MUJAHIDDAKWAH.COM, KANADA – Presiden Federasi Sepak Bola Palestina (PFA), Jibril Rajoub, menolak untuk berjabat tangan dengan Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Israel (IFA), Basim Sheikh Suliman, dalam Kongres FIFA ke-76 di Vancouver, Kanada, pada Kamis (30/5/2026).
The Athletic melaporkan, kejadian berawal dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang mengajak keduanya untuk kembali ke atas panggung setelah berbicara selama beberapa menit.
“Pertukaran pendapat yang penuh perdebatan itu tidak menghasilkan jabat tangan antara perwakilan Israel dan Palestina, maupun foto yang menampilkan keduanya,” tulis The Athletic.
Setelah usaha untuk menengahi keduanya buntu, Infantino naik ke atas podium. Pria asal Swiss itu menyampaikan pidato yang berisikan tentang rencana menggelar turnamen U-15 dengan mengundang Palestina dan Israel.
Dalam Kongres FIFA ke-76, Jibril Rajoub mendapatkan kesempatan untuk berbicara panjang lebar terkait, dengan menyinggung FIFA yang tidak kunjung mengambil tindakan terhadap Israel.
“Pada Kongres ke-74 di Bangkok, kami meminta FIFA, sekali lagi, untuk membahas partisipasi klub-klub yang berafiliasi dengan Asosiasi Sepak Bola Israel, tetapi berlokasi di wilayah Palestina tanpa persetujuan dari Asosiasi Sepak Bola Palestina,” katanya.
Ketika diwawancara di mixed zone Kongres ke-76 FIFA, Jibril Rajoub menceritakan apa yang terjadi di atas panggung antara ia dengan Basim Sheikh Suliman dan Infantino.
“Orang yang berbicara atas nama Israel itu bahkan tidak memperhatikan penderitaan, apa yang sedang terjadi. Dia mencoba menutupi wajah buruk pemerintah Israel ini. Genosida, pembersihan etnis. Kami harus menangguhkan semua kegiatan olahraga karena pendudukan Israel, pencekikan, pembatasan, pembunuhan, penangkapan, dan sebagainya,” ucap Rajoub.
“Tolong hentikan pendanaan dan penyelenggaraan liga resmi di wilayah pendudukan. Ini adalah wilayah Palestina menurut hukum internasional, yang diakui oleh seluruh dunia termasuk Kanada. Dan federasi Israel menyelenggarakan liga resmi di sembilan klub, sembilan permukiman di wilayah pendudukan. Ini bertentangan dengan standar FIFA,” paparnya.
Sumber: The Athletic

















































































