Akhir-akhir ini, dunia kembali digemparkan dengan sebuah virus yang menyebabkan begitu banyak korban meninggal dunia. Virus itu bernama Corona Virus Disease (Covid-19), yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir tahun lalu dan sampai hari ini Organisasi kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkannya sebagai pandemi global. Meningkatnya jumlah kematian korban virus ini tentunya menjadi sebuah momok yang mengerikan bagi masyarakat di seluruh dunia, termasuk di negara kita.
Jumlah penderita dari wabah virus corona ini mengalami peningkatan yang begitu sangat signifikan dari hari ke hari. berdasarkan data yang dilansir dari media Covid-19.id disebutkan bahwa jumlah korban positif akibat virus corona di Indonesia sampai hari ini (31/03/2020), sebanyak 1.528 orang, 136 dinyatakan meninggal dan 81 di antaranya telah sembuh dari penularan virus ini.
Tentu hal tersebut mengundang perhatian dari berbagai pihak untuk senantiasa berupaya mencari solusi dan jalan keluar dalam menangani kasus ini. Usaha pencegahan dan penanganan bagi korban yang tejangkit virus, menjadi PR besar bagi pemerintah agar penyebarannya tidak semakin meluas dan dapat dihentikan secepatnya. Beragam himbauan dari pemerintah untuk melakukan social distancing, mengurangi interaksi dan kontak langsung dengan orang lain adalah salah satu upaya dalam mencegah merebaknya virus corona ini. Meskipun sebagian kita menganggapnya sepele, sehingga himbauan ini pun banyak dihiraukan oleh masyarakat.
Para ulama pun angkat bicara dalam masalah ini, berbagai himbauan dan arahan juga telah dikeluarkan dalam rangka mencegah dan meminimlisir penularan virus mematikan tersebut. Hasil ijma’ (kesepakatan) Majelis Ulama Indonesia (MUI) melahirkan berbagai solusi dalam menangani virus ini, yang diharapkan mampu membawa kemaslahatan bagi seluruh masyarakat di Indonesia kedepannya. Meskipun tak dapat dipungkiri adanya pihak-pihak yang tidak patuh dan taat terhadap himbauan yang diterbitkan oleh majelis ulama dan umara’ (pemerintah) itu sendiri.
Hal tersebut di atas, tentu memiliki dampak terhadap perguruan tinggi yang ada di Indonesia, baik berstatus negeri maupun swasta. Salah satunya adalah proses pembelajaran dan aktivitas kampus yang mulai dihentikan. Sebagai contoh, saat kebijakan social distancing yang mulai diterapkan, mengaruskan setiap aktivitas perkuliahan yang biasanya berpusat di kampus, kini pelaksanaanya semua berbasis media online.
Bukan hanya itu, berbagai kegiatan lembaga kemahasiswaan juga tidak berjalan disebabkan aturan yang melarang seluruh aktivitas mahasiswa dilakukan di kampus. Mahasiswa akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah masing-masing, bukan untuk bersantai-santai tetapi mereka dituntut agar memaksimalkan proses pembelajaran kuliah berbasis online tersebut, karena dalam pandangan kaum intelektual seperti mahasiswa libur kuliah bukan berarti libur belajar.
Hal ini juga dialami oleh para aktivis dakwah kampus, segala rutinitas dakwah yang selama ini dijalankan harus terhenti sejenak karena kebijakan yang dikeluarkan oleh kampus. Himbauan social distancing membuat para aktivis lebih banyak menghabiskan waktu di rumah masing-masing, agar mengurangi kontaminasi dan penyebaran Covid-19 ini. Namun, situasi seperti ini tentunya tidak membuat patah semangat dalam menyebarkan kebaikan kepada masyarakat dan lebih khusunya bagi mahasiswa.
