Sebagian besar kita tahu cerita Ramayana (bukan department store ya) atau kisah Rama dan Shinta. Cerita epik karya Walmiki ini mengisahkan perjuangan Rama merebut kembali Dewi Shinta yang diculik Rahwana. Rama adalah ksatria sedangkan Rahwana adalah raksasa. Terjadi pertempuran hebat yang akhirnya diakhiri dengan kekalahan Rahwana dan kembalinya Shinta kepada Rama.

Dalam kisah itu Rahwana adalah raja yang dzalim dan kejam. Rahwana adalah tokoh antagonis sedangkan Rama adalah tokoh protagonis. Itulah pakem cerita Ramayana. Berbagai penggalan episode dalam kisah Ramayana itu dimainkan dalam pementasan pewayangan, baik wayang kukit maupun wayang orang.

Namun ada saja orang membuat cerita lain. Ada sebuah buku berjudul Rahuvana Tattwa yang menceritakan justru Rahwana adalah raja yang adil bijaksana dan dicintai rakyatnya. Nama lain Rahwana adalah Dasamuka yaitu orang yang mempunyaii 10 muka dalam arti kiasan yaitu Rahwana menguasai sepuluh cabang ilmu pengetahuan yang dikuasainya, seperti seni, kedokteran, astronomi, arstitektur, ilmu perang, tata kota hingga negarawan.

Dalam cerita itu, justru Rahwanalah raja yang didzalimi oleh Rama. Rama beserta pasukan koalisinya menyerbu negara Alengkadirja dan berusaha mendudukinya. Kisah Rahuvana Tattwa ini sempat dipentaskan dalam adegan drama berjudul ‘Rahu’ dari Teater Agustus di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar tahun 2019 lalu.

Sekarang pun di media sosial sedang dibangun citra bahwa Isr43l-lah bangsa yang didzalimi. Isr43l saat ini sedang menghadapi bangsa yang selalu menteror kehidupan mereka. Maka, dibuatlah poster2 dengan kalimat seperti save Isr43l, pra4y for Isr43l dsb.

Di media online pun ada banyak tayangan wawancara tokoh yang menampilkan dua belah pihak (Yahudi dan Palestina) di mana pembicaranya spt kurang imbang. Kalau ada perempuan diperkosa lalu perempuan tsb mengambil pisau dan mencabik2 pemerkosanya, maka orang Yahudi mengklaim bahwa merekalah perempuan itu. Inilah perang opini, perang pencitraan, perang pemikiran (ghazwul fikri) yang bisa saja orang terpengaruh (kalah) karena “serangan” ini.

Jika yang menyebarkan klaim itu adalah orang Yahudi, itu tentu dapat dipahami. Namun kalau orang Islam yang melakukannya, sebutan apa yang pantas untuk dirinya? Ada banyak video juga dari orang Islam yang secara tegas membela Isr34l dan mengecam h4m4s. Ada juga orang yang memperagakan ulama (pakai jubah, surban, berjenggot dan jidat hitam) menyatakan Isr34l adalah negara berdaulat sedangkan penentangnya adalah negara tiran. Video ini beredar di grup2 yang rata2 orang awam, kemudian dishare kemana2.

Jaman sekarang ini adalah jaman cyber, jaman online, jaman media sosial. Perang fisik di medan pertempuran didukung oleh perang cyber dan media sosial ini. Permainan opini mereka demikian canggih. Maka, kita perlu pejuang2 Islam di bidang ini untuk melawannya.

Semoga dalam peperangan ini kita tetap menjadi bagian dari Islam dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh perang opini yang mereka lancarkan.

************

Penulis: Dr. Budi Handrianto
(Sekprodi S3 Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Peneliti Senior INSISTS)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan