Allah telah menganugerahkan perasaan cinta kepada manusia, lengkap dengan akal untuk mempertimbangkannya. Cinta pada dasarnya adalah fitrah. Ini berupa dorongan perasaan dan gejolak hati dari seorang untuk menggapai sesuatu dengan penuh kelembutan, kasih sayang, dan kegairahan.
Karena cinta adalah fitrah, berarti wujud awal cinta adalah suci. Tetapi persoalannya, kerap kali cinta menjadi sebuah bumerang, malapetaka dan kehancuran. Itulah akibatnya kalau cinta tanpa dituntun akal sehat.
Peranan akal yang dituntun hidayah Alquran dan Sunah diperlukan untuk mengefektifkan arah cinta. Tanpa itu, cinta akan sia-sia belaka.
Cinta yang paling utama dalam islam adalah cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wasalam bersabda,
Artinya: “jika Allah mencintai seorang hamba, maka seluruh yang ada di langit akan mencintai orang tersebut. Sebaliknya, jika Allah membenci, maka bencilah seluruh penduduk langit dan bumi, termasuk Malaikat Jibril” (HR. Bukhari & Muslim).
Orang yang telah menetapkan rida Allah menjadi bagian dan tujuan terbesar dalam hidupnya, maka dia adalah orang yang paling ringan bebannya.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗوَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Terjemahnya: “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah :72)
Ayat diatas mengabarkan bahwa sesungguhnya keridaan Allah itu yang paling besar. ketika seseorang telah menempatkan rida Allah, maka Dia tidak akan terbebani dengan komentar manusia. Kalaupun Dia memberikan pengorbanan pada hidupnya, maka sesungguhnya dia tidak akan pernah menjadi berat dengan apapun yang dilakukannya. Selama rida Allah menjadi tujuan dalam hidupnya.
Salah seorang ulama bernama Abdul Azhim bin badawi Al-khalafi menyampaikan bahwa “sumber permasalahan dan problematika dalam kehidupan ini adalah ketika kita menempatkan makhluk di hati kita lebih besar daripada kita posisi Allah pada hati kita.”
Saat urusan makhluk telah memenuhi hatimu, maka pikiranmu selalu tidak merasa tenang, dan akan selalu merasa gelisah, sedih dengan berbagai macam komentar manusia.
Makanya hari ini di zaman sosial media, ketika dengan mudah orang bisa memperoleh simpati dari banyak manusia, justru tidak menjadikan standar kebahagian menjadi mudah didapatkan. Namun, yang akan kita dapatkan adalah penyakit-penyakit mental illness yang berkembang luar biasa hari ini.
Apa penyebabnya? Karena pada hatinya rida makhluk posisikan jauh lebih besar diatas Ridha Allah, olehnya rasa bahagia itu sangat sulit didapatkan. Hidupnya penuh dengan beban, kekecewaan, dan tertekan.
Sebaliknya, saat Rida Allah ditempatkan diatas Rida manusia. Saat Rida Allah menjadi tujuan utama dalam hidup ini, maka seberat apapun masalah atau problem yang kita alami akan terasa begitu ringan dan sangat mudah karena kita dibersamai oleh Allah yang telah menjadi tujuan kita dan itulah sesuatu yang paling besar dalam kehidupan ini.
Inilah yang mebuat kita memahami bahwa sesungguhnya keridhaan Allah itu adalah sesuatu yang paling besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan, doa agar dicintai Allah Ta’ala. Doa yang semestinya kita hadirkan dalam setiap amalan ibadah kita. Termaktub dalam hadis riwayat Tirmidzi, Abu Ad-Darda’ menyebut, Rasulullah bersabda, bahwa di antara doa Nabi Daud, yakni:
اللَّهُمَّ ! إِنِّي أَسْألُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَالعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ . اللَّهُمَّ ! اِجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِليَّ مِنْ نَفْسِيْ وَأَهْلِي ، وَمِنَ المَاءِ البَارِدِ
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu untuk selalu cinta kepada-Mu, mencintai orang yang selalu mencintai-Mu, dan amal yang dapat menyampaikanku untuk mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta kepada-Mu melebihi cintaku terhadap diriku sendiri, keluarga, dan air yang dingin.” (HR. Tirmidzi)
Seorang Muslim hanya memperhitungkan rida atau murka Allah Subhanahu Wata’ala semata. Ia akan tetap gigih menjalankan perintahNya sekalipun banyak orang membenci perbuatannya.
Sebaliknya, ia tak akan mengerjakan amal yang dibenci Allah Subhanahu Wata’ala sekalipun banyak orang memuja-muja perbuatan tersebut. Muslim seperti inilah yang akan mendapatkan limpahan rida Allah Subhanahu Wata’ala. Karena keridaan Allah baginya adalah segala-galanya.
Orang yang telah mendapatkan Rida Allah, beban hidupnya akan menjadi ringan, tidak merasa kecewa dengan komentar manusia, tidak akan terobsesi pada apapun pencapaian-pencapaian dunia. Bahkan Dia juga akan memperoleh pertolongan-portolongan dari kalangan malaikat yang memberikan kepdanya penguatan dan motivasi. Dimana keduanya ini tidak ada yang bisa menandingi karena yang memberikan itu adalah para malaikat, para tentara-tentara Allah, yang diturunkanNya kepada kepada mereka yang dicintainya.
Dalam salah satu riwayat yang shahih yaitu riwayat Muslim yang mampu membuat kita tersenyum ketika kita merenungkannya. Ketika kita berharap kita bisa mendapatkan apa yang ada di dalam hadits ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي جِبْرِيلُ فِي السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ وَيُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي أَهْلِ الْأَرْضِ (رواه البخاري)
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra berkata, “Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wasalam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala jika mencintai seseorang, maka Allah akan memanggil Jibril , ‘(wahai Jibril) Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah dia, sehingga Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril memanggil seluruh penghuni langit seraya berseru, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia, maka penghuni langit pun mencintainya, sehingga orang tersebut diterima oleh penduduk bumi.” (HR. Al-Bukhari).
Suatu kebahagian terbesar ketika hamba yang disebutkan namanya oleh Allah kepada malaikat Jibril adalah diri kita. Karena surga yang telah Allah sediakan bagi mereka (orang-orang yang dicintaiNya). Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
Terjemahnya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat : 30)
Itulah balasan cinta Allah kepada orang-orang yang mencintai . Segala pemasalah dalam hidupnya akan menjadi ringan dengan pertolongan-pertolongan yang Allah berikan.
Ujiannya memang berat, akan tetapi pertolongan Allah jauh lebih besar kepadanya. Dan itulah kunci, kenapa orang salih ujiannya betubi-tubi akan tetapi terlihat baik-baik saja, selalu bahagia karena mereka selalu memperoleh kekuatan dan motivasi dari para malaikat yang selalu memberikan kalimat-kalimat penyejuk “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu”.
Itulah yang menjadikan kita paham, mengapa kita harus menjemput cinta Allah. Cinta Allah tidak datang begitu saja, tapi perlu yang nama ikhtiar atau usaha yang besar untuk mendapatkannya. Cara yang paling ampuh untuk mendapatkan cintaNya yaitu dengan memantaskan diri dengan amalan-amalan ibadah yang bisa mendatangkan keridaanNya.
***********
Gowa, 15 Februari 2022
Penulis: Wahyuni Subhan
(Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Pengurus Mujahid Dakwah Media)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)










































































