Muhammad bin Idris atau yang kita kenal sebagai Imam Syafi’I adalah salah satu ulama paling kuat hafalannya. Bagaimana tidak, usia tujuah tahun, sudah hafal al-Qur’an. Sepuluh tahun hafal al-Muwattha’ (kitab dengan ribuan Hadits paling shahin sebelum ada shahih Al-Bukhari). Dan 15 tahun sudah dapat izin berfatwa (dapat ijazah ifta) dari gurunya.

Anehnya, di tengah masa studinya dengan seorang ulama besar bernama Waki’, ia malah curhat kepadanya perihal hafalannya yang sulit melekat. Hal itu ia abadikan dalam gubahan syairnya:

شكوت إلى وكيع سوء حفظي # فأرشدي إلى ترك المعاصى
فأخبرني بأن العلم نور # و نور الله لا يهدى لعاصى

“Aku mengadu kepada Waki’ perihal hafalanku #
Maka ia memintaku meninggalkan maksiat
Lalu ia memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya #
Dan cahaya Allah tidak akan ditunjukkan kepada ahli maksiat”

Lewat syair di atas, jelaslah bahwa, hal paling ampuh dan “simple” menjawab keresahan Imam Naashir al-Sunnah bahkan kita semua adalah meninggalkan maksiat tanpa bertanya apa maksiatnya, lalu beralih pada taqwa.

Meskipun tidak bisa disamakan antara maksiatnya imam Syafi’I dan kita. Kononnya, ia hanya tidak sengaja melihat betis perempuan ketika angin sedang-kencang-kencangnya. Sedangkan kita? Kalau itu saja bisa menghancurkan hafalan, apalagi yang lebih dari itu?

Satu-satunya solusi tidak lain dan tidak bukan adalah taqwa. Sebab kata Allah: “Bertaqwalah kepada Allah, niscaya Allah akan ajarkan (berikan) kamu ilmu” (QS 2: 282).

Taqwa bermakna “menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya”. Kata seorang ulama, taqwa itu maju-mundur. Kalau ada perintah, maju. Kalau ada maksiat, mundur. Maju kena mundur kena. Maju-mundur kena pahala.

Lagipula ilmu itu milik Allah, maka untuk memperolehnya harus dengan beradab kepada-Nya. Ibarat sorang yang meminta jambu dari tetangganya, namun disaat yang sama ia sering melempar batu kerumah tetangganya itu, apakah jambu itu akan diberikan kepadanya? Maka sudah sepatutnya penuntut ilmu membersihkan jiwanya dari segala dosa, lahir maupun batin (lihat juga buku Catatan Pendidikan karya Dr. Muhammad Ardiansyah).

Dalam Risalah al-Laduniyyah, Imam al-Ghazali membagi metode meraih ilmu menjadi dua macam: (1) Ta’allaum al- Insani. Yakni dengan belajar, membaca buku, berpikir, diskusi, bertanya, dll. (2) Ta’lim al-Rabbani. Pertama wahyu yang khusus untuk Nabi. Kedua ilham untuk selain Nabi. Cara memperolehnya hanya dengan taqwa.

Dalam bahasa lain, jenis pertama disebut Ilmu Kasbi (hasil usaha sendiri) dan yang kedua disebut Ilmu Wahbi (pemberian langsung dari Allah). Ilmu jenis kedua inilah yang dimaksud dalam ayat tadi.

Jadi, ilmu tidak hanya didapat dengan kesungguhan atau usaha, tapi juga harus dengan ketaqwaan. Bahkan yang dengan taqwa itulah yang lebih utama. Salah pula kalau hanya pilih salah satu. Kedua metode itu harus disatupadukan agar mendapat limpahan ilmu.

“Maka dalam tradisi pesantren, para ulama menekankan untuk tidak hanya belajar, tapi juga bertaqwa. Khususnya tahajjud dan puasa Sunnah,” ujar Ustadz Ardi.

Menurutnya juga, dengan taqwa, ilmu pasti diamalkan. Dengan amal, orang akan mendapat ilmu yang belum pernah dia pelajari sama sekali.

Ibnu Sina pernah tidak paham buku Aristoteles. Padahal buku itu sudah ia baca kurang lebih 40 kali. Karena kuatnya usaha dan ibadah, ketemulah buku Al-Farabi. Berkat buku itu, ia pun langsung bisa memahami maksud dari tulisan murid Plato itu.

Kalau terus tambah ilmu tapi tidak tambah taqwa, pasti akan semakin jauh dari Allah. Sebagaimana sabda Nabi, “Man izdada ‘ilman wa lam yazdad hudan, lam yazdad min Allah illa bu’dan.”

Karena tidak dapat hidayah dan semakin jauh dari Allah, akibatnya ia hanya akan menggunakan ilmunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan merusak.

Dalam menafsirkan Hadits “Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, atau enam puluh cabang lebih…”, Imam al-Ghazali mengatakan bahwa “adza” yang dimaksud adalah kotoran hati, dan “tharik” adalah jalan untuk mendekatkan diri pada Allah. Maka, “Imaathatul adza ‘an al-thariq,” juga beliau maknai: membersihkan segala kotoran jiwa untuk semakin dekat kepadaNya.

Lalu bagaimana dengan zaman sekarang yang maksiatnya “ngak tanggung-tanggung”, apalagi masalah aurat. Menurut mudir Ponpes At-Taqwa Depok itu, untuk meminta mereka semua menutup aurat itu sangat sulit.

Tapi, sebagaimana kaidah ushul fiqih, perkara sulit tidak membuat perkara mudah gugur. Maka, cukuplah pejamkan mata sebisa mungkin. Tentu di waktu dan kondisi yang tepat.

‘Ala kulli hal, mumpung bulan puasa, saatnya kita jadikan momen ini untuk meraih taqwa, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Akan lebih pas kiranya kalau bulan ini juga diabadikan dengan memperbanyak ibadah sekaligus menuntut ilmu.

Kalau dengan puasa kita dapat taqwa, insyaallah dengan taqwa limpahan ilmu Allah berikan.

************

Kamis, 15 April 2021/3 Ramadhan 1442

At-Taqwa College Cilodong-Depok

Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa At-Taqwa College Depok & STID Mohammad Natsir, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan