“Apabila aku berbuat dosa maka aku mengetahui akibatnya dari tingkah laku keledai dan pembantuku,”_Fudhail lbin Iyadh
“Guruku,” kata Ibnul Jala’, “melihatku ketika aku sedang mengamati seseorang yang tidak berjenggot (mirip perempuan), kata beliau, ‘Apa ini? Sungguh, engkau akan menanggung akibatnya. Maka aku lupa hafalan Qur’anku setelah 40 tahun.”
Para salafus saleh menyebutkan hal tersebut kepada kita untuk mengingatkan bahaya akibat dosa dan maksiat. Berapa banyak kenikmatan yang dicabut dari kita karena dosa, tapi kita tidak menyadarinya. Penyebabnya adalah hati kita lalai sehingga tidak bisa merasakan hukuman yang ada.
“Ketahuilah bahwa musibah yang paling besar adalah tertipu dengan keselamatan setelah mengerjakan dosa, karena hukuman datangnya belakangan. Sedang hukuman yang paling besar adalah kalau orang tidak merasa tertipu sehingga ketika agamanya hilang, hatinya buta atau buruk dalam menentukan pilihan dirinya namun dia mendapati badannya sehat dan segala tujuannya tercapai.”
Berangkat dari sini, seorang tabi’in besar, Abu Hazim mengingatkan kita. Kata beliau, “Apabila engkau melihat Allah Azza wa Jalla terus-menerus memberikan nikmat-Nya kepadamu sementara engkau bermaksiat kepada-Nya maka waspadalah!”
Para tabi’in mendidik para pengikut dan muridnya agar selalu waspada terhadap akibat dosa. Al-Amasy berkata, “Ketika kami berada di samping Mujahid, beliau berkata, ‘Hati manusia seperti begini’, lalu beliau menghamparkan telapak tangannya. Apabila seseorang berbuat dosa maka akan seperti ini’, beliau melipat satu jarinya, ‘kemudian apabila berbuat dosa lagi beliau melipat jari kedua, kemudian apabila berbuat dosa lagi’, beliau melipat jari ketiga, ‘kemudian apabila berbuat dosa lagi, beliau melipat jari keempat. Kemudian beliau menggenggamkan ibu jarinya bersama jari-jari yang lain tatkala seseorang berbuat dosa yang kelima, dan berkata, ‘Kemudian ditutuplah hatinya’. “
Maimun bin Mihran mengatakan, “Apabila seorang hamba berbuat dosa maka ada satu titik hitam di hatinya. Apabila dia bertobat maka titik hitam tersebut terhapus. Oleh karena itu, engkau melihat hati orang mukmin berkilau seperti cermin, dari mana pun setan datang pasti dia melihatnya. Adapun yang selalu berbuat dosa maka setiap kali dia berbuat dosa maka titik hitam hinggap di hatinya dan terus memenuhi hatinya hingga hatinya menjadi hitam, tidak bisa melihat setan ketika mendatanginya.”
Dosa dan maksiat, sebagaimana diajarkan oleh para salaf saleh dari generasi tabi’in, adalah membawa kemalangan bagi pelakunya dan mempunyai akibat yang buruk bagi diri dan keluarga. Karena kemaksiatan, seorang hamba menjadi hina di sisi Rabb-nya dan hilang kewibawaannya dari hati para makhluk. Hasan Al-Bashri mengatakan, “Mereka menganggaP kecil Allah sehingga bermaksiat kepada-Nya. Kalau mereka mengagungkan-Nya maka Allah akan melindungi mereka.”
Para salafus saleh selalu mengingatkan kita untuk selalu waspada terhadap akibat dosa dan maksiat, karena hati mereka selalu sadar. Apabila dunia terasa sempit, periksalah dirimu karena kesempitan hanya datang karena akibat dosa yang telah engkau kerjakan. Apabila engkau susah memahami ilmu atau lupa hafalan, periksalah dirimu. Apabila engkau terputus dari mengerjakan ketaatan yang dahulu biasa engkau kerjakan, itu karena dosa yang telah engkau kerjakan.
“Berapa banyak orang membiarkan pandangannya berbuat dosa sehingga Allah membutakan mata hatinya. Atau, dia membiarkan lisannya sehingga hatinya tidak jernih, atau dia lebih memakan makanan yang syubhat sehingga menghalang ibadahnya, tidak bisa menegakkan qiyamullail dan kehilangan kenikmatan dalam beribadah.”
