MUJAHIDDAKWAH.COM, GAZA — Tiga tahun Genosida di Jalur Gaza dimulai pada Oktober 2023, kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut masih menjadi perhatian serius. Selama 1.095 hari, warga Palestina terus menghadapi dampak perang berupa korban jiwa, kehancuran tempat tinggal, pengungsian, serta keterbatasan kebutuhan dasar.
Tiga tahun mungkin hanya menjadi deretan angka dalam kalender. Namun bagi masyarakat Gaza, 1.095 hari tersebut merupakan perjalanan panjang yang diwarnai kehilangan, penderitaan, dan luka yang belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip dalam laporan ini, sedikitnya 74.228 orang tewas sejak perang dimulai pada Oktober 2023, termasuk sedikitnya 1.445 orang sejak gencatan senjata pada Oktober 2025. Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan datanya tidak membedakan korban sipil dan kombatan.
Krisis kemanusiaan juga diperburuk oleh persoalan tempat tinggal menjelang musim dingin. Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Palestina, Reinhilde Van De Weerdt, menyatakan bahwa hampir dua juta orang di Gaza membutuhkan tempat berlindung untuk menghadapi cuaca dingin dan risiko banjir.
Serangan terhadap kawasan permukiman juga masih dilaporkan terjadi. Pada Sabtu (3/10) dini hari, serangan udara Israel menghantam sebuah gedung apartemen di Kota Gaza.
Sedikitnya lima warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, termasuk empat perempuan.
Di antara korban terdapat Maisa Abu Dawoud dan putrinya, Mary, yang merupakan warga Palestina beragama Kristen. Keduanya dilaporkan tewas setelah apartemen tempat mereka berada dihantam serangan dan terbakar.
Peristiwa tersebut kembali menunjukkan besarnya dampak konflik terhadap warga sipil dan keluarga yang berada di wilayah terdampak perang.
Selama tiga tahun terakhir, masyarakat Gaza menghadapi dampak perang yang tidak hanya berupa kehilangan nyawa, tetapi juga kehancuran rumah, perpindahan penduduk, serta meningkatnya kebutuhan akan perlindungan dan bantuan kemanusiaan.
Kondisi tersebut menegaskan pentingnya perhatian berkelanjutan terhadap perlindungan warga sipil dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
Kami menyerukan agar perhatian terhadap kondisi kemanusiaan di Gaza tidak berhenti pada angka dan statistik. Di balik setiap angka terdapat manusia, keluarga, dan kehidupan yang terdampak.
Tiga tahun atau 1.095 hari bukan sekadar hitungan waktu. Bagi warga Gaza, setiap hari merupakan bagian dari perjalanan panjang menghadapi kehilangan dan ketidakpastian.
Komitmen terhadap kemanusiaan harus terus dijaga melalui upaya perlindungan warga sipil, pemenuhan kebutuhan dasar, serta dukungan terhadap terciptanya perdamaian dan kehidupan yang aman bagi masyarakat Palestina.
Sumber: Palinfo
















































































