Banyak orang merasa berat dan takut dalam menghadapi sebuah masalah (problem). Setiap masalah dianggap sebagai beban, semakin besar masalah, berarti berat beban yang harus ditanggung. Maka wajar saja jika kemudian banyak orang yang membenci masalah, mereka tidak ingin bertemu masalah, tetapi lebih menyukai kemudahan, kelancaran dan kenyamanan. Jika sedikit saja mereka mendengar kata ‘masalah’ seketika itu ingin menghindar sejauh-jauh nya. Seandainya boleh memilih, mereka ingin hidup selalu enak, tanpa masalah, tanpa beban dan tanpa kesulitan.
Sebenarnya kita tidak perlu takut dengan masalah, karena masalah merupakan bagian dari kehidupan kita. Dalam kehidupan yang kita jalani ini, kita akan menjumpai tiga kenyataan besar, yaitu: (1) Keadaan ketika kita sedang mendapatkan nikmat; (2) Keadaan ketika kita sedang tertimpa musibah atau kesulitan; (3) Keadaan ketika kita sedang beristirahat dari permasalahan-permasalahan. Kenyataan seperti inilah yang senantiasa oleh umat manusia, baik muslim atau bukan, baik yang tua maupun muda, baik lelaki maupun wanita, baik dibarat atau ditimur. Seluruh manusia, tanpa pilih kasih, berhadapan dengan kenyataan-kenyataan hidup yang seperti itu.
Bahkan kalau kita memperhatikan kehidupan hewan, mereka juga menghadapi kesulitan dan permasalahan. Hewan-hewan itu kadang berebut makanan, berebut hewan betina, berebut area perburuan, berebut air dan sebagainya. Jika tidak mengalami konflik anatara sesama, hewan-hewan kadang menghadapi kerasnya situasi alam, seperti kekeringan, kebakaran hutan, banjir, gunung meletus, dan lain-lain. Ternyata, bukan hanya manusia yang memiliki kesulitan dan permasalahan dalam kelangsungan hipunya, hewan-hewan pun menghadapi ‘problem’ sesuai tabiat dan keadaannya.
Sulit diterima dengan akal sehat kita, jika ada manusia meskipun beragama Islam yang tidak mau menghadapi masalah yang menimpanya. Bahkan telah menjadi sunnatullah bagi setiap kehidupan manusia akan ditimpa dengan dengan permasalahan dan ujian. Masalah akan senantiasa kita hadapi sebagai ketentuan hidup yang tidak terelakkan. Sebagaimana ayat yang terdapat didalam Al-Qur’an Allah berfirman;
Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan di kembalikan hanya kepada kami’’. (QS. Al-Anbiyaa’: 35)
As-Sa’di Rahimahullah menjelaskan, “Akan tetapi Allah menghadapi hamba-hamba-Nya di dunia, memberi perintah kepada mereka, menetapkan larangan atas mereka, menguji mereka dengan kebaikan dan keburukan, dengan kekayaan dan kekafiran, dengan kekuatan dan kelemahan dan dengan kehidupan dan kematian. Dalam hal ini Allah berfirman, “Agar Dia (Allah) menguji kalian, untuk mengetahui siapa yang terbaik amalnya. ‘Di antara yang mendapat ujian itu, ada yang terjerumus dan ada yang selamat. (Tafsir Karim Ar-Rahman).
Kita tidak mungkin menghindari masalah, sebab masalah merupakan bagian dari kehidupan ini, seseorang benar-benar terbebas dari permasalahan jika tubuhnya sudah terbujur kaku, matanya terpejam, tidak ada lagi tarikan nafas, dan detak jantungnya berhenti. Hanya ketika kematian terjadi, disana permasalahan kehidupan dunia otomatis berakhir. Namun tidak berarti permasalahan manusia hanya sampai di titik itu, sebab setelah kehidupan dunia ada kehidupan lain yang harus dihadapi, masalah yang lebih besar dari permasalahan di dunia yang kita alami.
