“Jadilah selalu seakan-akan engkau malihat Alah Azza wa Jala,” nasihat Abdullah bin Mubarok kepada muridnya.
Muraqabah adalah seorang hamba selalu mengetahui dan meyakini akan pengawasan Allah Subhanahu Wata’ala atas perbuatan lahir dan batinnya, yaitu sebagaimana yang dikatakan Al-Murta”isy, “Memelihara hati dengan pengawasan dari Yang Maha Gaib pada setiap saat dan lafadz.”
“Ukuran kesuksesan dalam perjalanan menuju Allah adalah sampainya hamba kepada derajat ihsan yang disebutkan dalam hadits sahih:
‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak melihat-Nya maka ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu.’ Yang juga sering diungkapkan dengan derajat musyahadah dan muraqabah. Maka muraqabah adalah engkau merasa bahwa Allah selalu melihatmu. Sedangkan musyahadah adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau amelihat-Nya.”
Allah Ta’ala berfirman:
“Maka apakah Rabb yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya). (Ar-Ra’d: 33).
“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya.”(Al-‘Alaq: 14)
“Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”(An-Nisâ’: 1).
“Keadaan manusia tidak lepas dari bergerak atau diam. Apabila dia selalu merasa diawasi Allah Ta’ala dalam segala keadaannya dengan selalu menjaga niat, berbuat sebaik-baiknya dan menjaga adab maka dia telah bermuraqabah. Apabila dia duduk, misalnya, maka dia akan duduk menghadap kiblat sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Sebaik-baik posisi duduk adalah apabila menghadap kiblat.” Apabila tidur maka dia akan tidur di atas tangan kanannya dan menghadap kiblat dengan semua adab yang dianjurkan. Semua itu masuk dalam kategori muraqabah, bahkan ketika buang air, dengan menjaga semua adab-adabnya maka itu adalah bukti muraqabah.
Keadaan hamba juga tidak lepas dari ketaatan, atau maksiat, atau amalan yang mubah.
Bermuraqabah dalam ketaatan adalah dengan ikhlas, menyempurnakan amalan, memelihara adab-adab dan menjaganya dari berbagai cacat. Apabila dalam kemaksiatan maka bentuk muraqabahnya adalah dengan tobat, mernyesali, meninggalkannya, merasa malu dengannya dan menyibukan diri dengan tafakur. Dan apabila dalam amalan mubah maka bentuk muraqabahnya adalah dengan menjaga adab-adab, mengakui bahwa nikmat yang ada padanya adalah dari Allah serta mensyukurinya.”
Oleh karena itu, sebagian ulama menganggapnya sebagai amal ketaatan yang paling afdal, Ibnu Atha’ mengatakan, “Ketaatan yang paling utama adalah merasa selalu diawasi Allah dalam setiap waktu.”
Generasi tabi’in berusaha keras mendidik para pengikutnya untuk bermuraqabah. Coba kita renungkan wasiat salah seorang pendidik mereka kepada para muridnya, Hamid Al-Laffaf berkata, “Hatim Al-Asham berkata kepadaku, Peliharalah dirimu dalam tiga keadaan:
Apabila engkau mengerjakan sesuatu maka ingatlah bahwa Allah selalu melihatmu; apabila engkau berbicara maka ingatlah bahwa Allah selalu mendengarmu; dan apabila engkau diam maka ingatlah bahwa Allah selalu mengetahui keadaanmu.
Ada seseorang berkata kepada Wahib bin Al-Wird, “Berilah nasihat kepadaku!” Beliau berkata, “Takutlah dari menjadikan Allah sebagai yang paling tidak berarti pandangannya kepadamu.”
Inilah salah seorang tokoh dari generasi ini, yaitu Abu Yasid Al-Busthami tatkala salah seorang dari muridnya meminta wasiat kepadanya. Beliau mengucapkan beberapa kalimat yang sederhana namun mengandung petunjuk, “Lihatlah ke langit!” Maka kawannya melihat ke langit, lalu beliau berkata lagi, “Sesungguhnya Zat yang telah menciptakannya selalu melihatmu di mana pun engkau berada, maka berhati-hatilah!” Lalu beliau berlalu.
Para dai adalah orang yang paling membutuhkan akhlak muraqabah dan selalu merasa terawasi dalam mendidik dirinya dan para pengikutnya. Mereka adalah teladan bagi orang banyak. Sangat berbahaya apabila kita berada di barisan terdepan pemberi nasihat, sedangkan orang-orang mengira segala kebaikan ada pada diri kita. Namun, ketika sedang sendiri, melakukan apa yang diharamkan Allah.
Abu Hazinm Al-A’raj menyampaikan nasihatnya, “Takutlah kepada Allah mendapatimu berada dalam apa yang dilarang-Nya atau tidak mendapatimu pada apa yang diperintahkan-Nya kepadamu.” Jadilah orag-orang yang selalu bermuraqabah kepada Alah dalam setiap detikan hati dan dalam keadaan sendirian sebagaimana yang dikatakan Ibnu Al-Jauzi, “Demi Allah, seseorang, apabila sedang sendiri dengan apa yang dicintainya dari yang haram dan dia mampu mengerjakannya sedang nafsunya sangat berhasrat kepadanya, namun kemudian dia melihat kepada pandangan Allah kepadanya maka dia malu dengan hasratnya pada apa yang Allah benci. Lalu, karena itu hilanglah hasrat tersebut.”
Apabila suatu hari engkau sendirian maka jangan katakan
Aku sedang sendirian, akan tetapi katakan ada yang mengawasiku
Jangan menyangka bahwa Allah lengah sesaat pun
Apa yang engkau sembunyikan bukan tidak nampak bagi-Nya
Tidakkah engkau melihat hari ini cepat berlalu
Dan besok adalah dekat bagi yang menantinya.
