Islam telah memberikan keringanan kepada wanita untuk tidak mengikuti shalat jama’ah di masjid. Tapi pada waktu yang sama Islam juga memperbolehkannya keluar rumah ke masjid untuk mengikuti shalat jama’ah. Begitulah yang pernah dikerjakan shahabat wanita yang shalat di belakang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Dan Aisyah, Ummul-Mukminin Radhiallahu Anha, dia berkata, “Suatu kali Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam shalat subuh, lalu ada beberapa wanita Mukminah yang mengenakan hijab, ikut shalat bersama beliau, kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing dan tak seorang pun yang mengetahui siapa saja wanita-wanita itu,”(HR. A-Bukhari).

Juga dari Aisyah, dia berkata, “Kami adalah para wanita Mukminah yang pernah ikut shalat subuh bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam , sambil mengenakan hijab. Kemudian mereka kembali ke rumah masing-masing seusai shalat. Sementara tak seorang pun yang mengetahui siapa saja mereka itu, karena hari masih gelap.” (HR. Asy-Syaikhani).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memendekkan shalatnya saat mendengar tangis seorang bayi, karena khawatir tangis bayi itu bisa merisaukan hati ibunya. Dalam hal ini beliau bersabda, yang ditakhrij Al-Bukhari dari beberapa jalan,

“Sesungguhnya aku benar-benar sudah masuk shalat dan aku bermaksud hendak memanjangkannya. Lalu kudengar suara tangis bayi. Maka kupercepat shalatku, karena aku menyadari kegalauan hati ibunya karena tangis bayi itu.”

Rahmat Allah terhadap wanita benar-benar amat besar, karena Dia tidak membebaninya kewajiban ikut shalat jama’ah di masjid saat melaksanakan shalat wajib lima waktu. Andaikan Allah membebankannya, tentu akan sangat menyulitkannya dan menjadi beban di pundaknya serta tidak akan sanggup melaksanakannya. Sementara kita pun melihat masih banyak kaum laki-laki yang malas mengikuti shalat jama’ah di masjid secara ajeg, lalu mereka shalat di mana pun yang diinginkannya, di tempat kerja, di rumah atau bahkan terkadang di sembarang tempat.

Wanita diberi keringanan untuk tidak ikut shalat jama’ ah di masjid, karena tugas rumah tangga yang harus dipikulnya dan berbagai kesibukan dalam mengurus rumah, suami dan anak-anak, menutup kemungkinan baginya untuk meninggalkan rumah lima kali dalam sehari. Bahkan mustahil dia bisa mengerjakan semua itu sendirian. Maka merupakan kebijaksanaan yang sangat tinggi nilainya jika mengikuti shalat jama’ah di masjid hanya berlaku bagi kaum laki-laki, bukan bagi wanita. Bahkan menjadikan shalat wanita di dalam rumahnya jauh lebih baik daripada shalatnya di masjid. Namun begitu, dia diberi kebebasan untuk menentukan pilihan. Apabila menghendaki, dia bisa mendirikan shalat di dalam rumahnya, dan apabila menghendaki, dia bisa keluar dan rumah untuk ikut shalat di masjid. Suami tidak boleh melarang jika istri meminta izin kepadanya untuk pergi ke masjid, seperti yang telah ditetapkan Rasulullah dalam beberapa hadits, di antaranya,

“Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian datang ke masjid, namun rumah mereka lebih baik bagi mereka. “(HR. Abu Dawud dari Ahmad. Ini adalah hadits hasan lighairihi)

Begitu pula sabda beliau,

“Jika salah seorang di antara istri kalian meminta izin untuk pergi ke masjid, maka janganlah dia mencegahnya.” (HR. AL-Bukhari dan Muslim)

Banyak kaum laki-laki yang mengikuti perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, dengan memperkenankan istrinya pergi ke masjid, sekalipun sebenarnya kepergian istrinya ini bertentangan dengan jalan pikiran dan batinnya. Tidak ada yang lebih dapat menunjukkan hal ini selain dari hadits Abdullah bin Umar, dia berkata, “Ada salah seorang istri Umar yang selalu ikut shalat subuh dan isya’ secara berjama’ah di masjid. Lalu ada yang bertanya kepadanya, “Mengapa engkau keluar, padahal engkau sudah tahu bahwa Umar tidak menyukai hal ini dan dia juga cemburu?”

Dia ganti bertanya, “Apa yang menghalanginya untuk melarangku?”
Orang itu menjawab, “Yang menghalanginya adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam , Janganlah kalian menghalangi hamba-hamba Allah yang perempuan untuk datang ke masjid-masjid Allah’.” (
Shahih Al-Bukhary, Kitabul-Jumu’ah)

Berkaitan dengan petunjuk Nabawi yang memperkenankan wanita untuk datang ke masjid dan larangan menghalanginya datang ke sana, maka masjid-masjid itu pernah menjadi saksi keragu-raguan wanita pada zaman Nabawi dan juga sesudahnya, sekalipun pintunya selalu terbuka bagi wanita untuk mendirikan shalat, menghadiri dakwah dan mendengarkan ceramah serta bergabung dalam kehidupan orang-orang Muslim secara umum. Hal ini terjadi setelah ada pensyariatan shalat jama’ah dalam kehidupan orang-orang Muslim. Dulunya mereka shalat dengan menghadap ke arah Baitul-Maqdis, sebelum kiblat mereka beralih ke arah Ka’bah. Setelah turun perintah Allah untuk menghadap ke arah Ka’ bah, maka yang sebelumnya para Muslimin dan Muslimat shalat ke arah negeri Syam, beralih ke arah Ka’bah. Pengalihan ini berlaku untuk semuanya.

