Wanita Muslimah yang menyadari petunjuk agamanya memiliki standar yang bijak dalam memilih calon suami, tidak cukup hanya ketampanan, penampilan, jabatan, kekayaan, dan lain sebagainya dan kriteria-kriteria yang tidak jarang dimintai oleh sebagian wanita. Tetapi dia akan melihat pada agama dan akhlaknya. Keduanya merupakan tiang kehidupan rumah tangga yang berhasil, dan merupakan perhiasan yang sangat berharga yang dikenakan oleh suami. Petunjuk Islam telah mengharuskan dua sifat dimiliki oleh laki-laki yang hendak melamar seorang wanita. Jika seorang pelamar telah memiliki kedua sifat tersebut, maka wanita yang dilamar harus menerimanya, jika tidak maka akan tersebar fitnah di tengah masyarakat dan akan terjadi kerusakan,
“Apabila datang kepada kalian seorang laki-laki yang kalian ridha agama dan akhlaknya, maka nikahilah dia, dan jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.“
Sebagaimana halnya seorang pemuda Muslim yang sejati tidak mau tergoda oleh wanita cantik yang hidup di tengah-fengah kerusakan, maka pemudi Muslimah yang menyadari ajaran agamanya tidak tergoda terhadap pemuda yang hidup selebor dan konyol meskipun tampan dan berpenampilan menarik. Tetapi dia akan tertarik terhadap pemuda beriman dan taat beribadah, yang sadar dan berpikiran terbuka, jauh dari kejahatan, serta bersih diri, baik agama dan moralnya. Sedangkan remaja Muslimah tidak cocok kecuali dengan pemuda Mukmin yang baik. Sedangkan pemudi yang buruk lagi sesat tidak cocok kecuali bagi pemuda yang buruk lagi sesat. Benar apa yang difimankan Allah ,
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji pula. Sedangkan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula.” (An-Nur: 26),
Hal ini tidak berarti wanita Muslimah harus merusak kecantikan dan penampilan serta memilih laki-laki yang jelek dan berpenampilan tidak menarik. Tetapi sebaliknya, merupakan haknya sebagaimana yang telah dikemukakan di atas untuk memilih laki-laki yang berkenan dalam dirinya dan diterima oleh perasaannya, baik dari segi penampilan lahiriyah maupun batiniahnya Sehingga dia tidak boleh mementingkan sisi lahiriyah saja dan mengabaikan sisi batiniahnya. Dalam masalah ini seorang wanita Muslimah berhak memilih laki-laki yang seluruh kepribadiannya dapat berkenan dan diterima dirinya serta dapat menguasai kekaguman dan penghormatannya. Wanita Muslimah yang memahami ajaran agamanya tidak silau matanya oleh pesona penampilan lahiriyah, dan tidak memalingkan pandangan dari hakikat dan subtansi dari pribadi laki-laki itu.
Yang demikian itu karena wanita Muslimah mengetahui bahwa seorang laki-laki memiliki hak kepemimpinan atas wanita, seperti yang telah dinashkan oleh Al-Qur’ an,
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, olek karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian lainnya (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dan harta mereka. ” (An-Nisa’: 34)
Oleh karena itu, wanita Muslimah harus memilih calon suami yang dapat dia banggakan kepemimpinannya atas dirinya, dan merasa senang mendampinginya, serta tidak pernah merasa menyesal atas pernikahan dengannya. Dia menginginkan suami yang selalu menggandengnya ke mana dia pergi melaksanakan tugas keduanya dimuka bumi ini, dalam membangun rumah tangga Muslimah, mendidik generasi-generasi yang bersih dan gagah berani, serta menggodok pemikiran, hati dan perasaan yang terbuka, dengan penuh pengertian, kasih sayang dan keharmonisan. Perjalanan kehidupan mereka tidak dihalangi oleh perbedaan moral dan karakter serta perbedaan agama. Yang demikian itu karena bahtera orang-orang Mukmin maupun Mukminah berlayar berdampingan dalam mengarungi perjalanan mulia, guna melaksanakan risalah besar yang dibebankan Allah Subhanahu wata’ala kepada manusia serta menjadikannya sebagai amanat yang dipikulkan di pundak laki-laki dan perempuan, seperti yang dilukiskan Al-Qur’ an berikut ini:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang Mukmin laki-laki darn perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki darn perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35).
Supaya perjalanan tersebut bisa selamat dan sampai pada tujuan, yaitu hubungan pernikahan yang erat, dan berdiri tiang-tiang keluarga yang kokoh, maka bangunan tersebut harus dibangun di atas pondasi yang kuat melalui pemilihan tepat terhadap calon suami.
