Ulama memang manusia biasa, tapi amanahnya luar biasa. Mereka adalah pelanjut estafet tugas para Nabi (Waratsat al-Anbiya’). Ini adalah amanah mulia. Oleh karena itu, pemegang amanah ini pun harus memiliki sifat-sifat mulia.
Kelayakan seseorang disebut ulama tentu ada syarat-syaratnya. Kebanyakan orang awam memandang, ulama adalah orang yang memiliki keluasan ilmu. Pandangan ini ada benarnya, tapi belum seluruhnya terpenuhi. Oleh karena itu, kita perlu merujuk pandangan ulama juga untuk menilai kelayakan seseorang sebagai ulama.
Dalam tulisan ini, saya akan merujuk pandangan Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali. Di dalam magnum opus yang ditulisnya, Ihya’ ‘Ulumiddin, al-Ghazali membahas sifat-sifat ulama. Dalam bahasa zaman now, kita bisa menyebutnya standarisasi ulama. Seperti apa sosok ulama sejati? Lalu bagaimana kita membedakan antara ulama sejati dengan ulama palsu? Berikut ini saya coba kutipkan pandangan Sang Hujjatul Islam.
Di dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali menyebut lima nama ulama sejati. Yaitu Imam al-Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Sufyan al-Tsauri. Selain lima ulama ini, tentu masih banyak lagi. Menurut al-Ghazali, mereka dikenal luas oleh umat sebagai faqih. Padahal selain faqih, mereka juga ahli ibadah (‘abid), orang zuhud (zahid), ahli ilmu akhirat, dan ulama yang ikhlas.
Singkatnya, ulama sejati menurut imam al-Ghazali tidak cukup berilmu, tapi juga beradab. Sifat-sifat yang mulia inilah yang membedakan antara ulama sejati dengan ulama dunia. Menurutnya, yang dimaksud ulama dunia adalah ulama yang ilmunya ditujukan untuk meraup kenikmatan duniawi, meraih pangkat dan kedudukan di tengah masyarakat. Merujuk perkataan al-Khalil ibn Ahmad, ulama dunia itu bukan untuk diteladani, tapi untuk diingatkan agar sadar kembali. Yang layak diteladani pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW adalah ulama sejati atau ulama akhirat.
Menurut al-Ghazali, ulama akhirat harus memiliki standar yang jelas, secara intelektual maupun adab. Secara singkat, saya kutipkan standarisasi ulama akhirat menurut al-Ghazali sebagai berikut:
1. Tidak mencari dunia dengan ilmunya.
2. Perbuatannya sesuai dengan perkataan
3. Sangat perhatian untuk mendapat ilmu yang bermanfaat.
4. Tidak suka hidup bermewah-mewahan.
5. Menjaga jarak dari penguasa.
6. Tidak gegabah dalam berfatwa
7. Sangat memperhatikan ilmu batin dan pengawasan hati.
8. Senantiasa menjaga dan memperkuat keyakinannya
9. Bersikap tenang, tidak banyak bicara.
10. Memperhatikan ilmu untuk beramal, dan menjaga amal dari apapun yang merusaknya.
11. Menjaga ilmunya dengan kebersihan hati, bukan hanya ditulis di buku.
12. Menjauhi perbuatan bid’ah yang tercela
Jadi, berdasarkan standarisasi ini, orang yang berilmu tidak otomatis dianggap ulama. Inilah pandangan Islam tentang ilmu yang terkait dengan amal, adab, keyakinan, kebenaran, dan kebaikan. Oleh karena itu, jangan bangga digelari ulama, apalagi mengaku ulama, jika belum terpenuhi standarisasinya. Mengaku memang gratis, tapi belum tentu pengakuan itu diterima manusia, apalagi diterima Allah SWT.
Standarisasi ulama menurut al-Ghazali ini sangat jelas dan relevan sampai saat ini. Pandangan ini lahir dari ulama sejati, yang bebas dari kepentingan politik ataupun keuntungan duniawi. Gelar ulama sejati tidak otomatis boleh diberikan kepada pemilik sertifikat, ijazah atau gelar formal. Apalagi kepada pengusung sekularisme, pluralisme, liberalisme, pencaci keluarga Nabi dan sahabat, atau kepada pembela LGBT. Gelar ulama hanya pantas disematkan kepada orang beradab mulia dan berilmu yang benar.
Tulisan singkat ini hanya meringkas pandangan al-Ghazali. Untuk lebih lengkap, silakan dikaji kembali Ihya’ ‘Ulumiddin dengan pandangan yang benar. Renungkan setiap pesannya, amalkan isinya dengan ikhlas. Karena di muqaddimah kitab itu pun, al-Ghazali sudah menyebutkan fenomena ulama palsu pada zamannya. Untuk zaman now, silakan diqiyas dengan akal yang sehat.
Sebagai penutup, saya kutipkan pandangan al-Ghazali sebagai panduan untuk kita. Jadilah salah satu dari dua macam manusia. Pertama, jadilah ulama shaleh dengan semua sifat itu. Kedua, jika tidak menjadi ulama, jadilah manusia yang baik, yang mau mengakui kekurangan diri. Jangan jadi manusia yang ketiga, yaitu manusia yang menjadikan agama untuk mengeruk keuntungan duniawi.
************
Cilodong, 12 September 2020
Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Ardiansyah, M.Pd.I
(Pengasuh Ponpes at-Taqwa Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)









































