Sejak dulu hingga kini masjid senantiasa menjadi sentral cahaya dan petunjuk bagi orang-orang Muslim dan Muslimah. Dalam lingkup yang suci mereka melaksanakan ibadah. Dan atas mimbarnya terdengar nasihat, petunjuk dan bimbingan. Sejak permulaan Islam para wanita ikut andil di sana dan juga datang ke masjid.

Ada beberapa nash shahih yang menegaskan keterlibatan wanita dan kedatangannya di masjid, yang semuanya mengisahkan kedatangan para wanita di masjid untuk mengikuti shalat Jum’at, shalat gerhana matahari, shalat Id dan menyambut seruan mu’adzin, “Shalat jama’ah dimulai.”

Di dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Ummu Hisyain binti Haritsah bin An-Nu’man berkata, “Aku tidak menghapal surat Qaf kecuali dari perkataan Rasululah Shallallahu Alaihi Wasallam, yang dibaca setiap Jum’at dan atas mimbar, saat beliau menyampaikan khutbah.”

Surat yang sama juga dihapalkan saudari Umarah binti Abdurrahman, juga dengan cara yang sama. Ada petunjuk Nabawi tentang mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadiri shalat Jum’at, dengan menganjurkan kebersihan dan mensunahkan mandi bagi laki-laki dan perempuan,

Janganlah kalian melarang wanita-wanita kalian datang ke masjid namun rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Ada sebagian laki-laki yang khawatir akan muncul cobaan dengan kekhawatiran yang terlalu dibesar-besarkan, lalu dia melarang istrinya pergi ke masjid. Di sinilah berlaku larangan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam untuk menghalangi wanita mengikuti shalat jama’ah di masjid. Seperti inilah yang dilarang hadits di atas. Ada juga beberapa hadits lain yang menegaskan keinginan Nabi agar para wanita mendatangi tempat-tempat yang baik dari majlis dakwah kaum Musiimin di masjid. Di antaranya sabda beliau yang diriwayatkan Mujahid dari lbnu Umar.

Janganlah kalian menghalangi para wanita untuk pergi ke masjid pada waktu malam.”

Salah seorang anak Abdullah bin Umar berkata, “Kita tidak akan membiarkan para wanita itu keluar lalu mereka menjadi rusak karenanya.”
Lalu lbnu Umar nenghardik anak itu seraya berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sudah menetapkan masalah ini, sementara engkau berkata seperti tu.”
(Shahih Muslim, Bab Khurujun-Nisa’ Ilal-Masajid)

Dalam Shahih Muslim juga disebutkan sabda beliau yang lain, yang diriwayatkan Bilal bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya,

“Janganlah kalian menghalangi bagian para wanita dari masjid-masjid jika mereka meminta izin kepada kalian.”

Lalu Bilal berkata, “Demi Allah, kami akan menghalangi mereka menetapkan masalah ini, sementara engkau berkata, “Kami akan menghalangi mereka.

Sabda beliau yang lain,

“Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian mendatangi masjid jika mereka meminta izin kepada kalian untuk ke sana.” (HR. Muslim)

“Janganlah kalian menghalangi hamba-hamba Allah yang perempuan untuk mendatangi masjid-masjid Alah.” (HR. Asy-Syaikhani)

“Jika istri-istri kalian meminta izin kepada kalian mendatangi masjid- masjid, maka izinkanlah mereka.”

Keikutsertaan wanita Muslimah dalam shalat jama’ah bersama orang-orang Muslim adalah mubah dan juga mengandung kebaikan. Tetapi hal ini dibatasi dengan beberapa syarat, yang paling penting, dia tidak boleh mengenakan minyak wangi dan tidak berhias atau bersolek. Zainab Ats- Tsaqafiyyah pernah meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda,

Jika salah seorang di antara kalian (para wanita) mengikuti shalat isya, maka janganlah dia mengenakan minyak wangi pada malam itu.” (HR. Muslim)

Cukup banyak hadits-hadits mulia yang melarang wanita mengenakan minyak wangi selagi dia pergi ke masjid, di antaranya sabda beliau,

Jika salah seorang di antara kalian datang di masjid, maka janganlah dia memakai minyak wangi. “(HR. Muslim)

Siapa pun wanita yang terkena minyak wangi, maka janganlah dia ikut shalat isya’ yang akhir bersama kami.” (HR Muslim)

Saudariku, sungguh amat besar rahmat Allah kepada kaum wanita, karena Dia tidak membebaninya kewajiban ikut shalat berjama’ah di masjid saat melaksanakan shalat wajib lima waktunya. Tapi, jika kita para muslimah ingin ikutserta dalam shalat jama’ah bersama orang-orang muslim, maka itu boleh-boleh saja dan tidak ada larangan akan hal itu. Akan tetapi, ada beberapa syarat yang harus dipatuhi oleh para muslimah ketika ingin ikutserta shalat berjama’ah yaitu tidak memakai minyak wangi dan tidak berhias atau bersolek, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Kalau pun kita para muslimah diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, namun jauh lebih baik dan agar lebih terjaganya kita dari seburuk-buruknya fitnah, islam menjadikan shalatnya kaum wanita jauh lebih baik didalam rumahnya.

**********

Sumber: Jati Diri Wanita Muslimah, Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi, hal 13-16

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan