“Aku tidak suka mengucapkan satu patah kata pun sebelum aku mempersiapkan jawabannya untuk Allah. “– Hatim Al-Asham.
Wahin bin Al-Wird pernah mengatakan, “Barang Siapa yang menghitung ucapannya dibanding amalannya maka dia akan sedikit bicara.”
Umar bin Abdul Aziz berkata, “Barang siapa yang tidak menghitung ucapan dari amalannya maka akan banyak dosa.”
Bisyr bin Mansur berkata, “Ketika kami sedang bersama Ayyub As-Sakhtiyani, kami berbuat salah dan membicarakannya maka beliau berkata, “Cukup, kalau aku mau mengabarkan kepada kalian apa saja yang aku ucapkan hari ini maka akan aku kerjakan’.”
Sungguh, kata-kata yang keluar dari generasi ini tak lain adalah kebaikan. Mereka telah meninggalkan banyak kilasan tarbiyah dalam mendidik agar tidak banyak bicara hingga mereka membatasi jalur perkataan mereka. Sebagaimana yang dikatakan Rabi’ bin Khutsaim, “Sedikitkan dalam berbicara kecuali dalam sembilan hal: tasbih, takbir, tahlil, tahmid, meminta kebaikan, berlindung dari kejelekan, amar makruf, nahi munkar, dan membaca Al-Qur’an.”
Mereka telah menggariskan rambu-rambu tarbiyah di atas manhaj mereka agar kita bisa berjalan di atasnya dan menimba langsung dari sumber mereka yang jernih, sebagaimana yang dikatakan Ya’la bin Ubaid, “Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang semoga bisa bermanfaat bagi kalian, karena dia sangat bermanfaat bagiku; Atha’ bin Abi Rabah pernah berkata kepadaku, ‘Keponakanku, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian tidak suka perkataan yang tidak bermanfaat. Mereka juga menganggap yang termasuk perkataan yang tidak bermanfaat adalah segala perkataan selain bacaan A-Qur’an, amar makruf atau nahi munkar, atau bicara untuk memenuhi kebutuhanmu yang berhubungan dengan pekerjaan yang harus engkau jalani. Apakah kalian mengingkari firman Allah Ta’ala: ‘Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). (Al-Infithâr: 10-11)
‘Ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir’. (Qâf: 17-18). Tidakkah salah seseorang dari kalian malu tatkala dibukakan buku catatannya yang berisi amal sehari-harinya ternyata banyak berisi hal-hal tidak manfaat, yang bukan berhubungan dengan masalah din atau dunianya’.”
Demikianlah para salafus saleh memberikan batasan-batasan agar kita bisa membatasi perkataan kita. Mereka telah menggariskan garis pendidikan sebagaimana yang dikatakan oleh Abul Hasan bin Muhammad Az-Zahid, “Sejak tiga puluh tahun aku tidak mengucapkan sepatah kata pun yang aku perlu untuk merevisinya.”
Prinsip para salafus saleh ialah cermat dalam setiap perkataan. Apabila perkataan itu karena Allah maka mereka mengucapkannya, sebaliknya apabila karena selain Allah maka mereka diam. Setiap mengucapkan satu kata, mereka telah mempersiapkan jawabannya tatkala nanti ditanya di hadapan Allah Ta’ala. Hatim Al-Asham mengatakan, ‘Aku tidak suka mengucapkan satu patah kata pun sebelum aku mempersiapkan jawabannya untuk Allah, kalau Dia menanyakan kepadaku nanti pada hari kiamat: kenapa engkau mengatakan ini? Maka aku dapat menjawab: wahai Rabb-ku, karena begini dan begitu.”
Para pengikut generasi ini juga telah memahami manhaj mereka sehingga mereka berada di atas manhaj tersebut dan mengikuti sunah mereka. Ibnu Al-Imad Al-Hambali mengatakan, “Tidaklah aku mengucapkan satu kata dan mengerjakan satu amalan melainkan aku telah mempersiapkan jawabannya tatkala nanti ditanya di hadapan Allah Azza wa Jalla.”
Mansur bin Ibrahim berkata, “Tidaklah aku melihat Rabi’ bin Khutsaim mengucapkan satu perkataan sejak dua puluh tahun melainkan dengan perkataan yang bisa naik ke langit. Allah Ta’ala berfirman: ‘Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh’.” (Fâthir: 10)
Uraian tersebut menunjukkan kesadaran penuh terhadap tabiat nafsu, serta kewaspadaan yang sempurna terhadap apa yang diucapkan oleh lisan. Salah seorang dari Tamim mengatakan, “Aku hidup bersama Rabi’ selama sepuluh tahun, aku tidak mendengarnya bertanya tentang urusan dunia kecuali dua kali; pertama, apakah ibumu masih hidup? Dan, berapa masjid yang engkau miliki?”
