MUJAHIDDAKWAH.COM, JAKARTA – Hari ini dalam kalender Islam merupakan tanggal 9 Muharram. Nabi Muhammad SAW menyunnahkan untuk Umat Islam untuk melakukan puasa Tasu’a dan juga puasa Asyura. Namun, untuk kalangan Syiah, percakapan hari Tasu’a dan Asyura berbeda.Mereka memperingati kematian putra Ali bin Abi Thalib dengan hukuman Karbala.
Di Jakarta, diakui Asyura diakui disimpan di Gedung Tennis Indoor Gelora Bung Karno. Menurut flayer yang dikeluarkan, acara dimulai sejak pukul 12.30 hingga pukul 17.00 WIB.
Dari jalan Gatot Subroto, terlihat beberapa orang beralih hitam-hitam yang sedang mengendarai motor menuju Gelora Bung Karno. Memasuki area GBK, beberapa orang hitam mulai dari wanita yang bercadar, anak-anak perempuan mulai 5 tahun pun menggunakan jubah hitam.Laki-laki, mengenakan kaos hitam, beragam tulisan di kaosnya.
Untuk masuk ke gedung Tennis Indoor, tidak cukup ketat.Hanya mengisi buku tamu yang berisi nama, alamat, nomor handphone, asal daerah dan atau asal komunitas / jama’ah.
Setelah mengisi daftar tamu, peserta yang ingin masuk ke tempat acara dilangsungkannya, oleh panitia menerima badan terlebih dahulu. Benda tajam dan korek tidak bisa dibawa masuk.
Saat kami mulai membangun Tenis pukul 14.30 WIB, peserta yang mengenakan pakaian hitam sudah memenuhi lapangan yang sudah diubah menjadi aula pengajian.
Lapangan dialasi karpet berwarna hitam, dan di bagian Selatan lapangan, dibangun panggung. Dipasang latar belakang panggung dengan tulisan Haul Cucunda Rasul SAW 1441 H / 2019 “ASYURA IMAM HUSAIN AS; NKRI BERSATU UNTUK INDONESIA UNGGUL ”. Judul ini diapit dua logo Ahlul Bait Indonesia (ABI) dan IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia).
Prosesi Asyuro sendiri, dimulai sejak pukul 12.30 WIB.Setelah disambut dari panitia, Miftah Rahmat, anak Jalaluddin Rahmat menyampaikan ‘ceramah’nya, yang disebut panitia sebagai pidato kebangsaan.
Miftah menyampaikan tentang pentingnya mengambil hikmah dari peristiwa Karbala, dan mencontoh para sahabat Nabi Muhammad SAW, Husain Radhiyallahu Anhu.
“Semoga kita selalu di jalan Al Maksumin, seperti sahabat-sahabatnya Imam Husain, yang menemani perjalanan Imam Husain,” ujar Miftah.
Selanjutnya, pembicara kedua yaitu Ketua Dewan Syuro ABI (Ahlul Bait Indonesia), Dr Umar Sahab MA yang membawakan pidato kebangsaan bertema besar menjadikan Unggul Indonesia unggul.
Di sela-sela pidatonya, Umar menyeru peserta Asyuro dengan bahasa Arab ‘Man Yansuruni’, kemudian dijawab oleh peserta Asyuro dengan ‘Labbaika ya Husain’.
Umar menceritakan, seruan ini diteriakkan Husain kompilasi di Padang Karbala kompilasi perang, dan saat ini semua anak-anak dan juga sahabatnya telah jatuh.Pembawa acara lantas menyampaikan bahwa acara selanjutnya adalah Maktam Pertama.
Pada acara Maktam ini, panitia menampilkan dua puluh remaja penampil. Mereka membawakan syair panjang terdiri dari cerita-cerita kesengsaraan para Nabi dan juga kisah meninggalnya Husain ra
Pada beberapa bagian, para peserta melepaskan-mukul dadanya sendiri. Oleh seorang yang enggan dinamai, prosesi memukul dada disebut Pukul Dada Azdari.Sementara penampilan remaja disebut Maktam atau juga Maqtal.
Ketika waktu Ashar tiba, anehnya para panitia tidak menghentikan acara, bahkan tidak sedikitpun saya-sebutkan tentang sholat ashar. Pidato Kebangsaan terakhir selesai pada pukul 16.30 WIB, kemudian pembawa acara dibuka dengan pembacaan. Catatan Maqtal Abal Husain, dimulai dengan Maqtam ke satu.
Sama dengan pembacaan Maqtal sebelumnya, tontonan remaja naik ke atas panggung. Kali ini, dua bendera Dibawa. Satu berwarna hijau dan berwarna putih.Kemudian panitia mengeluarkan satu lagi bendera berwarna merah dengan pinggiran berwarna emas, bendera ini lebih besar dari keduanya. Para peserta dan remaja di depan memukul mukul dadanya sembari diiringi syair-syair cerita Husain, baik dengan bahasa Indonesia maupun bahasa Arab.
Pihak kepolisian ikut memberikan pengamanan dalam acara ini. Kapolsek Tanah Abang, saat ditemui di lokasi mengatakan bahwa polisi menerjunkan 1700 personil untuk memastikan acara tetap aman.
“Kita sudah jaga setiap pintu masuk kawabnan GBK, kita harus berpartisipasi dalam kelompok lain melawan kegiatan lain nanti kita sekat untuk tidak dengan daerah itu,” tuturnya.
Bahkan, ia juga mengutip perayaan itu kali ini sudah mendapat izin resmi. Baik dari kementrian agama maupun kepolisian. “Izin sudah ada dari kementrian agama dan kepolisian, kegiatan hari ini jam 18.00 WIB,” pungkasnya.
Reporter: Muhammad Jundi/Kiblat










































































