Penyair terkemuka asal Lebanon, Kahlil Gibran, pernah berkata: “Kasihan bangsa yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak ia panen, dan meminum anggur yang ia tidak memerasnya.

Kasihan bangsa yang menjadikan orang dungu sebagai pahlawan, dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan, tidak sesumbar kecuali di reruntuhan, dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala, filosofnya gentong nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan terompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan terompet lagi.

Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa yang terpecah-pecah, dan masing-masing pecahan menganggap dirinya sebagai bangsa.” (Kahlil Gibran, Cinta, Keindahan, Kesunyian, 2019: 184-185)

Tahun 2020 kemarin, dapatkah bangsa ini dikategorikan sebagai bangsa yang kasihan dengan ciri-ciri di atas?

Lalu ia kembali berkata: “Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku. Pertama kali ketika aku melihatnya lemah padahal seharusnya ia bisa kuat.

Kedua kali ketika melihatnya berjalan terpincang-pincang di hadapan seorang yang lumpuh

Ketiga kali ketika berhadapan dengan pilihan yang sulit dan yang mudah, ia memilih yang mudah

Keempat kalinya, ketika ia melakukan kesalahan, dan menghibur diri dengan mengatakan bahwa semua orang juga melakukan kesalahan

Kelima kali, ketika ia menghindar karena takut ia mengatakannya sebagai sabar

Keenam kali ketika ia mengejek kepada sebentuk wajah buruk, padahal ia tahu bahwa wajah itu adalah salah satu topeng yang sering kali ia kenakan

Dan ketujuh, ketika ia menyanyikan lagu pujian, dan menganggap itu sebagai sesuatu yang bermanfaat.” (2019: 216-217).

Tahun 2020 kemarin, pantaskah kita “mencela” diri sendiri disebabkan adanya satu, dua, atau mungkin semua alasan pencelaaan di atas dalam diri kita?


Kalau memang bangsa dan diri kita mirip dengan kriteria di atas, mari evaluasi dan lekas instropeksi di awal tahun ini demi mengharapkan hasil yang diidam-idamkan. Tapi ingat, jangan sibuk membenahi bangsa dan orang lain, sampai-sampai lupa akan kekurangan dan kebusukan diri sendiri. Ingatlah, sebuah bangsa tidak akan sukses sebelum ada perwakilan dari bangsa itu berupa individu-individu/Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar dan baik terlebih dahulu.

Allah pernah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS 13: 11) dan “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS 59: 18).

Nabi pun juga pernah bersabda bahwa manusia itu adalah tempat nya salah dan lupa. Namun beliau menegaskan kalau sebaik-baiknya orang yang salah dan lupa itu adalah mereka yang mau bertaubat. Mereka yang berusaha kembali pada jalan yang benar. Mereka yang senantiasa belajar dari pengalaman yang kurang baik di masa lalu, untuk segera dibenahi di kemudian hari.

Oleh karenanya Hujjatul Islam Imam al-Ghazali pernah mengatakan, “Haasibuu anfusakum qabla an tuhaasabu” (hisablah dirimu sendiri sebelum nantinya kamu dihisab oleh Allah). Pengarang Ihya’ itu hendak mengingatkan setiap manusia untuk senantiasa instrospeksi dan evaluasi diri. Bukan untuk apa-apa, melainkan supaya tidak seperti keledai yang jatuh pada lubang yang sama dan tidak terkena gigitan ular untuk yang kedua kalinya.

Maka, ada baiknya, kita kembali merenungkan untaian kalimat indah berikut ini: “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”

************

Kamis, 22 Oktober 2020

At-Taqwa College Cilodong-Depok

Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa At-Taqwa College Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan