MUJAHIDDAKWAH.COM, MASJIDIL AQSA – Ratusan pemukim Israel kembali menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa pada Kamis (11/12), dalam aksi yang semakin memicu ketegangan di Yerusalem Timur. Di bawah perlindungan ketat pasukan pendudukan, sekitar 350 pemukim melakukan ritual Talmud dan tur provokatif di halaman masjid, termasuk di depan Kubah Batu salah satu titik tersuci bagi umat Islam.
Dalam insiden yang memicu kemarahan warga Palestina, seorang rabbi Israel menempelkan gulungan Taurat yang telah rusak pada batu-batu Gerbang Kapas (Bab al-Qattanin), salah satu pintu masuk utama masjid. Aksi ini digambarkan sebagai bentuk pelanggaran terang-terangan terhadap kesucian tempat ibadah umat Islam.
Pemerintah Provinsi Yerusalem dalam pernyataan singkat menyebut bahwa penempelan gulungan Taurat yang disebut “mezuzah” bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya, dua gulungan serupa telah ditempelkan pada Gerbang Hebron (Bab al-Khalil) dan Gerbang Singa (Bab al-Asbat) di tembok Kota Tua. Tindakan ini dinilai sebagai bagian dari upaya sistematis untuk mengubah identitas historis kawasan dan menanamkan simbol-simbol Yahudi di ruang-ruang publik yang memiliki nilai religius tinggi bagi umat Islam.
Upaya Pemaksaan Pembagian Ruang Ibadah
Masjid Al-Aqsa hampir setiap hari menjadi sasaran serbuan pemukim kecuali pada hari Jumat dan Sabtu dalam dua gelombang kunjungan pagi dan siang. Serbuan-serbuan ini dipandang sebagai upaya Israel untuk memaksakan pembagian temporal dan spasial atas masjid, sebuah langkah yang telah lama ditolak umat Islam di Yerusalem dan seluruh dunia.
Aksi-aksi ini tidak hanya menyinggung perasaan jutaan Muslim, tetapi juga mengancam kedaulatan Islam atas Al-Aqsa sebagai situs suci yang selama berabad-abad menjadi simbol identitas religius dan sejarah Palestina.
Pembatasan Ketat Terhadap Jamaah Palestina
Di tengah meningkatnya pelanggaran oleh pemukim, pasukan pendudukan Israel justru memperketat pembatasan terhadap jamaah Palestina. Polisi Israel memeriksa kartu identitas, menahan sejumlah warga di gerbang masjid, serta menghambat ribuan jamaah yang ingin beribadah atau melakukan aksi duduk untuk mempertahankan masjid.
Pembatasan ini semakin memperparah situasi kemanusiaan dan psikologis warga Yerusalem yang setiap hari harus menghadapi intimidasi dan upaya sistematis untuk menggerus keberadaan mereka di kota tersebut.
Seruan Mobilisasi dari Warga Yerusalem
Warga Yerusalem terus menyerukan mobilisasi massal dari penduduk kota dan Tepi Barat untuk menjaga Masjid Al-Aqsa. Mereka menegaskan bahwa Al-Aqsa adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar, serta menolak segala bentuk tindakan yang berupaya mengubah status quo atau merusak kesucian masjid.
Kecaman Dunia Internasional Terhadap Pelanggaran Israel
Insiden terbaru ini kembali menyoroti meningkatnya pelanggaran Israel terhadap situs-situs suci Islam di Yerusalem, di tengah keprihatinan luas dunia internasional atas tindakan provokatif, diskriminatif, dan kekerasan yang dilakukan pemukim dengan dukungan aparat pendudukan.
Serbuan demi serbuan terhadap Al-Aqsa dipandang sebagai bagian dari pola yang lebih besar yakni upaya pendudukan untuk menghapus identitas Islam Yerusalem dan mengokohkan hegemoni pemukim di kota suci tersebut. Di tengah seruan global untuk menahan diri dan menghormati situs suci, tindakan-tindakan ini justru memperkuat kritik dunia bahwa Israel terus melanggar hukum internasional dan hak-hak beragama warga Palestina.
Sumber: Palinfo




















































































