika menerima pemberian atau hadiah. Apakan itu pemberian berupa materi maupurn non materi. Apalagi jika pemberian itu tanpa pamrih apapun dari pemberinya. Sejak awal, Allah Subhanahu Wata’ala telah menjelaskan sifat manusia ini. “Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakan aku” (QS. Al Fajr: 15).
Ada dua hal yang harus dipahami setiap insan ketika mendapat kenikmatan atau kesenangan. Yaitu respon kita terhadap sang pemberi dan pemeliharaan kita terhadap zat pemberian itu.
Pertama, seorang mukmin selalu bersyukur atas segala pemberian Tuhan, kecil maupun besar bentuk anugerah yang ia terima. Itulah respon yang baik. Jika mendapat kemalangan, ia merespon dengan kesabaran. Itu pun respon yang baik pula. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan keadaan mukmin itu. Jika mendapat kebaikan, la bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapat musibah, ia bersabar. Itu juga baik baginya.
Sikap syukur ini ‘mengundang’ pemberian berikutnya. Allah Subhanahu Wata’ala telah berjanji, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. lbrahim: 7) Dan syukur ini bukti dari keimanan seseorang. Karena orang yang tidak bersyukur atau berterima kasih disebut kufur. “..Tetapi jika mengingkart (nikmatku), maka pasti azabku sangat berat. (Q5. lbrahim: 7).
Kedua, pemeliharaan kita terhadap zat yang kita terima sebagai pemberian. Bentuk dari syukur antara lain dengan merawat pemberian itu dengan baik. Karena setiap nikmat yang kita terima selalu ada ujian yang mengiringinya. Misalnya Jika kita memiliki mobil, maka kita harus merawat mobil itu agar awet. Sebaliknya, jika enggan merawat atau bahkan menyia-nyiakannya, pasti mobil itu cepat rusak. Jika demikian, tentu kita tak akan bisa memanfaatkannya lagi.
Semakin rajin kita merawat nikmat itu, makin lama manfaatnya bagi kita. Itulah salah satu (diantara berjuta) makna syukur. Allah akan memperpanjang atau dengan kata lain menambah kenikmatan pemberian itu. Sehingga kita benar-benar mampu memanfaatkannya lebih lama.
Orang mukmin tidak membedakan pemberian itu besar atau kecil. Seorang mukmin akan memperhatikan siapa pemilik sesungguhnya dari nikmat itu. Meski seringkali kita menerima pemberian dari orang lain, namun hakikatnya, seluruh alam raya dan seisinya bahkan diri kita ini adalah pemberian Allah Subhanahu Wata’ala.
Orang lain adalah pemilik yang nisbi. Pemilik mutlak adalah Allah Ta’ala. Sebagai adab yang baik, wajib bagi kita untuk berterima kasih kepada orang lain yang memberi kita. Namun, adab seorang hamba adalah mengakui semua ini hanyalah pemberian Nya atas kuasaNya semata.
Kita harus memahami bahwa semua ini adalah titipan Allah, Sang Khaliq. Maka sikap sabarlah hal terbaik, jika Allah mengambilnya kembali. Semua ini dari Allah dan akan kembali dari Allah. Sebelum Allah mengambilnya kembali, maka kita harus paham betul untuk apa Allah menitipkan segala anugerahNya kepada kita. Seperti apa pemanfaatannya selama nikmat itu berada dalam genggaman kita.
Cara pemanfaatan telah dicontohkan manusia teladan, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka apakah pemberian itu dalam rangka ketaatan kepadaNya semata atau hanya untuk kesenangan duniawi saja. Pepatah Arab menyatakan (artinya) yang halal akan di-hisab dan yang haram akan diazab.
“Dari lbnu Abbas Radhiallahu’anhuma, ia berkata: Ketika itu hujan turun di masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, lalu Nabi bersabda, ‘Atas hujan ini, ada manusia yang bersyukur dan ada yang kufur nikmat. Orang yang bersyukur berkata, Tnilah rahmat Allah. Orang yang kufur nikmat berkata, Oh pantas saja tadi ada tanda begini dan begitu” (HR. Muslim.
Syukur dalam agama, adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Ibnul Qayyim, “Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah.” Lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yaitu enggan menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang ia dapatkan adalah dari Allah Subhanahu Wata’ala. Semisal Qarun yang berkata, “Sungguh harta dan kenikmatan yang aku miliki itu aku dapatkan dari ilmu yang aku miliki” (QS. Al-Qashash: 28).
Orang yang bersyukur senantiasa menisbatkan setiap nikmat yang didapatnya kepada Allah Ta’ala. la senantiasa menyadari bahwa hanya atas takdir dan rahmat Allah sematalah nikmat itu bisa diperoleh. Sedangkan orang yang kufur nikmat senantiasa lupa akan hal ini.
Sungguh indah firman Allah, “Barangsiapa bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar maka sesunggunya Allah Maha Kaya dan Maha Terpujl (QS. Luqman: 12).
Maka, bersyukur adalah menjalankan perintah Allah. Dan enggan bersyukur serta mengingkari nikmat Allah adalah bentuk pembangkangan terhadap perintah Allah.
Buah manis dari syukur:
-Syukur adalah sifat orang beriman. Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mukmin sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” (HR. Muslim)
-Merupakan sebab datangnya ridha Allah. Allah Ta’ala berfirman, “Jika kalian ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada hambaNya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian.” (QS. Az Zumar: 7)
-Merupakan sebab selamatnya seseorang dari azab Allah. Allah Ta’ala berfirman, “Tidaklah Allah akan mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah itu Syakir lagi Alim” (QS. An Nisa: 147)
-Merupakan sebab ditambahnya nikmat. Allah Ta’ala berfirman, “Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu mengumumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. lbrahim: 7)
-Ganjaran di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh orang-orang yang bersyukur akan kami beri ganjaran” (QS. Ali-Imran: 145)
*************
📚Sumber : Majalah Yatim Mandiri, Edisi Maret 2017
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah














































































