MUJAHIDDAKWAH.COM, MAKASSAR – Madani Institut menggelar public discourse Makassar Bernalar dengan mengusung tema “Filsafat Sains dalam Perspektif Ibn Sina, Al-Ghazali, Al Attas,” menghadirkan Ustaz Dr. Syamsuddin Arif, M.A. sebagai pemateri utama.
Pendiri INSISTS itu menjelaskan filsafat dalam artian luas mencakup 3 makna yaitu wondering, questioning dan rethinking.
“Filsafat itu dimulai dengan bertanya-tanya dalam hati (wondering). Kemudian mempertanyakan (Questening), critis terhadap sesuatu, tidak asal menerima dan tidak menelannya bulat-bulat. Lalu memikirkan ulang (rethinking) yaitu berpikiran berulang-ulang, kalau bahasa Al Qur’annya adalah tadabbur,” kata Ustaz Syamsuddin Arif dalam materi perdana Makassar Bernalar di Hotel Continent Makassar, Sabtu (04/02/2023).
Dosen UNIDA Gontor itu menyatakan bahwa para pemikir terdahulu memakai istilah filsafat untuk ilmu pengetahuan secara umum dan istilah sains juga dahulu disebut filsafat.
“Sekarang yang kita sebut sebagai sains itulah (philosophia) filsafat, Jadi selama 2000 tahun philosophia adalah ilmu pengetahuan yang selama ini kita sebut sebagai sains. Sekarang istilah filsafat bukan berarti sains sejak tahun 1800-an,” ujarnya.
Ustaz Syamsuddin Arif juga memaparkan bahwa di abad ke-20 para pemikir menyempitkan istilah filsafat hanya untuk analitis, kritis dan spekulatif.
“Dalam pengertian lain di jaman sekarang, Filsafat juga sebagai berpikir analitis, berpikir kritis dan berpikir spekulatif, sejak itulah filsafat diterapkan ke banyak objek dan banyak hal. Contoh filsafat sains, itu berarti berpikir kritis tentang sains, berpikir analitik tentang sains dan berpikir spekulatif tentang sains. Begitu pula dengan filsafat keadilan, filsafat teknologi dan lain-lain,” paparnya.
Menurutnya, kalau filsafat itu bermakna wondering, questioning dan rethinking, inikan sebenarnya bisa dilakukan oleh siapapun. Artinya yang bisa bertanya-tanya, yang bisa mempertanyakan dan bisa berpikir ulang itu bukan hanya orang Yunani.
“Kalau kita bilang filsafat itu dari Yunani dan hanya untuk orang Yunani, itu berarti kita menghina diri sendiri. Saya bukan orang Yunani berarti saya tidak bisa mikir, itukan cara berpikir yang bodoh,” tegasnya.
Dia menekankan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala banyak berfirman memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya untuk berpikir.
Reporter: Muhas
Editor: Muh Akbar

















































































