Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa sesungguhnya dosa adalah sumber dari segala malapetaka di dunia maupun di akhirat. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura : 30)
“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.” (QS. An-Nisa : 79)
Maka ketahuilah bahwa karena dosa pulalah yang menyebabkan Nabi Adam ‘alaihissalam dikeluarkan dari surga. Jika saja Nabi Adam ‘alaihissalam tidak melakukan perbuatan dosa, maka tentu Nabi Adam ‘alaihissalam tidak akan keluar dari surga. Akan tetapi Allah mentakdirkan dengan hikmah yang Allah kehendaki, sehingga Nabi Adam ‘alaihissalam dan Hawa melakukan dosa dan dikeluarkan dari surga.
Kemudian juga karena dosalah yang menyebabkan seseorang terhalang untuk masuk surga dikemudian hari. Dan seseorang tidak akan bisa masuk surga kecuali dosa-dosanya telah dibersihkan terlebih dahulu. Sehingga tatkala ditimbang seluruh amalannya, dan amal buruknya (dosanya) jauh lebih banyak daripada kebaikannya, maka tentu dia akan masuk ke dalam neraka. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qari’ah : 8-11)
Seorang muslim yang bertauhid namun melakukan perbuatan dosa, kelak dia akan masuk surga selama tidak melakukan kesyirikan atau kafir. Akan tetapi dia harus mampir terlebih dahulu di neraka jahannam sampai waktu yang telah Allah Subhanahu wa ta ‘ala tentukan untuk membersihkan dosa-dosanya. Jika dosa-dosanya telah bersih, maka barulah dia dikeluarkan dari neraka dan di masukkan ke dalam surga. Semua itu terjadi karena surga tidak akan dimasuki oleh seseorang yang masih memiliki dosa.
Oleh karenanya penting bagi kita untuk mengenal perkara-perkara apa yang bisa menggugurkan dosa-dosa kita. Sehingga kelak kita bisa bertemu dengan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam keadaan dosa-dosa telah berguguran, dan Allah pun memasukkan kita ke dalam surga secara langsung. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memasukkan kita semua dalam surgaNya.
Pembahasan ini sebenarnya berasa dari tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ al-Fatawaa pada jilid ke-VII. Dalam tulisan tersebut, beliau hendak membantah pemahaman menyimpang yang menyangka bahwasanya dosadosa hanya bisa gugur dengan taubat. Sehingga beliau ingin menjelaskan bahwasanya ada sebabsebab lain yang bisa membuat dosa-dosa seseorang berguguran selain dari pada taubat. Sehingga beliau menyebutkan bahwa sebab-sebab gugurnya dosa ada sepuluh. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
“Telah ditunjukkan oleh Alquran dan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa hukuman terhadap dosa bisa hilang dari seorang hamba dengan sekitar sepuluh sebab.” (Majmu’ Fatawa 7/487)
Di antara sebab-sebab tersebut adalah:
Taubat
Taubat adalah perkara yang disepakati oleh kaum muslimin dapat mengugurkan dosa. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang’.” (QS. Az-Zumar : 53)
Tidak mungkin bagi seseorang menjalani kehidupannya tanpa dosa. Pasti seseorang pernah terjerumus dalam perbuatan dosa. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengatakan,
“Beristiqamahlah kalian, dan sekali-kali kalian tidak akan dapat menghitungnya.” (Ibnu Majah 1/102 no. 278)
Maksudnya adalah bagaimanapun seseorang beristiqamah, pasti tidak akan mampu dan tetap akan melakukan dosa. Bagaimanapun seseorang berusaha untuk bersikap lurus, ketahuilah bahwasesungguhnya dirinya bukanlah malaikat, bukan para Nabi, sehingga pasti akan melakukan dosa. Adapun banyak atau sedikitnya tergantung masing-masing orang. Terlebih lagi bagi kita yang hidup di zaman sekarang, siapakah di antara kita yang selamat dari dosa? Dosa penglihatan, dosa pendengaran, dan dosa perkataan adalah dosa-dosa yang mungkin setiap hari kita lakukan. Oleh karenanya saya katakan bahwa jika ada seorang pemuda yang bisa selamat dari dosa pandangan di zaman sekarang, maka dia adalah wali di antara wali-wali Allah. Karena di zaman ini, seseorang sangat susah untuk terhindar dari dosa-dosa tersebut.
Oleh karenanya tatkala seseorang terjerumus ke dalam suatu perbuatan dosa, hendkanya dia bertaubat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan juga hendaknya seseorang berhusnudzan kepada Allah bahwa pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Ingatlah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan dalam haditsnya,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.”(HR. Bukhari no. 5999)
Dari hadits ini menunjukkan bahwa ketika wanita tersebut telah menemukan anaknya yang hilang, maka saat itulah puncak kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Dan tidak ada kasih sayang di muka bumi ini yang lebih besar daripada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Maka dari itu hadits ini menjelaskan kepada kita bahwasanya kasih sayang Allah itu lebih besar kepada hambaNya daripada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Oleh karenanya tatkala seseorang melakukan dosa, segeralah kembali kepada Allah.
Kalau sekiranya seorang anak melakukan kesalahan, pasti orang tua marah, memukulnya, dan bahkan mungkin sampai mengusirnya. Akan tetapi pasti ada rasa sedih dalam benak orang tua setelah melakukan itu, dan dia ingin agar anaknya kembali. Sehingga ketika sang anak kembali untuk meminta maaf, pasti kita orang tuanya akan menerima permintaan maaf anaknya. Maka demikian pula Allah Subahanhu wa ta’ala terhadap hambanya. Tatkala seseorang hamba melakukan dosa, kemudian Allah memberikan teguran dengan sebuah musibah, akan tetapi ketika dia bertaubat dan kembali kepada Allah, maka Allah pasti akan mengampuni dosa-dosanya. Karena Allah Subahanhu wa ta’ala lebih besar kasih sayangnya kepada hambaNya daripada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Sehingga tatkala seseorang bermuamalah dengan Allah, dia harus senantiasa husnudzan kepada Allah. Kata Allah Subahanhu wa ta’ala dalam hadits qudsi,
“Sesungguhnya Aku sesuai dengan prasangkaan hamba-Ku terhadapa-Ku, jika ia berprasangka baik maka ia akan mendapatkannya, dan jika ia berprasangka buruk maka ia akan mendapatkannya.'” (HR. Ahmad 8715)
Maka tatkala seseorang berbuat dosa, bersegaralah kembali dan bertaubat kepada Allah. Jika terlambat, syaithan akan datang menggoda dengan bisakan keragua-raguan agar seseorang batal untuk bertaubat kepada Allah. Maka jika telah datang bisikan-bisakan tersebut, hendaklah kita menepis bisikan tersebut dan tetap kembali bertaubat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Adapun jika kita mengkhawatirkan akan melakukan dosa yang sama pada waktu yang akan datang, maka tepislah was-was tersebut, karena taubat itu untuk dosa yang telah dilakukan. Oleh karenanya kita dapati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling sering beristighfar kepada Allah Subahanhu wa ta’ala.
Dan orang yang paling berbahagia kelak adalah orang yang diberi taufiq oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk bertaubat sebelum meninggal dunia. Bisa jadi seseorang melakukan begitu banyak dosa, akan tetapi sebelum meninggal dunia ia bertaubat, maka seluruh dosa-dosanya akan digugurkan. Lihatlah kisah para penyihir Fir’aun, mereka berprofesi sebagai penyihir dan melakukan kesyirikan selama bertahun-tahun lamanya. Ketika berduel dengan Nabi Musa ‘alaihissalam, mereka kalah dan merekapun sadar. Allah Subahanhu wa ta’ala berfirman,
“Lalu para pesihir itu merunduk bersujud, seraya berkata, “Kami telah percaya kepada Tuhannya Harun dan Musa.”(QS. Taha : 70)
Ketika mereka telah beriman kepada Allah dan Nabi Musa ‘alaihissalam, maka marahlah Fir’aun dan membunuh seluruh penyihir-penyihir yang telah beriman tersebut. Sehingga karena keimanan mereka kepada Allah walaupun hanya sebentar, tetapi Allah memberikan balasan surga bagi mereka.
Kemudian lihatlah kisah yang menceritakan tentang kisah taubatnya seseorang yang membunuh sembilan puluh sembilan orang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan,
“Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, “Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Rahib pun menjawabnya, “Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.” Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya. Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang ‘alim. Lantas ia bertanya pada ‘alim tersebut, “Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah taubatnya masih diterima?” Orang alim itu pun menjawab, “Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu(yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.”Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata, “Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah”. Namun malaikat adzab berkata, “Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun”. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, “Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya,ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat.” (HR. Muslim 4/2118 no. 2766)
Lihatlah bagaimana seseorang yang belum melakukan kebaikan sama sekali, akan tetapi karena taufiq Allah Subahanhu wa ta’ala yang menunjukkan kepadanya jalan untuk bertaubtat, sehingga Allah Subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa-dosanya. Oleh karena itu jangan sampai kita putus dari bertaubat kepada Allah. Di manapun kita berada hendaknya kita selalu bertaubat kepada Allah dengan banyak berdoa.Bukankah Allah telah berfirman,
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertaubat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah : 222)
Dan di antara nama-nama Allah Subahanahu wa ta’ala adalah التواب, yaitu Dzat yang Maha Penerima Taubat seorang hamba. Dan terlalu banyak dalil yang menunjukkan bahwa Allah Subahanhu wa ta’ala adalah Maha Penerima Taubat. Di antaranya firman Allah Subahanhu wa ta’ala,
“Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat hamba-hamba-Nya dan menerima zakat(nya), dan bahwa Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang?”(QS. At-Taubah : 104)
“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Asy-Syura : 25)
Dan tentunya ayat-ayat yang seperti ini sangatlah banyak. Maka dari itu sering-seringlah bertaubat, karena tidak ada di antara kita yang tahu kapan dia kembali kepada Allah. Betapa banyak orang yang menunda-nunda taubatnya, ternyata hidupnya tidak sampai pada waktu yang dia kehendaki.
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja Lc MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah










































































