1. Niat: Satu makna dengan keinginan dan maksud. Tidak sah dan tidak diterima suatu amalan tanpa disertai niat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya tiap-tiap amalan itu tergantung pada niatnya dan Seseorang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (Muttafaq ‘Alaihi).
Berkata Ibnul Mubari Rahimahullah: “Bisa jadi amalan kecil menjadi besar dengan sebab niat, dan sebaliknya bisa jadi amalan besar menjadi kecil dengan sebab niat.”
Berkata al-Fudhail Rahimahullah : “Allah hanya menginginkan darimu niat dan keinginanmu. Jika suatu amalan dilakukan karena Allah, maka dinamakan ikhlas, artinya amalan tersebut tidak ada bagian untuk selain Allah. Tapi jika amalan tersebut untuk selain Allah maka dinamakan riya’, nifak atau lainnya.
Seluruh manusia akan binasa kecuali orang-orang yang mengetahui, Mereka juga akan binasa kecuali orang-orang yang beramal. Tapi mereka juga akan binasa kecuali orang-orang yang ikhlas. Maka tugas/langkah pertama bagi seorang hamba yang ingin taat pada Allah, hendaklah mempelajari niat lalu memperbaikinya dengan amal setelah memahami hakekat kejujuran dan keikhlasan. Amal tanpa niat hanya menyebabkan keletihan. Niat tanpa ikhlas berarti riya. Ikhlas tanpa iman ibarat debu. Amalan itu ada tiga
A) Kemaksiatan: Niat yang baik untuk melakukan maksiat tidak akan merubahnya menjadi ketaatan. bahkan jika diningi dengan maksud yang jahat akan nmelipatgandakan dosanya.
B) Mubah/Perkara yang dibolehkan: Segala aktivitas yang sifatnya mubah jika diiringi dengan niat (yang baik) bisa berubah menjadi anmalan kebaikan.
C) Ketaatan: Sah/diterimanya suatu ketaatan sangat terkait erat dengan niat, begitupula pelipatgandaan pahalanya. Jika Ia berniat riya akan berbalik menjadi maksiat dan syirik kecil bahkan bisa menjadi syirik besar. Rinciannya ada tiga jenis
1) Faktor pendorong untuk melakukan ibadah tersebut adalah semata-mata riya pada manusia pada asalnya, maka yang seperti ini adalah bentuk kesyirikan dan ibadahnya menjadi rusak.
2) Amalan tersebut pada awalnya karena Allah. lau dicampuri oleh riya. Maka jika ibadah tersebut tidak ada kaitannya antara yang terakhir dan yang pertama seperti sedekah, maka yang pertama sah dan yang terakhir tidak. Sebaliknya jika yang terakhir terkait dengan yang pertama seperti shalat, maka dalam hal ini ada dua keadaan:
a) Bila ia berusaha menyingkirkan riya’. Maka riya’ tersebut tidak membahayakan amalannya.
b) Ia tetap melanjutkan riya, maka ibadahnya tersebut menjadi batal Semuanya.
3) Riya’ terjadi setelah amal dilakukan. Maka ini adalah rasa was-was ang tidak berpengaruh terhadap amalan maupun pelakunya. Selain itu ada pula pintu-pintu nya yang halus, waib bagi kita untuk mengetahui dan berhati-hati darinya.
Adapun Jika tujuannya melakukan amal sholeh adalan dunia, maka pahala dan niatnya bergantung pada niatnya. Ada tiga keadaan dalam hal ini:
a) Faktor pendorong untuk beramal sholeh adalah semata-mata dunia semata seperti orang yang menjadi imam (masjid) hanya untuk mendapatkan gaji, maka iamendapatkan dosa. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Artinya: “Barangsiapa mempelajari ilmu yang semestinya diniatkan Ikhlas untuk Allah Subhanahu Wata’ala namun la tidak mempelajarinya melainkan hanya untuk mendapakan bagian dunia, maka tidak akan mencium bau sorga kelak di hari Kiamat (H.R Abu Dawud).
b) la Deramal untuk mendapatkan keridhaan Allah dan juga karena dunia. Maka berarti iman dan ikhlasnya kurang sebagaimana orang yang menunaikan haji untuk berdagang dan sekaligus haji. Maka pahalanya sesuai dengan kadar keikhlasannya.
c) la beramal ikhlas karena Allah, tetapi ia mengambil upah untuk membantunya dalam melanjutkan amalan. Maka pahalanya sempurna, tidak berkurang karena upahnya tersebut. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upahnya adalah Kitabullah.” (HR. Bukhari).