Generasi ini selalu berusaha mentarbiyah para pengikutnya untuk berhenti sejenak mencermati setiap kalimat yang keluar dari mulut. Salah seorang dari mereka mengatakan, “Apabila engkau mau berbicara maka ingatlah Zat Yang Maha Mendengar; apabila engkau mau melihat maka ingatlah Zat Yang Maha Melihat; dan apabila ingin sesuatu maka ingatlah Zat Yang Maha Mengetahui.”
Sufyan Ats-Tsauri berkata kepada murid-muridnya, “Kabarkan kepadaku, andaikata di samping kalian ada seseorang yang akan melaporkan apa yang kalian ucapkan kepada penguasa, maka apakah kalian akan mengucapkan sesuatu?” Mereka menjawab, Tidak” Beliau berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya bersama kalian ada malaikat yang selalu melaporkan ucapan kalian kepada Allah Azza wa Jalla.”
Bahkan usaha mereka untuk meninggalkan pembicaraan yang tidak bermanfaat dan rasa tanggung jawab atas setiap kata yang keluar dari mereka sampai kepada derajat sebagaimana yang dilakukan Rabi’ bin Khutsaim kepada putrinya ketikka datang kepadanya, katanya, “Ayah, bolehkah aku pergi bermain?” Beliau menjawab, “Pergi dan ucapkanlah yang baik.” Tatkala putrinya datang berkali-kali dengan perkataan yang sama maka ada seseorang berkata kepada beliau, “Biarkan putrimu pergi bermain.” Beliau berkata, “Aku tidak mau malaikat menulisku hari ini bahwa aku memerintahkan (putriku) bermain. ” Demikianlah para tabi’in berbuat.
Salah seorang dari mereka menantang siapa yang bisa mengeluarkan dari mulut Ar-Rabi’ ucapan yang tercela hingga ditulis pada lembaran kejelekannya, sebagaimana dikatakan Bilal bin Mundzir, “Seseorang berkata, ‘Kalau aku hari ini tidak bisa mengeluarkan dari mulut Ar-Rabi ucapan jelek kepada seseorang maka selamanya aku tidak bisa mengeluarkannya. Aku katakan, ‘Hei Abu Yazid, anak Fatimah telah terbunuh’. Maka Abu Yazid langsung mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihiraji’un, kemudian membaca firman Allah Ta’ala: ‘Katakanlah, Ya Allah, Pencipta langit dan Bumi, Yang mengetahui barang gaib dan yung nyata, Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tetang apa yang selalu mereka memperselisihkannya’. (Az-Zumar: 40). Aku bertanya, Apa yang hendak engkau katakan?’ Beliau menjawab, “Kepada Allah-lah mereka kembali dan Allah Yang menghisab mereka’.”
Salamah bin Alqamah mengatakan, “Aku tinggal bersama Yunus bin Ubaid, aku tidak mampu mengambil darinya satu perkataan yang tercela.”
lbnu Kharijah berkata, “Aku tinggal bersama lbnu Aun Selama dua puluh tahun, dan aku mengira bahwa dua malaikat penulis tidak menulis sesuatu yang jelek darinya.”
Karena itu, waspadalah terhadap setiap kata dan ucapan kalian. Allah akan menanyakan kepada kalian tentang kebagusan hati dan amalan kalian, bukan bagusnya bahasa kalian. Inilah kebaikan yang diinginkan oleh orang-orang saleh. Semoga Allah merahmati kita yang menahan diri dari banyak bicara dan lebih mengedepankan banyak amalan.
Wahai orang yang barnyak bicara, ketahuilah bahwa hisab (perhitungan)mu sangatlah susah. Wahai yang banyak berbuat maksiat, sesungguhnya siksamu datang silih berganti. Wahai yang lebih mengedepankan apa yang membahayakan dirinya, pilihanmu itu tidak tepat. Wahai yang berbicara dengan perkataan yang tidak bermanfaat:
“Tiada suatu ucapan yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. “(Qâf: 18)
Semua pembicaraan kita tercatat, ucapan kita terhitung, dan kita dituntut untuk mempertangun-jawabkannya. Kita memiliki dosa-dosa yang belum ada pertobatannya, sementara matahari kehidupan hendak tenggelam. Betapa keras dan berkarat hati kita bagaikan besi. Allah Ta’ala berfirman:
“Tiada suatu ucapan yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir “(Qâf: 18)
Saudaraku, demikianlah para generasi tabi’in dalam mentarbiyah diri-diri mereka, setiap kata-kata yang keuar dari mulut mereka tak lain adalah kebaikan. Ini adalah bentuk dari kesadaran penuh terhadap tabiat nafsu, serta kewaspadaan yang sempurna terhadap apa yang diucapkan oleh lisan. Karena mereka senantiasa menggariskan rambu-rambu tarbiyah diatas manhaj mereka. Dengan begitu, kita sebagai generasi setelahnya bisa langsung menimba dari sumber yang jernih.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 173-178
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)














































