Oleh karena itu, Sufyan Ats-Tsauri secara terus terang memberitahu kita, “Aku terhalang dari mengerjakan qiyamullail karena dosa yang pernah aku kerjakan lima bulan yang lalu.”
Ad-Dhahak berkata, “Tidaklah seseorang mempelajari Al- Qur’an lalu lupa kecuali karena dosa yang telah dia kerjakan. Karena, Allah Ta’ala telah berfirman, ‘Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan- kesalahan kamu). (Asy-Syura: 30), dan lupa hapalan Al-Qur’an adalah musibah terbesar.”
“Aku meyakini,’ kata Abdullah bin Mubarak, “jika seseorang lupa ilmu yang dia pelajari, itu karena dosa yang dia perbuat. “
Para salafus saleh sangat waspada, setiap dari mereka mengetahui letak dosa, sebab, serta pengaruhnya. Mereka membiarkannya tunduk dalam kemaksiatan. Abu Ayyub Al-Hammal mengatakan, “Aku berjanji kepada diriku untuk tidak berjalan dalam keadaan lalai, dan aku tidak berjalan kecuali sambil berzikir. Suatu ketika, aku berjalan dalam keadaan lalai maka tiba-tiba kakiku pincang dan aku mengetahui dari mana aku harus mengulangi. Kemudian aku menangis dan memohon sepenuh hati kepada Allah serta bertobat dari kelalaian tersebut, maka hilanglah kepincanganku. Kemudian selalu berusaha mendidik dan mengobati jiwanya, tidak pernah aku kembali ke tempat di mana aku mulai lalai dan kembali berzikir lalu berjalan dengan selamat.”
Abu Amru Ulwan berkata, “Suatu hari aku pergi ke pasar di Rahbah untuk suatu keperluan, kemudian aku melihat jenazah yang sedang diusung maka aku mengikutinya untuk menshalatinya. Aku terus mengiringinya bersama sekumpulan orang hingga selesai acara penguburan, namun tanpa disengaja mataku tertuju kepada seorang wanita cantik. Aku terus memandanginya hingga aku tersadar dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaii raji’un. Aku terus beristighfar dan kembali ke rumah namun seorang nenek tua berkata kepadaku, “Tuan, kenapa wajahmu menjadi hitam?”Maka aku bergegas mengambil cermin dan benar aku melihat wajahku hitam. Kemudian aku merenungi diri, melihat apa yang telah aku kerjakan. Maka, aku teringat pandangan tersebut, lalu aku menyendiri untuk selalu beristighfar, memohon ampun selama 40 hari. Kemudian terdetik dalam hatiku untuk mengunjungi guruku Al-Junaid. Aku pun segera pergi ke Baghdad. Ketika aku mendatangi kamar yang biasa beliau huni dan mengetuk pintu, maka beliau berkata, ‘Masuklah, Abu Amru! Engkau telah berbuat dosa di Rahbah dan kita memohonkan ampun bagimu di Baghdad?
Sufyan berkisah tentang seseorang yang berkata, “Sungguh, aku sekali berdusta dan aku melihat pengaruhnya dalam amalanku.”
Abu Sulaiman Ad-Darani mengatakan, “Aku sedang sakit dan aku mengetahui dosa mana yang membuatku sakit.”
Makhul Asy-Syami berkata, “Aku melihat seseorang sedang shalat. Setiap kali rukuk dan sujud dia menangis maka aku menuduhnya dalam hati bahwa orang tersebut berbuat riya dengan tangisnya. Karena itu, aku terhalang dari menangis selama setahun.
Saudaraku, Begitulah orang mukmin, mereka tidak kenal lalai dari dosa yang telah diperbuatnya. “Tidak ada yang merasakan nikmatnya maksiat kecuali orang yang mabuk dengan kelalaian. Adapun orang mukmin, ia tidak merasakan kenikmatan maksiat karena ketika menikmatinya ia segera teringat akan keharamannya dan takut akan akibatnya. Apabila pengetahuannya kuat maka dia melihat dekatnya Zat Yang Melarangnya, sehingga hidupnya tersiksa ketika menikmatinya.”
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 125-129
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)













































































