Sumayyah binti Khayyath
Wanita yang Mempertaruhkan Jiwanya Untuk Allah Subhanahu Wata’ala
Di sana, di padang Makkah, di bawah teriknya udara tengah hari dan di daerah bebatuan yang sangat panas, orang-orang yang lalu lalang menyaksikan sebuah pemandangan yang memilukan, seorang wanita tua bersama suami dan anaknya berada di bawah panasnya terik matahari, di sebuah daerah bebatuan yang panasnya sangat menyengat, mendapatkan penganiayaan dan berbagai bentuk penyiksaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berhati keras yang berdiri di atas mereka sambil menimpakan siksaan yang pedih.
Bagaimana ceritanya?
Bagaimana kisah sebuah keluarga kecil yang mendapatkan penyiksaan dari orang-orang yang lalim tersebut?
Itulah kisah terbitnya cahaya Islam di Makkah, negeri yang aman sentosa di mana Rasulullah mengajak manusia untuk menyembah Allah semata dan menyingkirkan sembahan-sembaharn selainNya. Namun para pembesar kaum Quraisy tidak menyukai seruan itu, sehingga mereka mendustakan Rasulullah , mengatakan perkataan yang buruk kepada beliau, dan menyakiti beliau. Nasib seperti ini juga menimpa orang-orang yang membenarkan dakwah Rasulullah dan mengikuti beliau di atas agama yang benar.
Keluarga yang kecil itu termasuk kelompok yang suci itu, yaltu generasi yang terdahulu memeluk Islam.
Keluarga itu tidak memiliki nama besar kabilah yang dapat melindungi mereka dari penyiksaan dan arogansi para pembesar Makkah pada saat itu.
Namun penyiksaan apakah yang dapat membuat takut keluarga yang suci itu? Bukankah keimanan telah tertanam di dalam hati mereka? Bukankah mereka telah meneguhkan hati mereka untuk meraih kenikmatan yang paling besar? Maka bagaimana mungkin pecut Abu Jahal dan bala tentaranya dapat menghalangi hati mereka dari jalan ini (Islam)?
Keluarga Yasir, merekalah keluarga kecil tersebut; kecil dalam jumlah anggota, tapi besar dalam keimanan, kejujuran, dan sikapnya.
Yasir, Sumayyah, dan Ammar, kenangan tentang mereka senantiasa tersimpan sepanjang masa, sejak peristiwa hari itu dari generasi ke generasi. Adakah seseorang yang tidak nmengenal keluarga yang suci ini?
Betapa pun pena menuliskan pujian dan tinta membuat puisi dan prosa, maka tak akan dapat mengangkat keluarga itu ke tempat yang lebih tinggi daripada kedudukan mulia yang ditempatkan oleh sang manusia terbaik untuk mereka, yakni saat beliau bersabda,
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surga!”(HR. Al-Baihaqi)
Kata-kata yang lebih berharga dari semua barang yang berharga dan lebih indah daripada permata dan mutiara. Inilah hiburan terbaik yang diberikan oleh sebaik-baik pembawa berita gembira, dan pemberian terbaik dari orang yang tutur katanya paling jujur.
Di sana, pada saat-saat yang sulit itu, ibu rumah tangga dari keluarga kecil itu berdiri dengan kepala tegak, tekad yang kuat, dan ucapan yang agung. Dialah putri Khayyath, Sumayyah Radhiallahu Anha.
Bila kesabaran disebut, maka namanya disebut!
Bila ketulusan iman disebut, maka namanya disebut!
Bila keteguhan dalam membela kebenaran disebut, maka namanya disebut!
Bila para wanita yang utama disebut, maka namanya disebut!
Bila orang-orang yang memperlihatkan sikap-sikap yang tiada duanya disebut, maka namanya disebut!
Bila mati syahid disebut, maka namanya disebut!
Bila ditanyakan, “Siapakah wanita pertama yang mati syahid”, maka namanya akan disebut!
Sumayyah, itulah wanita yang telah dilukiskan sebagai suri teladan yang paling indah dalam kesabaran dan kebenaran iman.
Sekelompok orang dari Bani Makhzum keluar membawa keluarga yang suci itu ke tanah lapang yang sangat panas di Makkah untuk membuat mereka murtad dari agama mereka. Perlakuan Bani Makhzum terhadap mereka adalah karena adanya perjanjian yang terjadi antara tuan dari keluarga ini dengan mereka.