Dalam pandangan seorang seorang muslim khususnya para aktivis dakwah, meyakini bahwa segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini adalah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kasus merebaknya wabah virus Covid-19 menjadi pelajaran berharga bagi seluruh manusia khususnya masyarakat muslim di seluruh dunia, bahwa kebesaran sang pencipta tak mampu tertandingi oleh apapun. Oleh karenanya, peristiwa ini sepatutnya menjadi bahan muhasabah bagi kita semua agar semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Menghadapi situasi social distancing akhir-akhir ini, maka perlu disikapi dengan bijak khususnya bagi para aktivis dakwah kampus. Bertahan di rumah dan mengurangi interaksi atau aktivitas di luar rumah, bukan berarti tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun pemerintah pusat belum mengeluarkan kebijakan lockdown, yaitu pembatasan pergerakan penduduk pada sebuah wilayah termasuk menutup akses masuk dan keluarnya. Akan tetapi sebagian besar kampus telah mengambil tindakan dengan mengeluarkan surat edaran agar perkuliahan dialihkan melalui via daring (online).
Oleh karenanya dalam tulisan ini ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh para aktivis dakwah kampus dalam menyikapi kasus merebaknya Covid-19 dan kebijakan social distancing oleh pemerintah.
1. Tetap menjaga kesehatan
Dalam upaya menangani virus corona yang semakin meluas, pemerintah menganjurkan masyarakat untuk menerapkan social distancing Menjaga kesehatan adalah sebuah anjuran dalam syariat Islam. Ia merupakan nikmat yang sangat berharga, oleh karenanya hal ini sangat penting untuk kita jaga bersama. Budaya hidup sehat ini memiliki begitu banyak manfaat, salah satunya adalah dapat melindungi tubuh dari timbulnya berbagai macam penyakit, termasuk virus-virus jahat yang mengancam kesehatan.
Dalam situasi mewabahnya virus corona, maka para mahasiswa khususnya aktivis dakwah seharusnya berupaya untuk tetap menjaga kondisi kesehatannya. Dengan sistem kekebalan tubuh yang kuat pada diri kita, ini akan menjadi perisai agar terhindar dari penyakit, termasuk menangkal penularan virus corona itu sendiri. Selama tinggal di rumah lakukanlah hal-hal yang bisa membuat tubuh kita tetap sehat, seperti Berolahraga, makan yang teratur, istirahat yang cukup, hindari rokok dan alkohol, rajin cuci tangan dengan sabun, dan cara-cara yang lainnya.
Dari sisi Agama pun Allah Subhanahu wa ta’ala begitu cinta kepada hamba-hamba Nya yang memiliki tubuh yang kuat dan sehat dan berupaya menjaganya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam berabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah” [HR. Muslim].
Hadits di atas menjadi pelajaran berharga akan pentingnya menjaga kesehatan dan tubuh agar tetap sehat dan kuat. Dengan ikhtiar yang kita lakukan seperti ini, semoga dapat menghindarkan kita dari segala bentuk penyakit termasuk wabah virus corona.
2. Memberi edukasi kepada masyarakat
Ketika kondisi kampus hari ini yang sudah mulai diliburkan, banyak di antara aktivis dakwah yang kembali ke asal daerah mereka masing-masing. Perkuliahan melalui daring (Online) begitu mudah di akses meskipun mahasiswa berada di daerah. Melalui momentum inilah para aktivis diharapkan mampu memberikan edukasi kepada keluarga, karib kerabat serta masyarakat secara umum terkait dengan peristiwa merebaknya wabah virus corona ini. Sudah menjadi tugas kita untuk memahamkan kepada mereka tentang sejauh mana berbahayanya virus ini, cara mencegah, mengobati dan bagaimana meminimalisir penyebarannya.
Dengan keterbatasan tekonogi dan pengetahuan masyarakat di pedesaan sehingga informasi terkait hal ini bisa jadi belum sampai kepada mereka. Di antara edukasi yang tak kalah penting juga adalah pemahaman tentang menjaga aqidah dalam menghadapi situasi mewabahnya virus corona. Akhir-akhir ini begitu banyak bermunculan fenomena penyimpangan aqidah di tengah-tengah masyarakat, mulai dari ritual tolak bala, mimpi telur rebus dari seorang bocah dan penyimpangan lainnya.
padahal dalam syariat kita sudah jelas bahwa apa yang terjadi di dalam kehidupan ini semata-mata atas kehendak dan ketetapan dari Allah. Sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
مَآأَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَفِي أَنفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِير
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid: 22)
Hal inilah yang mesti dipahamkan oleh para aktivis dakwah kepada masyarakat, khususnya yang masih awam dan minim pengetahuan agamanya. Mengajarkan konsep tawakkal yang benar kepada mereka, di tengah situasi mewabahnya virus corona dan kaitannya dengan kebijakan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bahwa upaya mencegah hal-hal yang bisa mendatangkan mudharat sangatlah penting sebelum bertawakkal, tanpa kemudian menafikkan apa yang telah menjadi takdir dan ketetapan Allah Subhanahu wa ta’ala.
