Agama Islam melarang setiap pemeluknya melakukan perbuatan keji dan munkar. Islam mengajarkan kedamaian. Syariat Islam yang mulia telah datang salah satunya untuk menjaga nyawa manusia.
Nyawa seorang muslim memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, hari ini begitu banyak manusia menyalahi syariat yang mulia dari Rabb-Nya. Nyawa manusia sekarang seakan sangat murah sekali. Berita tentang pembunuhan bukanlah hal asing lagi yang menghiasi berita di beberapa bulan terakhir ini.
Baru-baru ini berita pembunuhan banyak tersebar di berbagai media dengan motif pembunuhan yang berbeda-beda. Pertama, dua korban pembunuhan dengan motif cemburu dan cinta buta dengan tega menendang sepeda motor milik korban hingga meninggal dunia.
Kasus pembunuhan kedua, dengan motif yang lebih mengherankan lagi dimana seorang pemuda yang membunuh siswa SD dengan cara menusuknya hanya karena ingin memiliki ponsel, wal ‘iyadzubillah.
Padahal dengan tegas Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang perbuatan tersebut bahkan mengancam pelakunya dengan ancaman yang sangat tegas, kekal di dalam Neraka Jahanam, mendapatkan murka dan laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak. Sebagaimana dalam firman-Nya
وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُّتَعَمِّداً فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً
Terjemahnya: “Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa: 93)
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ancaman yang sangat besar dan tegas bagi setiap orang yang membunuh dengan sengaja. Allah menyebutkan empat buah balasan bagi orang ini yaitu pertama, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memasukkan orang ini ke dalam neraka jahanam.
Kedua, Tidak cukup dengan sekedar memasukkan ke dalam jahanam, namun Allah menjadikan orang tersebut tinggal di dalamnya dalam waktu yang sangat lama dan kekal di dalamnya.
Ketiga, Allah murka kepadanya dan keempat Allah melaknatinya yakni menjauhkannya dari rahmat-Nya.
Demikianlah empat buah balasan yang Allah berikan pada orang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja. Jika seandainya disebutkan satu buah balasan saja, maka hal ini akan menjadi penghalang bagi seorang mukmin yang takut akan Rabb-Nya untuk tidak melakukan dosa ini. Maka bagaimana jika disebutkan empat buah balasan sekaligus!!?? Wallohul musta’an.
Dosa membunuh seorang muslim dengan sengaja tanpa hak, bukanlah sebuah dosa yang ringan, apapun cara yang dilakukannya. Beratnya ancaman yang Allah janjikan bagi pelakunya merupakan bukti besarnya dosa perbuatan ini. Maka jalan yang harus ditempuh bagi para pelaku pembunuhan ini adalah bertaubat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ لاَيَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ وَلاَيَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَيَزْنُونَ وَمَن يَّفْعَلْ ذَلِكَ يَلقَ أَثَامًا يُضَاعَفُ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا إِلاَّ مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Terjemahnya: “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Alloh (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Alloh dengan kebajikan. Dan adalah Alloh maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqon: 68-70).
Dengan sangat jelas, Allah telah memberikan janji bagi orang yang bertaubat dari dosa-dosa untuk mengganti kejelekan mereka dengan kebaikan.
Sebesar apapun dosa yang dilakukan oleh seorang hamba, Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan mengampuninya jika ia bertaubat. Bahkan dosa pembunuhan yang telah Allah ancam pelakunya dengan kekal di Neraka, akan Ia ampuni jika pelakunya mau bertaubat.
Mari kita renungkan kembali sebuah kisah yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang seorang pemuda dari Bani Israil yang telah membunuh sekian banyak manusia.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ‘Alaihi wa Sallam telah menceritakan sebuah kisah tentang seorang pemuda dari Bani Israil yang telah membunuh 99 jiwa, kemudian Allah menyadarkan pemuda tersebut untuk segera bertaubat.
Maka pergilah sang Pemuda tersebut kepada seorang ahli ibadah (‘abid) kemudian dia mengatakan pada ahli ibadah bahwa ia telah membunuh 99 jiwa, apakah dia masih bisa bertaubat?