Namun bagaimana mungkin perjanjian semacam ini dapat mengungguli perjanjian yang paling agung? Keluarga ini telah menjalin perjanjian dengan Raja para raja yang merupakan satu-satunya Dzat Yang memiliki keagungan dan kebesaran, Yang Mahasuci lagi Mahatinggi.
Sungguh menakjubkan keadaan sang istri dari keluarga ini, yang tidak dapat dipalingkan dari agamanya oleh kebengisan Abu Jahal dan tanah bebatuan yang panas di kota Makkah.
Sumayyah Radhiallahu Anha adalah seorang yang telah tua lagi lemah. Juga seorang wanita. Panasnya terik matahari, tanah bebatuan yang di kota Makkah, usia yang tua dan fisik yang lemah, semua itu tidak mampu menggoyahkan keimanan wanita Mukminah yang jujur ini. Keluarga Bani al-Mughirah setiap hari membawa keluarga yang suci ini untuk melemparkan mereka ke tengah terik panasnya siang hari, juga menyiksa mereka dengan berbagai bentuk
siksaan.
Betapa mulianya engkau wahai putri Khayyath, wahai simbol kejujuran dan keteguhan!
Ya, engkau memang seorang wanita, tapi hari itu engkau adalah seorang yang sangat tangguh di antara orang-orang yang menyiksamu dengan berbagai bentuk penyiksaan. Ya, engkau adalah seorang wanita, tapi hari itu engkau lebih tangguh dan lebih kuat tekadnya daripada Abu Jahal dan bala tentaranya!
Duhai, ke manakah hilangnya keperkasaan orang-orang itu ketika mereka menyiksa seorang wanita tua dan lemah yang tidak dapat mencegah bahaya dari dirinya?
Ya, Sumayah adalah seorang yang sangat tangguh di hadapan para penyiksa yang berdiri lemah dan tak berdaya melawan kekuatan tekad wanita yang jujur ini.
Ujian yang menimpa orang-orang yang menyambut Islam dengan segera pada hari itu amatlah berat. Tidak sedikit dari mereka yang kembali pada agama lamanya lantaran berbagai bentuk penyiksaan luar biasa yang mereka rasakan.
Namun di sana Anda melihat sekelompok orang jujur yang teguh di atas agamanya dan keimanannya tak tergoyahkan oleh siksaan dan ancaman. Di antara mereka adalah putri Khayyath Radhiallahu Anha.
Sebagian orang, bila telah disiksa dengan Siksaan yang sa- ngat berat, maka dia akan memberikan apa yang diminta mereka, lalu kaumnya akan membawakan terpal dari kulit yang di dalamnya berisi air, lalu mereka menceburkannya ke dalamnya dan mereka memegang terpal tersebut dari sisi-sisinya.
Namun wanita yang lemah ini membuat bingung orang-orang yang sombong itu dan memecahkan keangkuhan mereka dengan keteguhan dan kekuatan imannya.
Akhirnya air bah sampai ke tempat yang tinggi dan naik pitamlah pemimpin dari orang-orang itu, Abu Jahal.
Pada sore hari, sehari setelah wanita yang suci itu merasakan berbagai penyiksaan, Abu Jahal datang untuk mencela, mencaci maki, dan melontarkan kata-kata yang buruk. Orang yang lalim ini sangat marah ketika melihat ketabahan wanita yang lemah dan tua ini, sehingga dia tidak mampu menahan lisannya setelah cemetinya tidak mampu pula membuat wanita yang jujur ini murtad dari agamanya.
Kini dia telah benar-benar dibuat gila. Dia telah mengumbar lisannya terhadap wanita beriman ini setelah sebelumnya cemetinya menguasai Sumayyah. Akhirnya, tibalah saatnya kekalahan yang hakiki bagi orang lalim ini di hadapan sang wanita yang jujur. Tahukah Anda bagaimana kekalahan itu terjadi?
Kekalahan orang lalim ini adalah ketika dia mengarahkan tombaknya kepada wanita yang tidak ada seorang pun yang dapat membelanya. Dia menikamnya dengan tombaknya hingga membunuhnya!
Demi Allah, betapa banyaknya pelajaran pada pemandangan ini seandainya direnungkan oleh orang-orang yarng berakal.
Seorang laki-laki yang mengaku sebagai pemimpin kaumnya dan pahlawan mereka di saat berperang melawan musuh. Kini membunuh seorang wanita dengan tombaknya.
Benar, Abu Jahal telah pergi dengan membawa aibnya sedangkan Sumayyah binti Klhayyath pergi dengan membawa kenangan dan kemuliaannya.
Tahukah Anda di manakah tombak orang yang lalim ini mengenai jasad wanita yang jujur ini?
Tombak itu mengenai pahanya sampai tembus ke bagian kehormatan dan kemaluannya.
Demi Allah, betapa parahnya kebodohan orang yang lalim ini! Tidaklah berani melakukan perbuatan seperti ini melainkan orang yang tekadnya telah jatuh.
Wahai orang yang berakal, cobalah renungkan dan bandingkan antara dua tekad yang sangat berbeda ini! Tekad seorang wanita tua dan bertubuh lemah ini tak tergoyahkan oleh cemeti, tekadnya tidak bengkok oleh panasnya tanah bebatuan, dan tidak gentar oleh tombak sang pengecut tersebut. Kemudian perhatikanlah tekad seorang laki-laki yang kekar, kuat, lagi besar, serta memiliki pengawal yang banyak yang tidak merasakan manisnya iman, lalu dia menjadi tak berdaya dihadapan seorang wanita hingga dia berani membunuhnya. Subhanallah, betapa jauhnya perbedaan antara dua tekad itu. Dan betapa jauhnya perbedaan antara dua sikap itu!
Tekad wanita yang shalihah itu mencapai bintang kartika, bahkan melewatinya. Sedangkan tekad orang yang lalim berada di permukaan tanah yang paling rendah. Betapa mulianya generasi yang kaum wanitanya memiliki sifat seperti itu!
Akhirnya meninggallah Sumayyah, seorang wanita yang pertama mati syahid, seorang wanita yang benar keimanannya, yang merupakan ibu dari Ammar.
Ammar, seorang anak yang sangat berduka, mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk mengadukan beratnya musibah dan sakitnya duka yang dia rasakan. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, penyiksaan yang kami dapatkan sangatlah berat!” Maka Nabi shallallahu Alaihi Wasallam menghiburnya dan mengusap air matanya dengan tutur kata penghibur yang sangat indah. Beliau bersabda,
“Bersabarlah wahai Abu al-Yaqzhan!”
Kemudian beliau berdoa,
“Ya Allah, janganlah Engkau siksa seorang pun dari keluarga Ammar dengan api neraka!” (HR. Ibnu Abdul Barl
Itulah kata-kata yang menjadi penyejuk dan penenteram bagi hati yang terluka dan air mata yang bersedih.
Ketika terjadi perang Badar dan kaum Muslimin membunuh orang-orang kafir, di kalangan korban yang terbunuh itu terdapat pembesar Makkah, Abu Jahal, maka Nabi bersabda kepada Ammar,
“Sungguh Allah telah membunuh orang yang telah membunuh Ibumu,” (HR. Ibnu Salah)
Begitulah, Sumayyah binti Khayyath Radhiallahu Anha pergi dengan tekad yang kuat, iman yang kokoh, dan keteguhan di atas agamanya, agar dia bisa berjumpa dengan Tuhan yang dia mempertaruhkan jiwanya untuknya dan mempersembahkan ruhnya karena rela dengan apa yang ada di sisiNya. Akankah dia tersia-siakan di sisi Allah? Tidak, janji yang benar itu akan terwujud,
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah surga. “
Berbahagialah engkau, wahai wanita yang shalihah, dengankemuliaan yang tinggi dan keagungan yang luhur itu! Wahai wanita yang mengajarkan pelajaran yang palingagung tentang keteguhan kepada generasi berikutnya! Wahai lambang kesabaran! Wahai orang yang telah memperlihatkan sikap yang luar biasa! Kami ucapkan selamat kepadamu wahai putri Khayyath dan kami tujukan penghargaan kami kepadamu wahai wanita yang jujur.
Gelar yang suci itu tetap melekat padamu, “Wanita pertama yang mati syahid dalam Islam.” Semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhai Sumayyah binti Khayyath, suaminya yang jujur, Yasir, dan putra mereka yang shalih, Ammar. Semoga Allah membahagiakan mereka,
“Di taman-taman (surga) dan sungai-sungai, di tenipat yang benar di sisi Tuhan yang Mahakuasa.” (Al-Qamar: 54-55).
***********
Penulis: Ustadz Azhari ahmad Mahmud (Di Sadur Dari Buku Kisah para Wanita Mulia Yang Memiliki Peran Besar Dalam Sejarah h. 31-38)
Demikian Semoga Bermamfaatโฆ
@Wallahu โalam bishowabโฆ
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qurโan dan Sunnah)












































