Di antara wanita-wanita Muslimah agung yang memiliki kepribadian kuat dan tujuan yang luhur, serta wawasan dalam memilih calon suami adalah Ummu Sulaim binti Milhan, dia adalah wanita Anshar terdepan yang menerima lslam. Menikah dengan Malik bin Nadhar dan melahirkan seorang putra bernama Anas. Ketika masuk Islam, suaminya, Malik bin Nadhar membenci keislamannya tersebut, lalu dia meninggalkannya dengan penuh kemarahan, tetapi sang istri tetap pada keislamannya. Pada saat mendengar berita kematian suaminya, dia masih muda. Dia serahkan semuanya itu kepada Allah Subhanahu wata’ala dan dia kembali kepada putranya Anas, seorang anak yang baru berusia sepuluh tahun, kemudian dia berusaha menemui Rasulullah untuk mengabdikan diri kepadanya.
Selanjutnya datang kepadanya seorang pemuda Madinah yang paling tampan, kuat, dan kaya, yaitu Abu Thalhah. Sebelum masuk Islam, banyak wanita yang tertarik kepada kekayaan, ketampanan, dan kekuatannya itu. Dia mengira bahwa Ummu Sulaim akan merasa gembira dengan kedatangannya tersebut. Tetapi dia merasa dikejutkan oleh sikap Ummu Sulaim yang mengatakan kepadanya, “Wahai Abu Thalhah, bukankah engkau mengetahui bahwa Tuhan yang kamu sembah adalah pohon yang tumbuh dari tanah yang dipahat oleh seorang Habasyi dan keturunan si Fulan?”
Dia pun menjawab, “Benar!”
Selanjutnya Ummu Sulaim berucap, “Mengapa kamu tidak merasa malu bersujud di hadapan seonggak pohon yang tumbuh dari tanah, yang dipahat oleh orang Habasyi keturunan si Fulan’?” Abu Thalhah bersombong diri di hadapan Ummu Sulaim dan memancingnya dengan mahar yang sangat mahal dan dengan kehidupan yang serba kecukupan.
Tetapi Ummu Sulaim bersikap keras mempertahankan sikapnya tersebut, dan dengan lantang dia berucap, “Demi Allah, wahai Abu Thalhah, orang sepertimu pasti menjadi idaman, tetapi sayang engkau kafir, sedangkan aku wanita Muslimah, dan tidak boleh aku menikah denganmu. Apabila engkau memeluk lsleam, maka itulah sebagai mahar, dan aku tidak meminta yang lainnya darimu.”
Keesokan harinya Abu Thalhah kembali dengan memberikan mahar yang lebih besar dan pemberian yang sangat banyak. Tetapi Ummu Sulaim tetap pada pendiriannya, dan ternyata keteguhannya itu menambah kecantikan dan daya tarik di mata Abu Thalhah, maka dia pun berkata, “Wahai Abu Thalhah, tidakkah engkau mengetahui bahwa Tuhan yang kalian sembah itu dipahat oleh seseorang dan keluarga si Fulan, seorang tukang kayu? Dan jika kalian membakarnya, maka Tuhanmu ini akan terbakar? Kata-katanya itu menyentuh perasaan Abu Thalhah. Lalu Abu Thalhah bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah mungkin Tuhan itu dapat terbakar? Kemudian dengan bergetar mulutnya berucap, “Asyhadu alla ilaha illallah, wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah (Aku bersaksi bahwa tidak ada llah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). “
Dari ucapan itu, Ummu Sulaim dengan perasaan gembira menyirami sekujur tubuhnya segera berseru kepada putranya, Anas, “Wahai Anas, bangunlah! Kemudian Anas menikahkan ibunya dengan Abu Thalhah, dengan menghadirkan beberapa orang saksi sehingga pernikahan itu pun berjalan dengan lancar dan sah.”
Di antara kegembiraan Abu Thalhah dimanifestasikan dengan keinginannya untuk mempersembahkan seluruh kekayaannya di hadapan Ummu Sulaim, tetapi Ummu Sulaim bersikap teguh sebagai wanita jujur dan menjaga kehormatannya seraya berucap, “Wahai Abu Thalhah, sesungguhnya aku menikah denganmu karena Allah, dan aku tidak akan pernah mengambil maskawin selain keikhlasan karena-Nya.” Ummu Sulaim mengetahui bahwa dengan keislaman Abu Thalhah, dia tidak akan hanya beruntung mendapatkan suami yang berkecukupan saja, tetapi dia juga mendapatkan keuntungan pahala dari Allah Subhanahu Wata’ala , suatu keuntungan yang melebihi kepemilikan onta yang paling baik di dunia ini, seperti yang didengarnya dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ,
“Supaya Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui kamu adalah lebih baik daripada kamu harus memiliki humurun-ni’am (onta yang paling baik).” (Muttafaq Alaih)
Saudariku, kisah diatas adalah contoh Wanita Muslimah yang memiliki keislaman yang benar, dan darinya kita dapat mengambil kejernihan iman, kekuatan kepribadian, keselamatan akidah, serta pilihan yang baik dan tepat.
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 141-146)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)









































































