Berpegang Teguh pada Salam Islam

Di antara adab sopan santun wanita Muslimah yang menjadikannva berbeda dari wanita-wanita lainnya adalah kesungguhannya berpegang teguh pada salam Islam, di mana dia menyampaikan salam kepada orang-orang lslam yang ditemuinya, sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah diatur oleh Islam yang menyuruh untuk menyebarluaskan salam melalui beberapa nash baik dalam Al-Qur’an maupun hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Menyebarluaskan salam dalam Islam merupakan adab islami yang sangat mendasar dan telah diatur. Di mana Allah Rabbul-lzzati telah memerintahkannya dalam Al-Qur’an, sedangkan Rasul-Nya telah meletakkan dasar-dasarnya dan kaidah-kaidahnya melalui beberapa hadits yang telah diklasifikasikan oleh para ahli hadits dalam bab khusus yang disebutnya dengan kitab As-Salam atau bab As-Salam.

Allah Subhanahu Wata’ala telah memerintahkan orang-orang vang beriman untuk mengucapkan salam melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an,

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian agar kalian selalu ingat. ” (An-Nur: 27)

Allah juga telah memerintahkan untuk menjawab salam dengan salam yang lebih baik atau yang setara. Oleh karena itu, setiap orang yang mendengar salam wajib menjawabnya dan tidak boleh mengacuhkan atau mengabaikan untuk menjawabnya,

Apabila kalian dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (An-Nisa’: 86)

Sangat banyak sekali petunjuk Nabi yang memerintahkan untuk menyebarluaskan salam dan memperdengarkannya kepada orang yang kita kenal maupun tidak. Seperti yang diterangkannya dalam hadits berikut ini:

Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash Radhiallahu Anhu, bahwasanya ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi , “Bagaimana Islam yang paling baik itu ?’ Beliau menjawab, Engkau memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal atau tidak engkau kenal’.” (Muttafaq Alaih)

Mengucapkan salam merupakan salah satu dari tujuh pesan kepada para sahabatnya supaya mereka berpegang teguh padanya dalam menjalani kehidupan sosial, dan demikian juga kepada orang-orangyang hidup setelah mereka. Ketujuh pesan tersebut telah diabadikan oleh Al-Barra’ bin ‘Azib Radhiallahu Anhu , dia menceritakan,

Rasulullah telah memerintahkan kami dengan tujuh hal, yaitu: Menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, mendoakan orang yang bersin, membantu orang lemah, menolong orang yang dizhalimi,menyebarkan salam, dan melaksanakan sumpah orang yang bersumpah.” (Muttafaq Alaih)

Rasulullah telah perhatian sangat besar terhadap masalah salam ini dan memerintahkan supaya menerapkannya melalui beberapa hadits beliau, karena beliau mengetahui pengaruhnya yang cukup besar terhadap pengaliran sumber-sumber cinta kasih di dalam jiwa serta memperkuat ikatan hati, mempererat tali kekerabatan dan kedekatan antarindividu maupun jama’ah. Bahkan beliau menjadikan salam tersebut sebagai timbulnya rasa cinta menggugah keimanan yang dapat mengantar ke surga. Hal itu disampaikannya melalui hadits berikut ini:

Demi Dzat, yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai. Tidakkah kalian mau aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang apabila kalian kerjakan akan menjadikan kalian saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian. ” (HR.Muslim)

Selain itu, Rasulullah menjadikan orang yang paling utama di sisi Allah dan berhak mendapatkan keridhaan dan kenikmatan-Nya adalah orang yang memulai mengucapkan salam, seperti yang disabdakannya,

Sesungguhnya yang paling utama di sisi Allah adalah orang yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Abu Dawud)

Oleh karena itu, Abdullah bin Umar pergi ke pasar dan tidak melewati seseorang melainkan mengucapkan salam kepadanya. Pada suatu hari pernah ditanya, “Apa yang engkau lakukan di pasar, sedang engkau tidak berbelanja dan tidak menawar barang serta tidak juga duduk-duduk di pasar?” Maka dia menjawab, “Kami pergi ke pasar untuk mengucapkan salam kepada orang yang kami temui.” (HR. Bukhari)

Dalam Islam, salam bukan suatu tradisi sosial yang pembuatan dan aturannya dilakukan oleh manusia dengan mengikuti perkembangan zaman dan menyesuaikan dengan lingkungan yang beraneka ragam, yang bisa berubah dan berkembang sesuai dengan lingkungan sosial atau kemajuan zaman, tetapi salam ini merupakan adab Islam yang dibatasi dengan kaidah-kaidah dan dasar-dasarnya, seperti yang telah dikemukan sebelumnya. Kata-kata salam itu hanya satu yang selalu dikumandangkan oleh kaum Muslimin dan Muslimat yang menyadari ajaran agamanya, yang berusaha keras menerapkan petunjuknya, bunyi salam itu adalah Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu”. Kalimat itu diucapkan oleh setiap Muslim dengan menggunakan dhamir (kata ganti) jama’ (plural) meskipun yang diberi salam itu hanya satu orang saja. Dan orang yang memberikan jawaban mengucapkan, “Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuhu”.

Wanita Muslimah yang berusaha membedakan kepribadiannya dari wanita lainnya senantiasa berpegang teguh dalam bentuk dan wujud salam itu, salam Islam yang mendasar dan tidak membutuhkan perubahan atau ganti.

Bentuk kalimat salam yang telah ditetapkan syari’at itu tidak lagi membutuhkan perubahan lain seperti misalnya, selamat pagi atau good morning (bahasa Inggris), Bonjour (bahasa Perancis) dan bentuk-bentuk lainnya yang berkembang di beberapa masyarakat yang menyimpang dari petunjuk Islam.