Apabila sifat muraqabah seseorang benar maka itu adalah penjaga bagi dirinya dari kejatuhan ke dalam apa yang dilarang sebagaimana dikatakan Ahmad bin Muhammad bin Masruq At-Thusi, “Barang siapa yang bermuraqabah kepada Allah dalam setiap detikan hatinya maka Allah akan menjaganya pada setiap gerakan anggota tubuhnya.”
Pendidik lain mengingatkan kepada kita dan para muridnya agar membatasi diri, Hasan bin Ali Al-Abid mengatakan, Hatim Al-Asham berkata kepadaku, “Andaikata si pencari berita duduk di sampingmu untuk menulis apa Saja yang engkau katakan, tentu engkau menjaga diri darinya. Padahal ucapanmu selalu dilaporkan kepada Allah, namun engkau tidak menjaga diri.”
Ada pula wasiat yang lain, “Apabila engkau duduk dikelilingi manusia maka jadilah pemberi nasihat atas diri dan hatimu, dan jangan tertipu oleh orang-orang yang mengelilingimu karena mereka mengawasi lahirmu sedangkan Allah mengawasi batinmu.”
Maka, belajarlah dan jangan menjadi orang bodoh. Istiqamahlah dalam ketaatan dan jangan bermaksiat. Hati orang-orang bodoh itu sebagaimana yang dikatakan Ibnu Al-Jauzi, “Merasa jauh dari Allah, sehingga banyak dari mereka yang terjerumus ke dalam perbuatan maksiat. Andai mereka merasa diawasi oleh Yang Hadir dan Melihat maka mereka akan menahan diri dari berbuat kesalahan. Sedangkan mereka yang sadar akan mengetahui kedekatan-Nya dan pengawasan-Nya hadir bersama mereka, mereka menahan diri dari merasa mendapat kebebasan. “
Abdullah bin Qasim bin Ath-Thusi berkata, “Muhammad bin Aslam berkata kepadaku, ‘Hai Abu Abdillah, aku bersamamu, dan aku telah mengetahui bahwa bersamaku dalam bajuku ada yang menyaksikanku maka bagaimana bisa aku mengerjakan dosa? Karena yang berani mengerjakan dosa adalah orang bodoh yang tatkala melihat tidak ada orang yang melihatnya maka dia berkata: Sekarang tidak ada orang yang melihatku maka aku akan pergi berbuat dosa. Adapun aku, bagaimana mungkin aku mengerjakannya sedang aku mengetahui bahwa dalam bajuku ada yang menyaksikan apa yang aku perbuat.”
Oleh karena itu, kita harus berada di atas manhaj mereka dan berjalan di atas jalan mereka, niscaya bermanfaat bagimu apa yang mereka nasihatkan dan amalkan. Karena mereka adalah orang-orang yang lurus dalam berjalan menuju Allah. Ada seseorang bertanya kepada A-Junaid, “Bagaimana jalan menuju Allah itu?” Beliau menjawab, “Tobat yang menghalangi dari terus-menerus berbuat dosa, rasa takut yang menghilangkan kelengahan, pengharapan yang mengantar kepada jalan kebaikan dan muraqabah kepada Allah pada setiap detikan hati.”
“Jadikan muraqabahmu bagi zat yang pandangan-Nya tidak lepas darimu. Jadikan syukurmu bagi zat yang nikmat-Nya tidak pernah putus darimu. Jadikan ketaatanmu bagi zat yang engkau selalu membutuhkan-Nya. Dan, jadikan ketundukanmu bagi yang engkau tidakbisa keluar dari kerajaan dan kekuasaan-Nya.”
Zat Yang Mengawasi semua yang ada, Kuasa
Atas tata surya, yang berputar di dalamnya bintang dan planet
Yang Mengawasi semua jiwa meskipun berlindung
dengan diam dan merahasiakan rahasia
Yang Maha Mengawasi, Yang Maha Tinggi, Pemilik kerajaan
Yang Melihat segala sesuatu, yang nampak maupun tersembunyi.
Saya tutup pembahasan ini dengan perkataan seorang tabi’in Abu Said AI-Kharraz, “Dahulu aku mempunyai seorang guru yang berkali-kali datang kepadaku mengajarkan perasaan khauf (takut kepada Allah). Kemudian dia pergi. Suatu hari dia berkata kepadaku: Aku akan mengajarkan kepadamu perasaan khauf yang mengumpulkan segala sesuatu bagimu. Aku bertanya: Apa itu? Dia menjawab: Muraqabah kepada Allah Azza wa Jalla.”
Terakhir, Ibrahim bin Ad-ham memberi wasiat, “Ketahuilah, Sesungguhnya yang hilang dari hatimu adalah hawa nafsumu Kalau engkau takut ketika mengetahui bahwa Dia selalu melihatmu.”
Saudaraku, demikianlah generasi tabi’in, mereka senantiasa mentarbiyah diri-diri mereka agar senantiasa bermuraqabah. Apabila mereka mengerjakan sesuatu maka ingatlah mereka bahwa Allah maha melihat dan akan melihat segala apa yang mereka lakukan, apabila mereka berbicara maka mereka akan ingat bahwa Allah maha mendengar yang pasti akan mendengar segala apa yang keluar dari mulut-mulut mereka. Sebagai umat islam, kita sudah sepatutnya mengambil pelajaran dari mereka para tabi’in, para orang-orang yang selalu dirindukan Syurga.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 186-192
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)













































































