Di bulan perdana tahun 2021 ini, nuansa tahun baru masih membekas di benak sebagian orang. Selayaknya pergantian tahun sebelumnya, berbagai impian dan resolusi mungkin berulang kali telah mencuat dari lisan kita. Namun apa daya, semangat itu acapkali luntur bersama waktu, persis seperti kembang api yang ledakannya lenyap dalam kegelapan malam. Apa sebenarnya arti dari resolusi itu? Jika yang terlintas hanya sebatas euforia, sedangkan esensi dari resolusinya terlupakan.
Umur, jasad, ilmu, dan harta menjadi pertanyaan yang akan ditujukan kepada setiap hamba-Nya pada di akhirat kelak. Untuk apa umurnya dihabiskan selama ini? Dari mana harta yang diperolehnya? Ke mana harta tersebut dikeluarkan? Dan digunakan untuk apa waktu luangnya? Tentunya, untuk mengetahui semua itu dibutuhkan muhasabah diri dengan mengukur sejauh mana diri ini telah berbuat. Maka dari itu, penting setiap insan melakukan muhasabah setiap harinya agar selalu terhindar dari hal yang sia-sia dan terpelihara dari dosa. Setelah itu, barulah membuat target untuk hari esok.
Melalui haditsnya, Nabi saw. mengajarkan kepada kita untuk senantiasa melakukan muhasabah: “Orang yang beruntung adalah orang yang menghisab dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsu serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR.Tirmidzi).
Sabda di atas mengingatkan kita untuk berpikir visioner, di mana tidak hanya berfokus kepada hidupnya di dunia, tetapi juga hidupnya di akhirat kelak. Sehingga akan terlihat dari niat dan amalnya yang diutamakan mengharap ridho Allah SWT. Ucapan Nabi ini juga mengajak kita untuk terus bersikap introspektif dan evaluatif atas segala perbuatan yang kita lakukan, dalam posisi kita sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
Menurut Imam Al Ghazali muhasabah diri adalah selalu memikirikan, memperhatikan, serta memperhitungkan apa yang telah diperbuat dan apa yang akan diperbuat. Muhasabah adalah proses mengenali kebaikan dan kesalahan dalam diri. Dengan muhasabah, berarti kita telah menghisab diri sebelum nantinya dihisab di akhirat.
Seperti perkataan sahabat Umar bin Khattab, “Perhitungkanlah dirimu sebelum kamu diperhitungkan oleh Allah dan timbanglah dahulu amalanmu sebelum ditimbang di hari qiyamah.” Ketika telah mengetahui kebaikan dan kesalahan dalam diri, kita akan bisa mengukur dan menentukan langkah selanjutnya yang akan diambil. Melakukan intropeksi untuk kemudian membuat resolusi.
Sahabat Abu Bakar Ash Shidiq pun pernah sampai pingsan karena berusaha untuk memuntahkan kembali susu yang telah diambilnya dari meja hidangan. Yang ternyata segelas susu itu merupakan upah milik pembantunya yang didapat ketika dulu ia masih berprofesi sebagai juru ramal (dukun). Usai siuman beliau mengatakan, “Seandainya aku harus menebus nyawaku untuk mengeluarkan susu ini, akan kulakukan, karena aku mendengar Rasulullah saw. telah bersabda, “Setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram, maka api neraka lebih pantas untuknya.”
Sampai dalam hal makanan pun, sahabat Nabi saw. selalu berhati-hati. Karena apa yang dikonsumsi akan menentukan kesucian jasad seseorang. Juga sayyidina Umar bin Khattab yang penah memukul kakinya sendiri, bukan untuk dengan cemeti seraya berkata, “Apa yang telah engkau kerjakan siang tadi.”
Rasulullah, para sahabat, dan Salafus Shalih (para ulama terdahulu yang baik) saja, yang sudah dijamin surga oleh Allah masih tetap melakukan muhasabah. Mereka tidak membiarkan begitu saja harinya tanpa diakhiri dengan intropeksi diri atas segala amalnya selama sehari penuh.
Maka sudah seharusnya kita sebagai Muslim untuk selalu mengevaluasi diri. Bermuhasabah mulai dari makanan dan minuman yang kita konsumsi, lalu waktu dihabiskan untuk apa saja, juga harta yang kita peroleh dan kita keluarkan. Hal itu akan sangat menentukan kehidupan kita nantinya di akhirat. Melakukan aksi nyata ke arah yang lebih baik.
***********
Penulis: Tsabita Fathin Daniya
(Mahasiswi At-Taqwa College Angkatan II)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































