Terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahayanya fitnah wanita, baik dalil dari Alquran maupun dalam hadits-hadit Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara dalil tentang bahayanya fitnah wanita di dalam Alquran yang pertama adalah firman Allah subhanahu wata’ala di surah Ali-‘Imran,
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apaapa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali-‘Imran : 14)
Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan beberapa hal yang bisa disukai oleh para laki-laki. Akan tetapi di antara hal-hal tersebut, yang pertama kali Allah Subhanahu wata’ala sebutkan adalah wanita sebelum yang lainnya. Hal ini dikarenakan fitnah yang paling besar di antara yang disbeutkan dalam ayat yang bisa menimpa seorang laki-laki adalah fitnah wanita.
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengomentari ayat di atas dengan berkata,
“Allah memberitahukan mengenai apa yang dijadikan indah bagi manusia (laki-laki) dalam kehidupan dunia ini, berupa berbagai ragam kenikmatan; wanita dan anak-anak. Allah memulainya dengan menyebut wanita, karena fitnah yang ditimbulkan oleh wanita itu lebih berat, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits shahih, bahwa Rasulullah bersabda: ‘Aku tidak meninggalkan suatu fitnah yang lebih bahaya bagi kaum laki-laki daripada wanita’.”
Maka dari itu saya sampaikan bahwa terkadang seorang laki-laki bisa lulus tatkala diuji dengan harta benda yang mewah atau jabatan. Akan tetapi ketika mereka diberi ujian dengan wanita yang cantik jelita, tidak sedikit yang terjatuh dalam fitnah tersebut. Oleh karenanya tatkala dibawakan hadits Nabi shallallahu ‘Alaihi wa sallam
“Ada tujuh (golongan orang beriman) yang akan mendapat naungan (perlindungan) dari Allah dibawah naunganNya (pada hari kiamat) yang ketika tidak ada naungan kecuali naunganNya. Yaitu; Pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ‘ibadah kepada Rabbnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, “aku takut kepada Allah”, seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri sendirian hingga kedua matanya basah karena menangis” (HR. Bukhari no. 1423)
Para ulama menyebutkan bahwa amalan yang dilakukan orangorang yang Allah akan berikan naungan pada hari kiamat kelak adalah amalan yang besar dan tidak mudah untuk dilakukan. Sehingga dari sini kemudian para ulama khilaf tentang siapakah di antara ketujuh orang tersebut yang paling hebat. Sebagian ulama menyebutkan bahwa yang paling hebat adalah pemimpin yang adil, karena mereka adalah orang yang sangat mudah untuk berlaku zalim terhadap bahwahan dan rakyatnya, dan mudah untuk memperkaya diri, akan tetapi dia memilih untuk adil, sehingga sebagian ulama mengatakan bahwa ujiannya sangat berat. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa yang aling hebat di antara tujuh golongan tersebut adalah laki-laki yang dirayu seorang wanita cantik dan berkedudukan, akan tetapi dia mengatakan ‘Aku takut kepada Allah’, karena seharusnya wanita dengan kriteria tersebut adalah incaran para laki-laki, dan fitnah yang dia hadapi adalah fitnah wanita. Dan kita sepakat bahwa fitnah terberat bagi laki-laki adalah fitnah wanita. Pendapat kedua ini cukup kuat, sehingga kita katakanbahwa fitnah wanita yang menimpa seorang laki-laki lebih beratdaripada fitnah yang dihadapi seorang pemimin yang adil.
Begitupula dalam hadits sahih yang menceritakan kisah terjebaknya tiga orang laki-laki dalam gua karena reruntuhanbatu besar di mulut gua, dan mereka pun bertawassul dengan amalan mereka agar bisa keluar dari gua tersebut. Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam menceritakan,
“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu gua kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan amalan baik mereka. Salah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu (di malam hari) kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku (hartaku). Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Shubuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua. Nabi bersabda, lantas orang yang lain pun berdo’a, “Ya Allah, dahulu ada puteri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang). Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (alias: berzina). Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, “Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).” Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua. Nabi bersabda, lantas orang ketiga berdo’a, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas gua yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan.” (HR. Bukhari 3/91 no. 2272)
Para ulama menyebutkan bahwa laki-laki yang berdoa dengan menyebutkan amalannya yang hampir terjatuh karena fitnah wanita adalah penyebab utama terbukanya pintu gua. Karena laki-laki tersebut mendapatkan fitnah yang paling berat yaitufitnah wanita. Adapun doa dua orang laki-laki lainnya hanya bisa membuka sedikit dari reruntuhan batu di mulut gua. Dan para ulama telah menyebutkan bahwa tatkala syahwat masih diawal-awal, seseorang masih mungkin untuk selamat. Akan tetapi ketika syhawat telah bergelora, maka sangat mungkin bagi seseorang untuk tidak bisa selamat dari godaan tersebut.Sehingga karena dia berhasil dari ujian yang paling besar tersebut (fitnah wanita), maka pintu gua terbuka lebar dan mereka bertiga bisa keluar dari gua.
Maka dari itu cukuplah bagi kita untuk mengatakan bahwa fitnah wanita adalah fitnah yang berbahaya karena Nabi shallallahu ‘Alaihi wa sallam telah bersabda,
“Aku tidak meninggalkan suatu fitnah yang lebih bahaya bagi kaum laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari 7/8 no. 5096)
Sa’id Ibnul Musayyid juga pernah berkata,
“Tidaklah syaithan berputus asa dari suatu hal, kecuali ia akan mendatangi dari sisi (fitnah) wanita.” (Shifatus Shafwah 1/346)
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah











































































