Berusaha mencari teman-teman yang baik
Tidak benar ungkapan yang menyebutkan bahwa kita harus mencari kawan sebanyak-banyaknya. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menganjurkan kita untuk memilih-milih teman. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Seseorang tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dia jadikan sebagai teman.” (HR. Ahmad no. 8398)
Oleh karenanya seseorang tidak boleh berkawan dengan siapa saja. Tatkala seseorang berteman kepada siapa saja, akhirnya akan repot sendiri ketika telah banyak temannya. Dan itu bukanlah mendatangkan kebahagiaan melainkan akan kehilangan kebahagiaan tersebut. Memang benar bahwa ada kelezatan tersendiri tatkala kita bertemu dengan teman-teman, akan tetapi akhirnya akan merepotkan diri sendiri ketika telah datang undangan dari mereka semua. Oleh karenanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan kita untukmemilih-milih teman dekat, dan tidak semuanya bisa dijadikan teman dekat. Dan hendaknya kita untuk mencari teman yang baik. Karena sebagaimana pepatah Arab mengatakan,
“Sahabat itu akan menarik (sahabatnya)”
Ketika seseorang memiliki sahabat, maka pasti akan terjadi singkronisasi. Baik itu kita yang akan ikut kepada sahabat kita, atau sahabat kita yang akan ikut kepada kita. Maka dari itu perlu untuk kita mencari teman yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita dengan cara menghindari temanteman yang buruk.
Tidak ada dalil yang lebih bagus dalam mencari teman daripada dalil yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala tentang Ashabul Kahf.
Kita ketahui bahwa para Ashabul Kahf merupakan orang-orang yang saleh. Ketika mereka pergi ke goa, mereka membawa anjing. Dan ternyata anjing tersebut juga ikut disebut-sebut di dalam Alquran dan juga mendapat karamah karena anjing tersebut bergaul dengan orang-orang saleh. Dan orang yang berteman dengan orang saleh pasti akan mendapatkan manfaat. Jangankan manusia, hewan pun akan mendapatkan manfaat jika berteman dengan orang saleh, sebagaimana seekor anjing yang berteman dengan Ashabul Kahf yang akhirnya Allah sebut-sebut dia di dalam Alquran.
Kemudian jika seseorang berteman dengan orang lain, kemudian bertambah keimanan dia, maka hendaknya dia pegang erat-erat kawannya tersebut. Akan tetapi jika seseorang berteman dengan orang lain, kemudian merasakan bahwa keimanannya berkurang, ketahuilahbahwa temannya itu adalah teman yang buruk. Jadi ketika kita ingin mengukur apakah teman kita adalah teman yang baik, maka cek keimanan kita sebelum dan setelah duduk dan bercengkrama dengannya setelah beberapa waktu. Jika keimanan bertambah maka dia adalah teman yang baik, danjika hati kita semakin keras, maka teman tersebut adalah teman yang buruk. Maka hindarilah berteman dengan orang-orang yang ketika setelah berpisah dengannya, hati dan iman kita semakin buruk. Dan tentunya seseorang dapat merasakan hal tersebut.
Sebuah contoh teman yang buruk yaitu ketika kita duduk dengan teman kita, ternyata kita ketahui bahwa mereka adalah orang yang senang gibah. Ketika duduk bersama mereka yang dibicarakan hanyalah kejelelakan si fulan dan si fulan. Meskipun kita merasakan kelezatan tersendiri tatkala berkumpul bersama mereka untuk mengetahui urusan orang lain. Tapi ketahuilah bahwa kelezatan tersebut adalah kelezatan dari sebuah maksiat.
Karena memang kemaksiatan itu pasti lezat. Sebagaimana zina, minum khamr itu lezat, maka gibah pun juga lezat karena bagian dari kemaksiatan. Lihatlah ketika orang-orang menggibah, pasti dia akan sulit untuk berhenti karena dia merasakan kelezatan tersendiri ketika mendengarkan atau bahkan membicarakannya. Ketika ternyata kita memiliki teman yang suka gibah, suka berbicara yang tidak ada manfaatnya, dan membuat iman kita turun setelah bertemu dengannya, maka tinggalkanlah teman tersebut secara perlahan, karena kita telah salah memilih teman. Dan jangan biarkan ada rasa sungkan untuk meninggalkannya setelah tahu bahwa dia adalah teman yang tidak baik, karena jika itu terjadi, maka yang akan menjadi korban setelah itu adalah agama kita. Agama kita akan hancur dan terkikis sedikit demi sedikit jika kita tetap bergaul dengan mereka. Maka dari itu tatkala seseorang memilih teman, harus benar-benar pilih-pilih sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang memerintahkakita untuk melihat siapa yang hendak kita jadikan teman. Oleh karenanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda,
“Perumpamaan teman yang saleh dengan teman yangburuk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi. Perumpamaan penjual minyak wangi adalah bisa jadi akan menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya, atau kamu akan mendapatkan bau wanginya. Sedangkan pandai besi hanya akan membakar bajumu atau kaum akan mendapatkan bau tidak sedapnya.” (HR. Bukhari no. 5534)
Maksud perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah bahwa pasti seseorangakan terkena dampak dari pertemanannya. Maka tatkala kita memiliki banyak teman, maka boleh-boleh saja, akan tetapi sebatas kenal.
Adapun teman yang kita jadikan sebagai teman jalan, curhat maupun untuk bertukar pikiran, maka harus teman tertentu dan tidak boleh sembarang orang.
Oleh karenanya penulis sampaikan hal ini kepada saudaraku sekalian baik laki-laki maupun perempuan. Jika seseorang dari kita mendapati teman yang suka membicarakan orang lain, maka tinggalkan teman tersebut. Oleh karenanya masalah pertemanan merupakan hal prinsip dalam hidup seseorang. Karena seorang teman sangat bisa memengaruhi gaya bicara, cara berpikir, dan bahkan sampai memengaruhi tujuan hidup kita. Jika akhirnya waktu kita habis dengan hal yang tidak bermanfaat dengan teman buruk tersebut, maka hidup kita akan sia-sia dan tidak bermakna.
Namun jika teman kita senantiasa mengajak kepada kebaikan, sehingga waktu kita terfokus pada kebaikan, maka hidup kita akan lebih bermakna. Maka dari itu jangan sampai kita salah dalam memilih teman.
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah












































































