Dunia mengenal buku “Fiqhuz Zakah” oleh Syekh Yusuf al-Qaradhawi hafizhahullah yang mendapatkan penghargaan dari Raja Faishal rahimahullah di tahun 1994. Namun tidak banyak yang tahu ada kitab tentang fikih zakat kontemporer yang setara atau bahkan melebihi kitab tersebut.

Kitab tersebut adalah “Az-Zakah wa an-Nizham al-Ijtimaiyah al-Mu’ashirah” karya seorang ulama Indonesia bernama Syekh Dr. Muhammad Nawawi Yahya Abdurrazzaq, MA, rahimahullah. Beliau digelari syekh An-Nawawi al-Mandari.

Beliau lahir tahun 1929 di Dusun Manjopai Desa Karama Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar. Ia dibesarkan dan dididik dalam lingkungan keluarga yang kental dengan tradisi agama Islam. Ayahnya adalah KH. Yahya Abdurrazak seorang imam masjid di Manjopai. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di kampung halaman di Mandar.

Muhammad Nawawi al-Mandari meninggalkan kampung halaman sesaat setelah peristiwa pembantaian Westerling di Mandar. Peristiwa tersebut lebih populer dengan sebutan tragedi korban 40.000 jiwa di Sulawesi Selatan khususnya di Galung Lombok Mandar.

Peristiwa maut Galung Lombok terjadi pada tanggal 2 Februari 1947. Dalam peristiwa di Galung Lombok ini, selain korban tewas juga beberapa tokoh dan pemuda ditangkap di antaranya saudara kandung Muhammad Nawawi sendiri ikut tertangkap namanya Zawawi Yahya.

Sehari setelah peristiwa Westerling di Galung Lombok, Muhammad Nawawi yang pada waktu itu baru berumur 18 tahun tinggalkan Mandar menuju Sawitto Pinrang. Selanjutnya, ia menuju Makassar. Pada tahun itu juga ia berhasil berangkat ke Mekah dan Madinah. Beberapa tahun setelah menyelesaikan studinya di Madrasah tingkat Aliyah di Mekah, lalu selanjutnya ke Kairo Mesir hingga menetap dan menghabiskan usianya belajar dan mengajar di sana.

Sejak usia yang masih muda itulah Muhammad Nawawi al-Mandari berangkat ke Saudi Arabia selanjutnya ke Kairo belajar hingga umurnya lebih banyak digunakan di luar negeri termasuk di Eropa seperti di Belanda. Hidup beliau lebih lama di Kairo dibandingkan di negeri sendiri, Indonesia. Bahkan ia memperistri wanita mesir.

Menurut Wajdi Zayadi: “Syaikh Nawawi Al–Mandari tidak pernah memikirkan perempuan macam apa yang akan menjadi pendampingnya kelak. Satu-satunya pernikahan yang dijalaninya adalah dengan seorang janda Mesir beranak dua. Alasannya sangat sederhana, beliau termasuk yang menganut paham bahwa dilarang sentuhan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahramnya. Dikarenakan waktu itu beliau sakit keras dan harus dirawat oleh perawat profesional dan secara kebetulan yang menjadi perawatnya adalah seorang janda beranak dua maka beliau memintanya untuk dijadikan sebagai istrinya, Naimah namanya”.

Kejeniusan Syaikh Nawawi Al – Mandari nampak jelas dari pilihannya menjadikan Syaikh Anis Ubbdah. Ia adalah sebagai promovendus seorang pengajar yang terkenal teliti di Al Azhar. Di masanya di Al Azhar tidak ada lagi pengajar yang lebih ketat daripada Anis Ubbdah ini. Karena itu, terkenallah ungkapan “kalau promovendus Anda Anis Ubbdah maka Anda dipastikan lulus bahkan sebelum sidang disertasi dimulai”. Demikian ketatnya Syaikh Anis Ubbdah dan demikian nekatnya Syaikh Nawawi Al – Mandari untuk menjadikan standar tinggi Syaikh Anis Ubbdah sebagai alat uji yang tak terbantahkan tentang kualitas disertasi Fiqh Zakat yang disusunnya.

Begitu luas cakupan dan bahasan kitab beliau, sampai zakat rumah kos-kosan juga diulas. Perdebatan kewajiban zakat bagi orang gila pun tak luput dari uraiannya. Pembahasan hukum-hukum Romawi dan Prancis modern juga menjadi salah satu pokok bahasan disertasinya.

Beliau juga pernah tinggal di Eropa. Menurut pengakuan orang dekatnya, Nawawi selalu berucap bahwa saya akan menghabiskan seluruh umur beliau untuk mengkaji zakat. Tidak kurang 3.000 referensi yang dibacanya untuk keperluan penulisan disertasi. Disertasinya ditulis mulai tahun 1969 dan selesai tahun 1979. Ujian promosi doktor tahun 1980.