Maka sang ahli ibadah ini membesar-besarkan permasalahan kemudian dia memutuskan bahwa tidak ada kesempatan bagi pemuda ini untuk bertaubat. Maka sang pemuda tadi membunuh ahli ibadah ini sehingga genaplah 100 jiwa yang dia bunuh.
Kemudian datanglah sang pemuda tadi kepada seorang ahli ilmu (ulama) dan dia berkata bahwa dia telah membunuh 100 jiwa, apakah dia masih bisa bertaubat?
Ulama tadi menjawab, “Ya, siapa yang dapat menghalangimu dari taubat?” Kemudian ulama tadi melanjutkan, “Akan tetapi, penduduk negeri tempat tinggalmu adalah orang-orang yang zalim. Pergilah ke negeri Fulan, penduduk di sana adalah orang-orang yang baik dan shalih!”
Kemudian sang pemuda tadi pergi bersafar ke negeri yang telah ditunjukkan oleh ulama tadi. Dia berhijrah dari negerinya menuju negeri yang penduduknya baik dan shalih, namun dia wafat di tengah-tengah perjalanannya. Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab saling memperebutkan siapa yang berhak membawa ruh pemuda tadi.
Kemudian Allah mengutus seorang penengah di antara kedua malaikat tadi. Sang penengah tadi berkata, “Ukurlah jarak pemuda ini antara kedua negeri tersebut (negeri asalnya dan negeri tempat dia berhijrah), mana di antara keduanya yang lebih dekat dengannya maka dia termasuk penduduk kota tersebut.” Ternyata sang pemuda tadi lebih dekat dengan negeri yang penduduknya orang-orang shalih, kemudian Malaikat Rahmat membawa ruhnya. (HR. Bukhori 3470, Muslim 2766)
Perhatikanlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menerima taubat dan mengampuni seorang pemuda dari Bani Israil padahal Allah telah menjadikan tali dan belenggu atas mereka. Sedangkan umat Islam, Allah telah mengangkat tali dan belenggu itu dari kaum muslimin, maka bertaubat adalah sebuah hal yang lebih mudah bagi umat ini. Jika Allah mau mengampuni dosa seorang dari Bani Israil, maka terlebih-lebih lagi dengan umat Islam ini.
Seseorang yang melakukan pembunuhan lalu taubat dengan taubat yang sebenar-benarnya, maka hal ini dapat menggugurkan dosa-dosanya dan taubatnya diterima. Bahkan taubat yang terkait dengan hak orang yang dibunuh.
Karena taubat yang benar dari seorang pelaku dosa, tidak akan menyisakan dosanya sedikit pun. Adapun orang yang dibunuh, dengan rahmat dan keutamaan dari Allah, Allah dapat menaikkan derajatnya lebih tinggi ataupun mengampuni dosa-dosanya yang lain. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَالَّذِينَ لاَيَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ وَلاَيَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَيَزْنُونَ وَمَن يَّفْعَلْ ذَلِكَ يَلقَ أَثَامًا {68} يُضَاعَفُ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا {69} إِلاَّ مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا {70}
Terjemahnya: “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqon: 68-70)
Demikianlah, syariat Islam yang mulia telah memperingatkan manusia untuk menjaga nyawa, kehormatan dan darah manusia. Salah satu cabang keimanan sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah dengan menyingkirkan gangguan dari jalan.
Menyingkirkan gangguan dari jalan akan menjadikan orang-orang dapat melewati jalan tersebut dengan aman. Jika perbuatan seperti ini merupakan cabang keimanan, maka dapatlah kita bandingkan dengan orang-orang yang dengan mudah menghilangkan nyawa orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat Al Ghodhob (Murka). Hal ini berdasarkan firman-Nya,
وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً
Terjemahnya: “Allah murka kepadanya, dan melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa: 93)
Dari ayat diatas perlu kita perhatikan bahwa kemurkaan Allah, tidak sama dengan kemurkaan makhluknya. Semoga hati kita senantiasa dipenuhi dengan rasa takut kepada-Nya. Allahumma Aamiin
Penulis: Wahyuni


















































































