Sebuah buku Sejarah untuk SMA Kelas XI, menulis: “Bahkan Kerajaan Majapahit dapat disebut sebagai kerajaan nasional setelah Kerajaan Sriwijaya. Selama hidupnya, Patih Gajah Mada menjalankan politik persatuan Nusantara. Cita-citanya dijalankan dengan begitu tegas, sehingga menimbulkan Peristiwa Sunda yang terjadi tahun 1351 M.” (hal. 48).
Tentang keruntuhan Kerajaan Majapahit, ditulis dalam buku pelajaran ini: “Suatu tradisi lisan yang terkenal di Pulau Jawa menyatakan bahwa Kerajaan Majapahit hancur akibat serangan dari pasukan-pasukan Islam di bawah pimpinan Raden Patah (Demak).” (hal. 49).
Cobalah renungkan dengan serius, pemikiran macam apa yang ingin disampaikan dengan paparan sejarah semacam ini kepada siswa atau santri yang belajar sejarah melalui buku seperti itu? Bisa diduga, yang ingin digambarkan adalah, bahwa di masa lalu, Indonesia pernah mencapai kejayaan, pernah bersatu, pernah hebat, ketika berada di bawah Kerajaraan Majapahit. Lalu, datanglah Islam, dengan tokohnya Raden Patah, menyerbu Majapahit dan meruntuhkan Majapahit!
Jadi, Islam dipersepsikan bukan sebagai faktor pemersatu bangsa, tetapi Islam datang untuk menghancurkan persatuan yang telah diperjuangkan oleh Gajah Mada. Karena itu, Raden Patah digambarkan sebagai penghancur prestasi Gajah Mada yang berhasil menyatukan Nusantara! Wallahu a’lam bil-shawab.
Maka, cobalah tanyakan kepada siswa, santri, atau anak-anak kita, apakah mereka lebih kenal dan kagum pada Gajah Mada atau Raden Patah? Raden Patah adalah anak Raja Majapahit, murid Sunan Ampel, yang kemudian menyebarkan Islam di daerah Demak, hingga berhasil mendirikan Kerajaan Islam pertama di Tanah Jawa.
Nah, kemudian dalam cerita di buku pelajaran SMA yang tidak jelas sumbernya itu, Raden Patah digambarkan sebagai seorang muslim yang memimpin pasukan Islam dalam penyerbuan ke Majapahit, lalu menghancurkan Kerajaan yang disebut Kerajaan Nasional itu!
Yang disebut “tradisi lisan” terkenal di Jawa yang memberitakan tentang keruntuhan Majapahit akibat diserang Raden Patah kemungkinan besar adalah Serat Darmogandul. Dalam Serat Darmogandul disebutkan, bahwa dalam menyerang Mojopahit Raden Patah melakukan konspirasi dengan para wali. Selama ini, Darmogandul juga sudah dijadikan sebagai salah satu rujukan dalam penulisan buku Sejarah Nasional Indonesia.
Misalnya, buku karya Marwati D. Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto yang berjudul Sejarah Nasional Indonesia II, (Balai Pustaka, Jakarta, 1992) menulis seputar keruntuhan Majapahit: “…. Bagaimana proses penaklukan Majapahit oleh Demak dan bagaimana nasib para penguasa Majapahit sesudah penaklukan itu tidak diketahui secara pasti. Sumber-sumber tradisi seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, dan Serat Darmagandul hanya dengan samar-samar memberikan gambaran kepada kita tentang bagaimana berlangsungnya penaklukan Majapahit oleh Demak.”
Paparan tentang keruntuhan Majapahit seperti itu bertentangan dengan fakta sejarah yang sebenarnya. Pada dasarnya Majapahit saat itu memang telah lemah secara politis akibat Perang Paregreg yang cukup lama dan menghabiskan banyak sumber daya. Kitab Darmogandul bisa dijadikan salah satu contoh adanya upaya sistematis untuk memberikan citra negatif terhadap Islam dan menanamkan kebencian kepada para wali serta agama Islam. Para wali disebut “walikan” (kebalikan), artinya orang yang tidak tahu balas budi. Diberi kebaikan oleh Raja Majapahit, tetapi malah menikam dari belakang. Digambarkan dalam kitab ini, bagaimana bentuk provokasi Sunan Bonang terhadap Raden Patah, agar menyerang Majapahit.
Ditulis dalam Darmagandul (terjemahan Indonesianya: “Rusaklah Keraton Majapahit, dengan secara halus tersamar, jangan sampai didengar orang banyak, menghadaplah pada hari bakda Mulud (hari peringatan Maulid Nabi), persiapkan kelengkapan para prajurit, semua prajurit yang kamu miliki, juga bawahanmu yang telah masuk Islam kumpulkanlah di Demak. Pura-pura saja (mengundang mereka) untuk mendirikan masjid, setelah semuanya berkumpul aku (Sunan Bonang) yang akan membuat akal, kepada semua Sunan, para Tumenggung, semua prajurit yang telah menganut agama Islam niscaya akan menurut kepadaku …”).
Jadi, itulah salah satu cara mengecilkan makna kehadiran Islam di Indonesia, melalui buku Sejarah Nasional, yang sudah diajarkan kepada jutaan anak-anak kita di berbagai lembaga pendidikan Islam. Entah berapa banyak guru dan orang tua yang mau peduli dengan masalah-masalah seperti ini.
Karena itu, para pengelola pendidikan dan orang tua perlu mencermati materi ajar sejarah yang diajarkan kepada anak-anaknya. Jangan sampai belajar sejarah yang salah yang menyebabkan mereka tidak bangga dengan prestasi dakwah para ulama kita di Nusantara. Para pengelola lembaga pendidikan perlu menyiapkan guru-guru sejarah yang hebat agar tidak salah didik. Bukan hanya buku yang penting. Tetapi, faktor guru lebih penting!
Sebab, ketika anak sudah tidak bangga dengan prestasi dakwah para ulama di Nusantara, maka dampaknya adalah, anak-anak akan enggan belajar pemikiran dan keteladanan hidup dan perjuangan para ulama di Nusantara, seperti Syekh Nuruddin al-Raniri, Nawawi al-Bantani, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Buya Hamka, Mohammad Natsir, dan sebagainya.
Kini, sudah saatnya kita berubah dan lebih serius lagi dalam pendidikan sejarah untuk para santri dan pelajar kita. Semoga Allah menolong kita! Aamiin.
**********
Penulis: Ustadz Dr. Adian Husaini, M.Si
(Dosen, Pendiri INSISTS dan Direktur Ponpe At Taqwa Depok)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

















































































