MUJAHIDDAKWAH.COM, MAKASSAR – Pada wawancara dengan Sherly Annavita, seorang influencer milenial, menyoroti fakta bahwa setengah dari populasi Indonesia adalah anak muda, dan lebih dari 80% dari mereka adalah pemeluk agama Islam, yang berarti telah menjadi kebutuhan mendesak untuk saling mendukung dan menguatkan sebagai sesama pemuda muslim.
Sherly menekankan bahwa berubah ke arah yang lebih baik itu sulit jika dilakukan sendirian. Hal ini menurutnya merupakan cerminan dari tantangan yang dihadapi oleh banyak perempuan muda dalam menemukan jati diri dan berkontribusi positif di masyarakat.
Sherly menegaskan pentingnya peran mentor dalam proses pertumbuhan individu perempuan muda tersebut, dengan menyatakan bahwa ketika ada mentor, seseorang dapat mengakselerasi proses bertumbuh dengan lebih baik dan cepat.
“Kalaupun 10 tahun yang lalu bisa diulang, Sherly juga akan lebih getol mencari mentor,” ujarnya.
Sherly berharap FMDKI dapat menjadi mentor untuk menjembatani para muslimah bertumbuh dan dapat menyalurkan bakat serta potensinya.
Melalui inisiatif yang di selenggarakan oleh FMDKI berupa kegiatan Muslimah Youth Fair, alumni Fakultas Hukum dan Bisnis, Swinburne University ini menyebutnya sebagai harapan baru bagi perempuan muslimah di Sulawesi Selatan terkhusus para pemudi muslim di kota Makassar.
Bagi Sherly, kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai platform untuk berkarya dan berkolaborasi tetapi juga sebagai solusi untuk masalah yang dihadapi oleh perempuan muda saat ini.
“Ada satu peran pada perempuan yang tidak bisa tergantikan sepanjang zaman, yaitu perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Karena dengan menghancurkan generasi selanjutnya, hancurkan cara berpikir perempuan hari ini, menyelamatkan cara berpikir perempuan hari ini sama dengan kita menyelamatkan generasi selanjutnya,” terangnya.
Sherly menambahkan, dengan peran tersebut maka perempuan harus mempersiapkan diri untuk anak-anaknya kelak.
“Ketika Perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya maka selesai dulu dengan dirinya sendiri akan membuat kita jauh lebih siap untuk menjadi sekolah bagi anak-anak kita,” tambahnya.
Master of Social Impact Australia ini juga menyampaikan tentang problematika zaman sekarang yang mudah sekali menilai karakter seseorang berdasarkan postingannya. Padahal sosial media tidak bisa dijadikan tempat melihat karakter seseorang.
”Hari ini karakter seseorang gak bisa dibaca lewat sosial media, ada banyak sekali ternyata yang terjadi di luar dari itu, membaca karakter seseorang di zaman 5.0 ini adalah cek dengan siapa dia bergaul sehari-hari,” terangnya.
Reporter: Sinta Kasim
Editor: Admin MDcom













































