Hidup kita ini merupakan pergulatan panjang menghadapi masalah, sejak kita dilahirkan sampai kelak tiba masa kematian. Permasalaham demi permasalahan terus terjadi, meskipun bobot permasalahan itu disesuaikan dengan kemampuan dan kekuatan kita. Anak-anak bayi menghadapi masalahnya, anak-anak SD bergelut dengan masalahnya, anak-anak remaja, para pemuda, orang dewasa, hingga kakek-nenek, mereka menghadapi masalah masalah masing-masing. Karena sikap Allah Yang Maha Penyayang, sebagian besar manusia sanggup menghadapi kenyataan hidup ini. Hanya sebagian kecil yang tidak berhasil menuntaskan perjalanan hidup dengan lancar, bahkan ada yang stress, ada yang sakit jiwa, atau melakukan bunuh diri, dan tidak mampu bersabar dengan ujian yang Allah berika kepadanya. Allah berfirman;
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang, melaingkan sesuai kesanggupannya’’. (QS. Al-Baqarah: 286).
Dengan demikian, menjadi sebuah kepastian yang bersifat mutlak bahwa Allah tidak akan membebani setiap hamba-Nya diluar dari kesanggupan dan kemampuan hamba tersebut. Adapun sejauh mana batas kekuatan seorang hamba, Allah lebih tau batas tersebut dibandingkan siapa pun.
Tidak mungkin kita akan mendapatkan kemudahan hidup, jika kita tidak mengerti kenyataan hidup yang kita jalani, begitu pula dengan permasalahan, sangat sulit kita dapat mencari solusi terhadap masalah yang menimpa kita, ketika kita sendiri tidak mengtahui permasalahan yang menimpa diri kita. Sungguh dalam hidup ini kita akan selalu berhadapan dengan masalah demi masalah. Setiap selesai satu masalah, maka kita akan menghadapi masalah berikutnya. Demikian seterusnya, hingga kita tidak mampu lagi menghadapi masalah, yaitu ketika ajal telah tiba. Adapun dibalik masalah-masalah dan ujian itu, Allah senantiasa menghibur kita dengan nikmat-nikmat-Nya.
Permasalahan hidup bukan hanya menimpa Muslim Indonesia, tetapi dihadapi oleh seluruh umat manusia dibelahan bumi, atau bahkan masalah yang kita hadapi di Indonesia lebih ringan dibandingkan dengan negara-negara bagian Timur, Palestina, Gaza, Suriah dll. Bahkan hidup mereka setiap harinya dihiasi dengan permasalahan, bom berjatuhan dimana-mana, menghancurkan rumah dan bahkan meregut ribuan jiwa, anak-anak yang tidak diberikan kebahagian pada masa kecilnya, mereka dibunuh dan bahkan dikubur hidup-hidup. Namun, mereka tetap tegak dan kuat, bersabar dengan permasalahan yang dihadapinya.
Meskipun begitu, kadar masalah tersebut tidak melebihi kemampuan dan kesanggupan kita. Allah memberikan masalah bukan untuk menghinakan manusia, melaingkan untuk mengujinya. Anda tentunya mengetahui, siapa saja yang lulus ujian akan mendapatkan kebahagian dan derajat yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang uang tidak lulus ujian. Bukti sederhananya, lihatlah kegembiraan hati para pelajar yang baru lulus sekolah, mereka sangat gembira, dan ini hanyalah kehidupan dunia ykang ketika kita lulus ujian, kita bahagia dan senang. Lantas bagaimana dengan kehidupan akhirat, ketika Allah memberikan ujian kepada kita, dan kita bersabar menerimanya kemudian lulus dari ujuan tersebut. Maka bagaimana kebahagiaan kita.
Artinya: …“Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan”. (QS. At-Thalaq: 7).
Maka camkanlah bahwa setiap manusia memiliki jalan hidup dan masalahnya masing-masing. Ingat, setiap manusia memiliki masalahnya masing-masing. Karena memang sejatinya masalah di dalam hidup setiap manusia sudah melekat di dalam dirinya. Tinggal bagaimana kemudian setiap manusia tersebut menanggapi ketentuan yang ada.
Orang yang kita anggap hebat hari ini, mereka pun tidak serta-merta mendapatkan keberhasilan sebegitu mudahnya. Mereka juga tentunya pernah mendapatkan masalah dan kadangkala kegagalan di setiap perjuangannya. Ini sungguh sudut pandang yang memiliki pelajaran berharga di baliknya, bahwa masalah dan kegagalan itu pasti ada, tinggal bagaimana kemudian kita senantiasa berprasangka baik dan senantiasa memelihara keyakinan juga semangat juang kita untuk terus menggapai harapan yang sudah kita idam-idamkan sedemikian indahnya.
Tidaklah masalah itu datang melainkan sebagai kesempatan bagi kita. Ia tergantung bagaimana kemudian kita dalam menanggapinya. Akan kita manfaatkan dan setelahnya menjadi kesempatan yang berhargakah? Atau akan kita sia-siakan dan setelahnya menjadi kesempatan yang justru membuat kita tanpa sadar telah merugikan diri sendirikah?
Namun sebenarnya, masalah itu merupakan kesempatan yang sangat berharga. Karena darinya kita memiliki kesempatan untuk kemudian bisa menjadi pribadi yang semakin baik lagi dari sebelumnya jikapun kita dapat bijak dalam menanggapinya dan belajar dari segala sesuatunya. Seperti seorang pelaut. Seorang pelaut tidak akan dikatakan sebagai pelaut yang handal apabila ia belum melewati badai dan ombak besar dengan selamat melaut.
Maka jangan pernah takut terhadap masalah yang datang menghampiri, jangan menghindar darinya. Kuatlah, Bijaklah, dan berprasangka baiklah, Karena bukankah masalah itu sesuatu yang dapat diselesaikan? Bukankah masalah itu sesuatu yang dapat dikalahkah? Yakinlah pada diri sendiri bahwa kita bisa mengatasinya. Kalahkan masalah itu, jangan sampai sebaliknya. Jangan sampai masalah itulah yang akan mengalahkan kita, dan setelahnya akan berdampak buruk terhadap perkembangan hidup diri kita sendiri.
Karena sepedih-pedihnya masalah yang kita dapati akan sangat lebih pedih lagi apabila kita tidak lantas menguat untuk melawan kepedihan itu. Hanya duduk termenung dengan segala kepedihan yang akhirnya melemahkan hati, mengacaukan pikiran, membekukan semangat, dan merumitkan masa depan. Seolah-olah kepedihan itu adalah masalah yang cukup besar, dan seolah-olah kepedihan itu adalah suatu hal yang tidak dapat terobati.
Lagi-lagi karena tidak ada yang benar-benar melemahkan kita kecuali diri kita sendiri. Hati kita yang lemahlah yang menjadikan kecilnya masalah justru menjadi masalah besar. Seolah-olah masalah tersebut semakin rumit dan sulit, lantas kita putus asa dan merasa tidak mampu. Padahal sebuah masalah tidaklah bertambah besar maupun sulit. Hanya karena keyakinan kita yang melemahlah kemudian semuanya terasa rumit dan sulit.
“Jangan engkau pernah memandang enteng sedikitpun dari perbuatan Baik, kendati hanya bertemu saudaramu dengan wajah berseri.” (HR. Muslim)
***********
Bersambung, Insya Allah…
Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis Buku, Aktivis Media Islam, Pimpinan Mujahid Dakwah Media, Pendiri Madani Institute dan Pembina Daar Al-Qalam)
Sumber: Buku Meraih Kesuksesan dalam Benih Kegagalan
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)










































