Ketauhilah bahwa mereka yang beramal dan ikhlas ada beberapa tingkatan:
a) Tingkatan pertama, yaitu orang yang melakukan ketaatan karena mengharapkan
pahala atau takut dari siksa.
b) Tingkatan Pertengahan: Orang yang melakukan
ketaatan sebagai rasa syukur dan memenuhi perintah Allah.
c) Tingkatan Tertinggi: yaitu orang yang melakukan amalan ketaatan karena rasa Cinta dan pengagungan
pada Allah. Ini adalah tingkatan para shiddiqin”.
2. Taubah: Wajib untuk selalu dilakukan. Terjatuh dalam lumpur dosa adalah hal yang wajar pada diri manusia. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Setiap anak Adam adalah bersalah, dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang suka bertaubat.” (H.R Tirmidzi).
Beliau juga bersabda: “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, tentulah Allah akan nengganti kalian dengan satu kaum yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampun, kemudian Allah mengampuni dosa mereka.” (H.R Muslim).
Mengakhirkan taubat dan terus menerus berada dalam dosa adalah keliru. Setan ingin memperdaya manusia dengan salah satu dari tujuh rintangan. Jika setan gagal pada satu rintangan, maka ia berpindah pada rintangan berikutnya. Tujuh rintangan tersebut adalah:
A) Syirik dan kekufuran.
B) Bid’ah dalam perkara akidah dan tidak mencontoh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat beliau.
C) Dosa-dosa besar
D) Dosa-dosa kecil.
E) Memperbanyak perbuatan yang mubah/dibolehkan.
F) Melakukan ketaatan yang kurang keutamaan dan pahalanya dibanding dengan Keutamaan yang lain.
G) Jika masíh juga tidak mampu, maka setan mengerahrakan setan dari Jin dan manusia untuk menguasai (si hamba) tadi.
Maksiat ada beberapa macam: (1) Dosa-dosa besar: Yaitu perbuatan yang terdapat hadd/hukumannya di dunía, ancaman di akherat, kemurkaan (Alan) laknat atau penafian iman. (2) Dosa-dosa kecil: Yaitu dosa-dosa selain itu.
Ada beberapa sebab yang bisa merubah dosa-dosa kecíl menjadi besar, diantaranya yang paling dominan adalah: Terus menerus dalam dosa-dosa Kecil, berkall-Kali melakukannya, Meremehkannya, Merasa bangga, terang-terangan dalam melakukannya.
Taubat sah dari segala dosa dan tetap terbuka hingga mataharí terbit dari arah barat atau di saat ruh sampai di tenggorokan ketika sakaratul maut. Balasan bagi orang yang bertaubat jika benar taubatnya, yaitu kesalahannya akan diganti dengan kebaikan walaupun banyaknya mencapai puncak langit.
Diterimanya taubat ada beberapa syarat, yaitu:
1) Berhenti dari perbuatan dosa tersebut.
2) Menyesali perbuatan dosa yang telah ía lakukan.
3) Bertekad untuk tidak mengulangi dosa itu di masa mendatang. Jika dosa itu berhubungan dengan hak manusia, maka ia harus mengembalikan kedzaliman yang telan la ambil pada pemiliknya.
Manusia dalam hal taubat ada empat tingkatan:
1) Orang yang bertaubat dan istiqamah hingga akhir hayatnya. la tidak pernah ingin kembali pada dosanya. Melainkan hanya kekhilafan yang tidak terlepas darí manusia. Inilah keistiqamahan dalam taubat. Pelakunya adalah termasuk dalam as-Sabiqul bil khairat (Mereka yang segera dalam melakukan kebaikan). Taubat ini dinamakan sebagi taubat nashuha. Jiwa orang tersebut adalah jiwa an-nafsu al-muthmainnah.
2) Orang yang istiqamah dalam ketaatan yang pokok, tapi ia masih belum bisa berlepas diri dari dosa, bukan karena sengaja, tapi ia melakukannya tanpa ada keinginan bulat. Setiap kali ia terjatuh dalam dosa tersebut, ia mencela dirinya, kemudian menyesal dan bertekad untuk melepaskan diri dari sebab-sebabnya, inilah yang dnamakan an-nafsu al-Lawwamah.