3. Agenda dakwah tetap berjalan
Menghadapi situasi social distancing hari ini membuat kita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Rutinitas dakwah di kampus seperti tabligh akbar, seminar, pengajian rutin, tarbiyah dan kegiatan lainnya pun, kini tak bisa lagi karena kondisi kampus yang mulai diliburkan. Apakah dengan hal ini membuat kita tak melakukan aktivitas seperti biasanya,? tentu tidak. Ada banyak hal yang bisa kita perbuat, disamping menunaikan amanah kuliah sebagai seorang mahasiswa, juga diharapkan agar memaksimalkan agenda dakwahnya meskipun tetap di dalam rumah.
Dengan waktu libur yang panjang, para aktivis bahkan mampu melahirkan karya yang besar lewat rumah-rumah mereka. Sebagaimana para ulama terdahulu, di balik jeruji besi penjara ia lahirkan karya-karya terbaik mereka untuk ummat.
Nama mereka begitu mahsyur dan dikenang sepanjang masa oleh kaum muslimin dengan karya yang mereka tinggalkan. Imam Abu hanifah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam An-Nawawi, Ibnul Qayyim Al-jauziyah, Imam al Sarkasy, Dr. ‘Aid al Qarni adalah jejeran ulama yang pernah mendekam dalam penjara di masanya. Selama di balik jeruji besi itulah lahir kitab-kitab tafsir dan risalah Islam yang menjadi rujukan bagi kaum muslimin sampai hari ini.
Dalam kitab al-waabil al-shayyib, Ibnul Qayyim al-Jauziyah menceritakan ketika berkunjung ke penjara gurunya Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah, beliau (Ibnu taimiyah) menuturkan, kebun dan syurganya terletak di dada. Kemanapun dia pergi pasti akan bersama dengannya. Dipenjara baginya seperti sedang berkhalwat, kematian pun kan mendapat syahid, bahkan ketika diusir dari negeri laksana orang yang sedang bertamasya.
Sungguh sangatlah pantas ketika beliau banyak bekarya, Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak mengalanginya untuk berdakwah, serta memanfaatkan momen tersebut untuk menulis buku tentang aqidah, tafsir, dan kitab-kitab lainnya.
Seorang ulama terkenal di Indonesia H. Abdul malik Karim Amrullah atau lebih akrabnya dipanggil Buya Hamka ini, juga melahirkan karya terbaiknya selama mendekam dua tahun lebih di dalam penjara, yaitu kitab Tafsir al-Azhar. Dalam pembukaan kitab yang berjumlah 9 jilid ini beliau mengungkapkan rasa syukurnya ketika dipenjara, karena bisa mendapat waktu luang dalam merampungkan tulisannya.
Lihatlah betapa bagi pejuang, dalam keadaan seperti itu pun masih bisa bersyukur, tidak pernah ada rasa putus asa, kemudian berhenti berjuang dan berkarya untuk ummat. Inilah yang diharapkan dari para aktivis dakwah, selalu produktif meski dalam kondisi apapun. Bersemangat dalam menjalankan agenda dakwah dan memanfaatkan setiap waktunya dengan mengerahkan potensi yang ada sehingga mampu melahirkan karya terbaik untuk ummat dari rumah-rumah mereka.
Mengakhiri tulisan ini, kita semua berharap semoga Allah mencabut segala musibah yang menimpa kita hari ini dan diberikan kesabaran dalam menghadapinya. Peristiwa ini seharusnya menjadi bahan muhasabah untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya, atas segala dosa yang selama ini kita lakukan.
***********
Selasa, 31 Maret 2020
Masjid Perjuangan Darul Khair, Villa Samata-Gowa
Penulis: Muhammad Ikram, S.Sos.I
(Penulis, Pembina Daar Al-Qalam dan Pemred Mujahid Dakwah)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)















































































