Di Jalur Gaza, kelaparan bukan lagi sekadar ancaman ia telah menjadi kenyataan yang merenggut nyawa anak-anak dan orang dewasa setiap hari.
Di tengah perang genosida dan blokade brutal yang diberlakukan oleh Israel sejak Oktober 2023, puluhan warga Palestina gugur akibat kelaparan, sementara ratusan lainnya berada di ambang kematian. Dunia menyaksikan, namun tetap diam.
“Kami tidak makan selama berhari-hari. Anak saya hanya diberi air rebusan rempah karena tidak ada susu. Kini ia telah tiada,” ujar seorang ibu di kamp pengungsi Jabalia, dengan suara gemetar.
Derita yang Tak Terdengar
Penderitaan ini tak tersembunyi. Rekaman dan gambar memilukan dari Gaza terus beredar di media sosial dan laporan kemanusiaan: anak-anak kurus kering, tubuh-tubuh mungil terbujur kaku dalam pelukan ibu mereka, dan orang-orang dewasa terkulai lemah karena tubuh tak lagi sanggup berdiri. Namun, dunia internasional tetap berpangku tangan, seakan kebisuan menjadi pilihan yang disengaja.
Laporan dari PBB, UNICEF, dan UNRWA menyebutkan: Lebih dari 1 juta anak di Gaza terancam kelaparan. 70.000 anak mengalami malnutrisi akut. 5.000 anak balita secara resmi didiagnosis kekurangan gizi pada Mei lalu. 86 warga telah gugur akibat kelaparan, termasuk 76 anak-anak. Lebih dari 100.000 anak dan ibu hamil berada dalam kondisi malnutrisi tingkat kritis.
Kelaparan sebagai Senjata Perang
Berbagai organisasi internasional, termasuk Amnesty International, telah menyatakan bahwa Israel secara sistematis menggunakan kelaparan sebagai senjata perang. Blokade terhadap bantuan makanan, pemutusan akses obat-obatan, serta pelarangan masuknya pasokan medis disebut sebagai bentuk pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan indikasi kejahatan genosida.
Bahkan bayi-bayi yang baru lahir pun tidak luput dari penderitaan. Banyak di antaranya meninggal dunia hanya dalam hitungan hari karena tidak tersedianya susu formula dan asupan gizi bagi ibu menyusui.
“Kami menyaksikan kematian perlahan tanpa suara, tanpa peluru, namun sangat mematikan,” ujar seorang tenaga medis di Gaza yang bekerja tanpa listrik, obat, dan bahan bakar.
Gambar yang Mengalahkan Kebisuan
Gambar-gambar memilukan dari Gaza menyebar cepat: anak-anak bertubuh tulang-belulang, wajah mereka pucat, napas terengah, dan suara tangis mereka kalah oleh kebisuan dunia. Sementara rakyat Gaza berteriak meminta bantuan, dunia menjawab dengan keheningan.
Laporan lapangan juga menunjukkan bahwa sepertiga penduduk Gaza tidak bisa makan selama berhari-hari. Seperempat dari mereka hidup dalam kondisi “seperti kelaparan total.” Anak-anak Gaza bukan hanya kehilangan makanan, tetapi juga masa depan, kehidupan, dan harapan.
Seruan Kemanusiaan yang Terus Diabaikan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa jika bantuan tidak segera diizinkan masuk, krisis ini akan berubah menjadi bencana total. Namun, hingga kini, seruan itu belum membuahkan tindakan nyata.
“Dunia melihat anak-anak kami sekarat, namun tetap membisu. Hati nurani seakan telah mati,” ucap seorang relawan medis dengan mata basah.
Kelaparan di Gaza bukan sekadar bencana kemanusiaan ia adalah kejahatan yang dirancang, dengan tujuan mematahkan semangat dan ketahanan rakyat Palestina.
Sumber: Palinfo












































