3) la bertaubat dan istiqamah sekali waku, Kemudian dikuasai oleh syahwatnya pada sebagian dosa sehingga ia melakukannya, ketaatan dan meninggalkan sejumlah doa padahal ia mampu melakukannya dan syahwatnya menginginkan, ia dikalahkan oleh satu atau dua syahwat. Jika telah selesai, ia menyesal, tetapi ia menjanjikan pada ditinya untuk bertaubat dari dosa tadi. Inilah yang dinamakan an-nafsu al-mas’ulah.
Akibatnya adalah berbahaya karena ia mengakhirkan dan menunda-nunda. Bisa Jadi ia meninggal sebelum bertaubat. Sesungguhnya amalan perbuatan itu adalah rergantung pada akhirnya.
4) la bertaubat dan istiqamah dalam satu waktu, kemudian ia kembali terjerumus dalam dosanya tanpa ada keinginan dalam jiwanya untuk bertaubat dan tanpa ada penyesalan atas perbuatan yang ia lakukan, Inilahyang dinamakan an-nafsu al-ammarah bis suu’. Dikhawatirkan atas orang seperti ini akan mengalami suul khatimah.
3. Ash-Shidq (benar/jujur) : Adalah pokok dari seluruh amalan hati. Lafadz, ash-Shidq digunakan dalam enam makna:
A) Benar dalam ucapan.
B) Benar dalam Keinginan dan maksud (ikhlas)
C) Benar dalam tekad
D) Benar dalam janji
E) Benar dalam amalan sehingga lahiriahnya bersesuaian dengan batinnya, seperti khusyu’ dalam shalat.
F) Benar dalam seluruh perkara agama. Inilah derajat yang tertinggi dan termulia. Seperti benar dalam rasa takut, harapan, pengagungan, zuhud, ridha, tawakal, rasa cinta dan seluruh amalan hati lainnya. Maka barangsiapa yang memiliki sifat benar dalam segala perkara di atas, maka ia adalah “siddiq” (Yang membuktikan ucapan dengan perbuatannya ). Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Artinya: “Hendaklah kalian bersikap benar/jujur, karena kebenaran itu akan mengantarkan pada kebaikan dan kebaikan itu akan menyampaikan ke surga. Seseorang itu selalu berlaku benar dan berusaha mencarinya hingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang suka berlaku benar.”(Muttafaq “Alaihi).
Barangsiapa yang kebenaran tidak jelas baginya, lalu ia bersikap benar permohonannya dan bukan karena hawa nafsu dalam dirinya, maka biasanya ia diberi taufik, kalau tidak, maka Allah akan memaafkannya. Lawan dari (sifat benar adalah dusta yang mana ia bergerak dari dalam jiwa lalu menuju lisan kemudian merusaknya, lalu dusta beralih ke anggota badan sehingga menjadi rusaklah amalannya sebagaimana ia merusak lisan dengan ucapan-ucapannya. Kedustaanpun menghiasi ucapan, amalan dan keadaannya, sehingga kerusakanpun mengusai dirinya.
4. Al-Mahabbah: Dengan c inta pada Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, kelezatan iman akan didapatkan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
Artinya: “Ada tiga perkara, siapa yang terkumpul pada dirinya maka ia akan merasakan kelezatan iman. Yaitu bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, agar seseorang tidak dicintai kecuali karena Allah dan agar ia benci untuk kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana bencinya jika dilemparkan ke dalam neraka. ” (Muttafaq ‘Alaihi).
Jika pohon keimanan telah tertanam dalam hati kemudian disirami dengan air keikhlasan dan mencontoh nabi , maka hal itu akan membuahkan berbagai macam buah pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.
Ada empat jenis mahabbah:
A) Mahabbatullah (cinta pada Allah), inilah pokok dari keimanan.
B) Cinta dan benci karena Allah. Hukumnya adalah wajib.
C) Cinta bersama Allah, ini sama artinya dengan menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam cinta yang wajib, seperti cintanya orang-orang musyrik pada tuhan-tuhan mereka. Ini adalah pokok dari kesyirikan.
D) Cinta yang alami, seperti cinta pada kedua orang tua, anak dan makanan. Ini adalah diperbolehkan. Jika anda ingin dicintai Allah, maka zuhudlah di dunia. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Zuhudlah di dunia, Allah akan mencintaimu,” (HR Ibnu Majah).
*************
Sumbar : Tafsir Al-‘Usyr Al-Akhir dari al-Qur’an Al Karim, hal 100
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah










































