Tidak lama setelah menyelesaikan Program Doktornya di Universitas Al-Azhar Kairo, ia pulang ke kampung kelahirannya di Dusun Mojopahit Polewali Mandar. Sekitar satu bulan di kampung halamannya, ia wafat dalam keadaan mendadak pada hari Kamis 9 Februari 1984 dalam usia 53 tahun. Beliau ditemukan meninggal di atas sajadahnya dalam keadaan mendekap kitab.

Riwayat pendidikannya tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah menengah diselesaikan di Mandar. Pendidikan selanjutnya di Madrasah tingkat Aliyah di Makkah al-Mukarramah Saudi Arabia. Setelah itu, Beliau ke Kairo Mesir masuk Program S1, S2, hingga S3 diselesaikan di Unuiversitas Al-Azhar Fakultas Syariah wa al-Qanun, Jurusan Fiqh al-Muqaran (Perbandingan Hukum dan Madzhab). Disertasinya diselesaikan pada tahun 1980. Muhammad Nawawi al-Mandari tercatat sebagai Doktor pertama bidang syariah khususnya zakat dalam perbandingan madzhab dari Asia Tenggara. Karya monumentalnya berupa disertasi terdiri atas 6 jilid dengan jumlah 3. 246 halaman.(Wajidi, 2018).

Sekilas Tentang Kitab Beliau Rahimahullah

Secara ringkas, sistematika pembahasannya terdiri atas:

1. Muqaddimah terdiri atas 16 halaman:
Membahas mengenai terminologi zakat dan sedekah dan landasan normatif dari al-Qur’an dan hadis mengenai ketetapan kewajiban zakat dalam Islam. Awal mula penetapan kewajiban zakat serta periodisasinya. Kebijakan Abu Bakar ash-Shiddiq mengenai zakat dan pengaruhnya dalam tatanan sosial dan negara serta pengembangan dakwah Islam.

2. Jilid I (Halaman 1- 626):
Membahas mengenai zakat sebagai ibadah dan kewajiban sosial sebagai modal dasar dalam pembentukan sebuah tatanan sosial dan negara. Kedudukan zakat dalam pembinaan sosial dalam Islam, sebagai kekuatan material dan spiritual. Harta dan sistem kepemilikan dalam perspektif kerangka hukum Islam dan hukum positif yang mengandung kebaikan universal melalui sistem zakat. Sistem sosial dan kekayaan material di era kontemporer dan perbandingannya dengan sistem zakat.

3. Jilid II (Halaman 627 – 1045):
Membahas mengenai kriteria zakat meliputi syarat-syarat global diwajibkannya zakat seperti muslim, mukallaf, memiliki secara sempurna, bebas dari hutang, nisab dan haul. Kedudukan niat dalam transaksi dan distribusinya. Apakah zakat wajib disegerakan atau boleh ditangguhkan penyerahannya? Ta’jil zakat dan klasifikasinya. Apakah kewajiban zakat gugur karena kematian pemiliknya?

4. Jilid III (Halaman 1046 – 1667):
Membahas mengenai terminologi harta dan batasannya yang wajib dizakati beserta kadar pendistribusiannya disertai dalil masing-masing. Masalah emas dan perak, hasil pertanian dan buah-buahan, hewan, harta perdagangan, dan lain-lainnya.

5. Jilid IV (Halaman 1668 – 2109):
Membahas secara rinci mengenai delapan kelompok yang berhak menerima pendistribusian zakat. Apakah delapan kelompok akan diberikan dalam jumlah yang sama atau diberikan atas dasar pertimbangan skala prioritas?

6. Jilid V (Halaman 2110 – 2779):
Membahas secara rinci mengenai perbandingan pendapat dari kalangan sahabat dan tabiin, ahli hukum Islam, serta empat imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal), dan dari kalangan imam madzhab Daud Zhahiriyah, Syi’ah dan Zaidiyah.

7. Jilid VI (Halaman 2780 – 3246):
Membahas mengenai tarjih. Mendialogkan atau mendiskusikan beberapa pendapat dari beberapa argumentasi yang dikemukakan, lalu memilah dan memilih pendapat yang dianggap lebih unggul dan tepat.

Disertasi DR. Muhammad Nawawi al-Mandary tersebut merupakan karya monumental ulama dan intelektual muslim Indonesia yang sangat penting dan dipandang perlu untuk dijadikan referensi dalam studi hukum Islam khususnya kajian tentang zakat dalam perbandingan madzhab dan hukum, serta kaitannya dengan system sosial dan pemberdayaan masyarakat masa depan serta kebijakan politik pemerintah.

Rahimahullah rahmatan waasiah, wa askanahu fasihu janaatah. ( Di olah dari berbagai sumber).

***********

Penulis: Ustadz Abu Muhammad Ibnu Rajab
(Pemerhati Politik dan Peradaban Islam)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan