Sandang, pangan dan papan adalah kebutuhan pokok (primer) manusia. Begitulah pelajaran yang pernah kita terima ketika sekolah. Belakangan, kesehatan dan pendidikan juga dimasukkan dalam kebutuhan primer. Pelajaran ini benar, hanya saja perlu disempurnakan lagi. Mengingat manusia itu makhluk jasmani dan rohani.
Kebutuhan primer yang disebutkan di atas didominasi kebutuhan jasmani. Sedangkan kebutuhan rohani baru diwakili oleh aspek pendidikan.
Menjelang Idul Fitri, perhatian masyarakat kepada kebutuhan primer ini meningkat. Khususnya sandang dan pangan. Mall penuh dengan para pemburu pakaian baru. Pasar juga sesak dengan para pembeli bahan
makanan menyambut hari raya. Dunia maya tak kalah heboh. Pedagang online tak bosan memposting dagangannya. Paket kue lebaran, camilan, manisan, dan aneka makanan lainnya.
Tak ketinggalan pakaian baru, mulai dari kaos, kain sarung, baju koko, gamis, jilbab dan sebagainya. Bahkan kadang mereka sudah “mencuri” start, promosi barang sebelum Ramadhan. Makanya, ketika tiga hari medsos diblokir, para onliner pun merasa dirugikan.
Membeli makanan dan pakaian baru untuk Idul Fitri itu mubah, tidak sunnah apalagi wajib. Yang pentingmakanannya halal dan pakaiannya menutup aurat. Bagi yang punya uang, silakan beli yang agak banyak. Buat sendiri dan untuk dibagi kepada yang membutuhkan. Bagi yang uangnya kurang atau pas-pasan, tidak perlu memaksakan diri. Kalau ada silakan beli, kalau tidak 24 ya silakan nikmati saja apa adanya.
Ibrahim Ibn Adham pernah mendengarkan keluhan masyarakat tentang mahalnya harga bahan pangan. Lalu ia menjawabm “Buatlah itu jadi murah, dengan tidak membelinya”. Artinya, kita harus pandai mengukur diri, jangan sampai memaksakan hal yang di luar batas kemampuannya. Di sinilah banyak orang celaka. Untuk kesenangan sesaat, akhirnya melakukan perbuatan yang membuatnya menyesal sampai hari kiamat.
Sebenarnya, dengan tradisi Idul Fitri di negeri ini kita tidak perlu bingung. Selepas shalat Id, biasanya kita saling berkunjung dan silaturrahim. Mulai dari tetangga yang dekat sampai saudara yang jauh. Momen ini membuat kita bisa menikmati makanan yang beraneka ragam. Itulah rejeki. Sebagaimana Sabda Kanjeng Nabi.
Silaturrahim itu menambah berkah umur dan rejeki. Karena ada yang diberi kemampuan membeli, tapi tidak untuk menikmati. Sebaliknya ada yang tidak mampu membeli, tapi malah banyak menikmati. Ada yang mampu membeli daging, tapi takut darah tinggi. Ada yang mampu membeli aneka kue yang lezat, tapi takut diabetes.
Akhirnya, mereka hanya bisa melihat, tanpabisa merasakan. Sedangkan yang tidak mampu beli, kadang bisa menikmati lebih dari yang membeli. Pakaian baru atau tidak juga bukan masalah.
Silaturrahim di hari raya tidak batal hanya karena tidak pakai baju baru. Sependek pengetahuan saya, saat Idul Fitri, dianjurkan memakai pakaian yang paling bagus, bukan yang baru. Sebab kalau harus yang baru, maka harus beli tiap tahun. Ini bisa memberatkan sebagian orang. Pakaian lama yang menutup aurat, lebih baik daripada pakaian baru yang membuka aurat.
Karena fungsi pakaian itu untuk menutup aurat. Sayangnya, ini banyak tidak disadari oleh sebagian kaum Muslimin, khususnya kaum hawa. Sehingga, ketika mereka berangkat shalat Idul Fitri, auratnya masih terbuka.
Padahal shalat Idul Fitri hukumnya Sunnah, sedangkan menutup aurat hukumnya wajib. Kembali ke masalah kebutuhan primer. Sebagaimana
jasmani, rohani juga memiliki kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Jika badan kita butuh makanan, maka rohani kita juga butuh makanan. Hanya saja, rohani kita tidak butuh ketupat sayur, semur daging atau kue nastar.
Santapan rohani kita adalah ibadah, dzikir, nasehat, ilmu, hikmah dan sebagainya. Begitu juga pakaian. Rohani kita tidak butuh celana panjang, kemeja, gamis, kaos ataupun jaket. Yang dibutuhkan oleh rohani kita adalah pakaian takwa (libâs al-taqwâ). Inilah sebaik-baikpakaian sebagaimana firman Allah dalam QS al-A’raf: 26.
Menjelang Idul Fitri, masih ada kesempatan untuk memberi makanan dan pakaian rohani kita. Ibarat pertandingan sepakbola, ini seperti babak final bahkan masuk injury time. Perjuangan harus ditingkatkan agar kita bisa mencetak gol.
Sebagaimana yang kita tahu, gol dari ibadah Ramadhan ini adalah menjadi manusia yang bertakwa. Kalau predikat takwa bisa kita capai, itulah Idul Fitri yang sesungguhnya. Seperti kata ulama,
“Hari itu bukan hanya untuk orang yang menyantap raya makanan enak, dan bersenang-senang dengan syahwat dan segala yang lezat. Hari raya itu bagi orang yang diterima taubatnya, dan keburukannya digantikan dengan kebaikan. Hari raya itu bukan hanya untuk orang yang berpakaian baru, hari raya itu bagi orang yang terus meningkat ketaatannya.”
Semoga kita bisa memenuhi dua kebutuhan primer rohani ini di waktu yang tersisa.
************
Bersambung, Insya Allah…
Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Ardiansyah, M.Pd.I
(Pengasuh Ponpes at-Taqwa Depok & Penulis Buku Catatan Pendidikan)
Sumber: Buku Catatan Pendidikan (Refleksi Tentang Nilai-Nilai Adab dan Budaya Ilmu dalam Islam), Penerbit (Yayasan Pendidikan Islam At-Taqwa Depok) Cetakan Pertama Februari 2020.
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)














































