Sesungguhnya salam Islam ini merupakan penghormatan diciptakan Allah bagi makhluk-Nya sejak diciptakannya Adam. Dia mengajari Adam dan memerintahkannya supaya mengucapkan salam tersebut kepada malaikat. Allah Subhanahu Wata’ala menginginkan agar anak cucu Adam dari generasi ke generasi dan sepanjang zaman selalu berpegang teguh padanya, karena salam ini membawa makna keselamatan dan kesejahteraan yang memang paling diharapkan oleh setiap orang di setiap zaman dan tempat. Tidak ada yang mempertahankan salam rabbani ini melainkan umat Islam, umat yang senantiasa berada dalam agama yang lurus lagi penuh toleransi. Salam yang tidak pernah mengalami pergantian dan perubahan serta tidak juga menyimpang dari petunjuk Islam. Mengenai hal ini Rasulullah bersabda,

Setelah menciptakan Adam , Allah befirman, ‘Pergi dan ucapkan salam kepada mereka-beberapa malaikat yang sedang duduk-dan dengarkanlah penghormatan yang diucapkan mereka kepadamu, sesungguhnya itu merupakan penghormatanmu dan penghormatan bagi anak cucumu. Maka Adam pun mengucapkan, Assalamu’alaikum’. Para malaikat mengucapkan, Assalamu-alaikum Warahmatullahi “. Para malaikat itu menambahkan, Warahmatullahi.” (Muttafaq Alaih)

Dengan demikian tidak aneh lagi jika kalimat salam tersebut sebagai penghormatan yang baik dan mengandung berkah, karena kalimat itu langsung dari sisi Allah Subhanahu Wata’ala, dan Dia memerintahkan supaya kita menjadikannya sebagai penghormatan dan tidak menyamakannya dengan salam-salam yang lain:

“Maka apabila kalian memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini), maka hendaklah kalian memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-(Nya) bagimu, agar kalian memahaminya.” (An-Nur: 61)

Oleh karena itu, Jibril tetap berpegang teguh pada bunyi salam tersebut ketika dia mengucapkan salam kepada Aisyah, Demikian halnya Aisyah tetap berpegang teguh pada bunyi jawaban salam, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini:

Dari Aisyah Radhiallahu Anha, dia menceritakan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah berkata kepadaku, Inilah Jibril, mengucapkan salam kepadamu.’ Aisyah melanjutkan cerita: Aku katakan, ‘Wa ‘alaihissalam Warahmatullahi wa barakatuhu”(Muttafaq Alaih)

Dalam Islam, salam ini memiliki kaidah-kaidah tertentu, dimana wanita Muslimah yang berpegang pada petunjuk agamanya senantiasa mendalami dan menerapkannya dalam kehidupan sosialnya. Kaidah-kaidah tersebut terangkum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan perawi lainnya dari Abu Hurairah, dia menceritakan, Rasulullah
pernah bersabda,

Orang yang naik kendaraan memberikan salam kepada orang yang berjalan kaki, sedang orang yang berjalan memberikan salam kepada orang yang duduk, dan yang sedikit jumlahnya memberikan salam kepada yarng lebih banyak. “ (Muttafaq Alaih)

Sedangkan dalam riwayat Bukhari disebutkan,

Dan, yang kecil memberikan salam kepada yang besar. ” (HR. Bukhari)

Salam ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan, hal itu seperti yang dijelaskan dalam hadits Asma’ binti Yazid, bahwa pada suatu hari Rasulullah pernah melewati masjid dan melihat sekelompok wanita sedang duduk-duduk, maka beliau melambaikan tangan sembari mengucapkan salam.”(HR. Thabarani)

Salam ini juga berlaku bagi anak-anak kecil, sebagai usaha membiasakan mereka untuk senantiasa berpijak pada adab penghormatan dan salam. Dari Anas, bahwa dia pernah melewati anak-anak maka dia pun mengucapkan salam kepada mereka. Dan, Anas mengatakan, “Rasulullah melakukan hal itu.” (Muttafaq Alaih).

Di antara tata cara dan kaidah salam adalah pada malam hari diucapkan dengan lembut dan pelan, yang hanya didengar oleh orang yang tidak tidur dan tidak mengganggu orang yang sedang tidur. Itulah yang dikerjakan oleh Rasulullah seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Miqdad dalam haditsnya yang cukup panjang, dia menceritakan,

Kami memberitahukan kepada Nabi mengenaijatah susunya. Maka beliau pun datang di malam hari dan mengucapkan salam dengan suara yang tidak membangunkan orang tidur dan hanya terdengar oleh orang-orang yang jaga. Lalu beliau kembali dengan mengucapkan salam seperti yang diucapkannya pertama.” (HR. Muslim)

Selain itu, salam ini juga diucapkan pada saat memasuki maupun hendak meninggalkan majelis, seperti yang disabdakan Rasulullah dalam sebuah hadits,

Apabila salah seorang di antara kalian sampai di suatu majelis (pertemuan), hendaklah dia mengucapkan salam. Dan, apabila hendak berdiri, maka hendaklah dia mengucapkan salam. Dan, salam yang pertama tidak lebih baik dari salam yang kedua. “(HR. Tirmidzi)

Wanita Muslimah yang sadar yang memiliki keistimewaan dengan akhlak islaminya memahami bimbingan Nabawi yang luhur ini tentang salam dan adab sopan santunnya. Dia juga senantiasa menerapkannya secara mendalam dalam kehidupan khususnya maupun umumnya serta menganjurkan kepada orang lain untuk menerapkan dan berpegang teguh pada kaidah-kaidahnya.

**********

Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 396-401)

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan