Sudah menjadi tabiat manusia kala mencintai seseorang, maka selamanya ia tak akan pernah rela jika yang tercinta dihinakan pun dinista. Apatah lagi bila kehormatan sang kekasih yang dicederai itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dialah pemilik semulia-mulia jalan, pewaris keteladanan yang paling murni. Tiada goresan tinta tentang hidupnya kecuali layak menjadi qudwah terindah bagi siapa saja.
Dialah manusia terbaik, pada kesederhanaan dirinya berhimpun kebeningan hati, kejernihan jiwa, dan keluasan ilmu. Bukan hanya para sahabat, bahkan hingga sederet musuhmu pun turut mengakuinya.
Darinya terpancar kemilau kemuliaan, apa yang termaktub di dalam Al Qur’an, seluruhnya, tampak terang pada tuturan kata dan setiap lakunya. Niat yang senantiasa terjaga, amal terahsan, akhlak teragung; duhai adakah lebih indah dari sifat Al Qur’an yang berjalan?
Dialah pemilik hati yang sedetikpun tak lalai dari khusyu’, lisan nan tak lelah berdzikir, mata yang awas mengair sungai sebab cinta padaNya, budi yang meluhur tulus pada sesama. Sungguh pribadi yang teramat menawan di langit dan bumi.
Dia jualah teladan terbaik; semesra-mesra suami, segagah-gagah ayah, seihsan-ihsan sahabat, secerdas-cerdas guru, sebijak-bijak pemimpin, seberani-berani panglima.
Sungguh peristiwa yang masih hangat di telinga, tentang penayangan karikatur sebagai bentuk penghinaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam oleh pemerintah Prancis, membuat 1,7 milyar umat Islam marah.
Tentu saja, hati mana yang tak merasa sesak, jiwa mana yang tak mungkin memberontak, melihat hal tersebut. Bahkan luka itu kian terasa kala sang presiden, Emmanuel Macron, menuturkan dukungan dibalik kebebasan berpendapat.
Maka siapapun engkau, apapun profesimu, dirimu berhak bahkan wajib membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini buka soal, apakah beliau butuh pembelaan kita atau tidak, tapi ini tentang bukti cintamu padanya.
Namun, hal yang tak boleh dilupa bahwa pembelaan yang kita lakukan haruslah tetap dalam koridor Islam. Tidak melanggar dan melewati batas-batas syariat yang mulia ini. Hati dan jiwa tentu marah, namun kata dan laku tetaplah meneladani sang kekasih.
Lakukan apa yang bisa kau lakukan, suarakan apa yang selayaknya dilantangkan. Sekali lagi, pembelaanmu sedikitpun tidak menambah kemuliaan Rasulullah sebagaimana celaan mereka tidak mengurangi kemuliaannya, tapi ini soal telah jujurkah kau mencintainya sepenuh hati?.
***********
Penulis: Ustadz Muhtadin Akbar, S.Si
(Ketua Umum HILMI)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































