Selama ini kalau orang mengatakan ilmu, sebagian orang mungkin berpikir itu sekolah, buku pelajaran, referensi kuliah atau apapun yang sifatnya relatif ada di dalam kelas. Tapi benarkah ilmu maknanya hanya begitu?
Prof. Wan Mohd Nor, menjelaskan bahwa secara bahasa ilmu artinya tanda, penunjuk, atau petunjuk yang dengannya sesuatu atau seseorang dikenal; kognisi atau label; ciri; petunjuk; tanda (Baca Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam karya Adian Husaini et al).
Pemahaman itu memberikan kita kesadaran bahwa ilmu bukan apa yang kita baca, kita terima, kita diskusikan, tetapi tentang bagaimana kita mengenali sesuatu secara terang, jelas dan dalam.
Oleh karena itu Allah menegaskan bahwa tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu (Baca Qur’an Surah Az-Zumar ayat kesembilan).
Mudah Tertipu
Sekarang dengan pengertian ilmu yang seperti itu, kita bisa melihat mengapa banyak orang mudah tertipu.
Misalnya ada orang terdesak keinginan, ia pun tidak mampu menahan diri. Kemudian datang tawaran berupa pinjaman online, syaratnya mudah dan lima menit cair.
Orang yang tidak tahu akan menganggap itu peluang dan hal baik. Ia pun menangkapnya. Lalu situasi berulang, ia ingin sesuatu dan tidak ada uang. Ia kembali masuk main pinjaman online. Lama-lama terasa besar tagihan dan bunganya. Setelah itu, baru ia sadar dan menyesal.
Mengapa orang itu tidak tahu, tidak lain karena tidak melihat tanda. Karena tidak melihat tanda dengan baik, ia pun salah menghitung. Setelah tahu baru ia sadar bahwa langkahnya ke pinjaman online adalah keliru.
Orang yang memerhatikan tanda tahu ujung dari sebuah tawaran. Ia tidak terjebak tawaran menggiurkan dari permukaan. Ia menelaah lebih dalam, lebih jauh dan lebih utuh.
Dalam skala yang lebih serius ada orang tidak tahu kalau Allah SWT itu Tuhan. Maka ia akan menyembah selain Allah, entah itu jabatan, kedudukan, harta bahkan apapun yang memuaskan hawa nafsunya.
Atas dasar itu Imam Al-Ghazali pun membagi manusia ke dalam tiga kelompok.
Kelompok pertama Al-Musyahadah yang tahu secara terang bahwa di balik apapun ada Allah. Misalnya melihat harta, itu bukan kepemilikan mutlak, tetapi hanya titipan atau amanah dari Allah.
Kemudian Al-Istidlal, orang yang kalau bernalar semakin kuat imannya kepada Allah.
Dan terakhir Al-Ghafilun, orang yang memandang dunia sebagai surga dan akhirnya melupakan Allah SWT. Orang yang lalai memandang harta adalah tuhan itu sendiri.
Semakin Rendah Hati
Memerhatikan uraian tersebut maka kita dengan mudah bisa memahami mengapa orang yang berilmu adalah orang yang rendah hati.
Tidak lain adalah karena mereka melihat kekuasaan Allah yang tampak dari keluasan alam semesta, bahkan kerumitan penciptaan manusia yang super dahsyat.
Hal ini karena orang yang berilmu sadar siapa dirinya. Ia tahu bahwa manusia hakikatnya sama, tercipta dari segumpal darah (min ‘alaq).
Orang yang berilmu akan tahu makna dari peristiwa yang terjadi. Misalnya seseorang gagal, maka ia tidak menyerah. Ia melihat itu sebagai tanda untuk memperbaiki niat, strategi dan cara yang lebih relevan untuk berhasil.
Jika demikian faktanya, mengapa harus takabur, mesti merendahkan orang lain. Ilmu seperti cahaya, artinya orang yang berilmu tidak akan datang ke suatu tempat kecuali menerangi. Bukan seperti racun yang merusak dan membahayakan manusia.
Kesimpulannya sederhana jadilah insan berilmu, yakni manusia yang bisa melihat tanda dengan baik, sehingga tidak memilih jalan yang salah, sesat dan menyesatkan.
Dalam kata yang lain, jika hari ini kita masih sering tertipu oleh keinginan dan silau oleh pujian, mungkin kita perlu bertanya kembali: benarkah kita sudah berilmu, atau sekadar sudah banyak tahu?
*************
Penulis: Ustadz Imam Nawawi, M.Pd.I
(Kepala Humas BMH Pusat, Eks Ketua Umum Pemuda Hidayatullah dan Pengasuh masimamnawawi.com)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)







































































