Senantiasa Memberi Kemudahan dan Tidak Suka Mempersulit Orang
Wanita Muslimah yang benar-benar menyadari petunjuk agamanya senantiasa memberi kemudahan dan tidak pernah mempersulit orang lain, karena memberi kemudahan itu merupakan akhlak yang paling utama yang diridhai Allah Subhanahu Wata’ala bagi hamba-hamba-Nya yang berirnan,
“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (Al-Baqarah: 185)
Bertolak dari hal itu muncul petunjuk Nabi yang memerintahkan kaum Muslimin dan Muslimat untuk memberikan kemudahan dan melarang mempersulit orang lain,
“Ajarilah orang lain, permudah dan janganlah kalian mempersulit mereka, Dan, apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah dia diam. “
Wanita yang senang mempersulit dan membelit-belitkan urusan setelah memahami petunjuk Islam bukanlah wanita yang bertakwa dan tidak normal. Yang demikian itu adalah wanita yang mengalami akhlak yang menyimpang, dalam jiwanya terdapat keruwetan, pada kepribadiannya terdapat kerusakan, pendidikannya mengalami banyak kekurangan dan karakternya mengalami kekusutan. Sedangkan wanita Muslimah yang normal dan taat kepada Rabb-nya serta menjalankan petunjuk agamanya, tidak mau mempersulit dan membelit-belitkan urusan. Dalam hal itu dia berpedoman pada akhlak Rasulullah yang diberitahukan oleh Ummul- Mukminin Aisyah Radhiallahu Anha,
“Rasulullah tidak diperintahkan memilih dua pilihan melainkan beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya selama bukansuatu hal yang dosa. Apabila hal itu sebagai suatu dosa, maka beliau adalah orang yang berada palingjauh darinya. Dan, Rasulullah tidak balas dendam dalam suatu masalah karena dirinya sendiri kecuali perintah dan larangan Allah dirusdk, maka beliau pun balas dendam karena Allah Ta’ala.” (Muttafaq Alaih)
Wanita Muslimah yang benar-benar bertakwa senantiasa mempraktekkan petunjuk Rasulullah , tidak membangkang dan tidak juga melanggarnya. Tidak Iri Hati Banyak dari kaum wanita yang terjungkal ke dalam iri hati, disebabkan karena banyak di antara mereka yang melihat wanita lainnya lebihcantik, lebih pandai dan lebih cerdas, yang tenggelam dalam kehidupan kekayaan dan kenikmatan, sedangkan dia sendiri tidak memiliki apa yang mereka miliki.
Tetapi wanita yang senantiasa memperhatikan dan berada dalam bimbingan agamanya senantiasa berada dalam perlindungan dari ketergelinciran tersebut, karena dia telah membaca dan memahami hukum- hukum agamanya yang telah mengajarkannya bahwa segala sesuatu dalam kehidupan ini berjalan sesuai dengan qadha dan qadar, dan bahwasanya kenikmatan duniawi ini meski telah mencapai puncalknya pada hakikatnya sangatlah sedikit dibandingkan dengan apa yang dijanjikan Allah bagi wanita-wanita yang beriman dan ridha atas apa yang telah menjadi kete- tapan Allah Subhanahu Wata’ala, dan bahwasanya nilai seorang wanita itu terletak pada ketakwaan dan amal shaleh dan bukannya apa yang dimilikinya dari kemewahan kehidupan duniawi yang terbatas dan akan binasa. Setiap kali nilai-nilai ini bersemayam dalam diri seorang wanita, maka akan semakin bertambah jernih, bersih dan tenang jiwanya. Dan, dia ini akan termasuk penghuni yang beruntung yang mendapatkan keridhaan Rabb-nya meskipun dia bukan termasuk orang yang banyak beribadah.
Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan isnad hasan dan Nasa’i dari Anas bin Mali , dia menceritakan, Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah , lalu beliau bersabda, Sekarang akan muncul di hadapan kalian seseorang dari penghuni surga. Kemudian muncullah seorang laki-laki dari kaum Anshar, dari jenggotnya menetes air bekas wudhu, dia menenteng (membawa) sandalnya dengan tangan kirinya. Sehari kemudian Nabi mengatakan halyang sama, lalu muncul orang laki-laki tersebut persis seperti semula. Dan, pada hari ketiganya Nabi mengatakan kata-katayang sama, kemudian muncul laki-laki itu dan persis seperti kemunculan pertamanya. Ketika Nabi berdiri, Abdul-lah bin Amru bin ‘Ash mengikuti laki-laki itu dan berkata, ‘Sesungguhnya akutelah bermusuhan dengan ayahku dan aku bersumpah tidak akan menemuinya selama tiga hari. Jika engkau mengizinkan, aku hendak bermalam di rumahmu.” Maka laki-laki itupun berucap, ‘Silahkan. Anas bin Malik melanjutkan riwayatnya, Abdullah bin Amr bin Ash menceritakan bahwa selama menginap tiga malam itu dia tidak pernah melihat orang itu bangun malam kecuali hanya bangun dan membalikkan badannya di atas kasurnya sembari menyebut Nama Allah dan mengucapkan takbir sampai dia bangun untuk menunaikan shalat Subuh.’ Selanjutnya Abdullah berkata, “Tetapi aku tidak mendengar sesuatu dari mulutnya melainkan hal-hal yang baik saja.” Setelah tiga hari aku lalui, dan hampir aku meremehkan amal perbuatannya tersebut sembari kukatakan, Wahai hamba Allah, sebenarnya antara aku dan ayahku tidak ada permusuhan dan kemarahan’, tetapi aku pernah mendengar Rasulullah berkata sampai tiga kali, ‘Sekarang akan muncul di hadapan kalian seorangdari penghuni surga. Dan pada ketiganya itupula engkaulah yang muncul, lalu aku ingin berada di sisimu untuk melihat apa yang engkau kerjakan untuk selanjutnya aku ikuti, tetapi aku tidak pernah melihatmu mengerjakan suatu amal yang besar, lalu apa yang terjadi padamu
hingga Rasulullah mengatakan hal seperti itu?’ Orang itu pun bertutur, “Tidak ada yang aku kerjakan melainkan apa yang engkau lihat.’ Dan, ketika aku membalikkan badan untuk kembali ke rumah, orang itu memanggilku dan mengatakan, Aku tidak mengerjakan apa-apa kecuali seperti apayang engkau lihat, tetapi aku mendapatkan diriku tidak memperdaya orang Muslim dan tidak pula aku iri hati kepada seseorang atas suatu kebaikan yang telah diberikan Allah kepadanya.” Maka Abdullah bin Amr bin Ash pun berkata, Tnikah yang telah engkau lakukan, sesuatu yang tidak mampu kami lakukan’. “
Hadits ini menunjukkan pengaruh kejernihan dan kebersihan jiwa dari rasa dengki dan iri hati, keselamatan hatinya dari tipu daya dan pengkhianatan, terhadap perjalanan dan nasib seseorang di akhirat dan tingginya kedudukan di sisi Allah serta diterimanya amal perbuatan meskipun hanya sedikit. Pengaruh ini akan terlihat jelas jilka dibandingkan antara laki-laki yang hanya menjalankan ibadah sedikit dan dikategorikan sebagai penghuni surga karena kejernihan hatinya dan kemampuannya mengendalikan untuk tidak menyakiti orang lain, dengan wanita yang senantiasa shalat malam dan puasa di siang hari, tetapi dia selalu menyakiti tetangganya, yang ketika ditanyakan kepada Rasulullah mengenai keberadaannya beliau menjawab, “Wanita itu termasuk penghuni neraka.
Yang demikian itu karena orang yang senantiasa berat timbangannya dalam timbangan Islam adalah orang yang bersih hatinya dan jiwanya pun bersih dari sifat iri hati dan dengki, meskipun ibadah yang dijalankannya itu hanya sedikit. Sedangkan orang yang banyak beribadah, sedang jiwanya dipenuhi dengan perasaan marah, dengki dan iri hati, maka ibadahnya itu hanya sebatas formalitas dan bersifat lahiriyah saja dan tidak didasarkan pada pondasi keimanan yang kuat. Oleh karena itu, ibadah yang dilakukannyaa itupun tidak memberikan pengaruh pada pembersihan dirinya dari sifat iri seperti yang diberitakan Rasulullah bahwa sifat itu tidak akan pernah bersatu dengan iman dalam hati seseorang “Tidak akan bersatu di kedalam diri seorang hamba antara iman dan iri hati, “
Dan dari Dhamurah bin Tsa’ labah , dia menceritakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Manusia ini akan selalu dalam kebaikan selama mereka tidak saling iri hati, “
Wanita Muslimah yang sadar dan cerdas adalah yang menyatukan antara ibadah yang baik dengan kebersihan jiwa dari kekeruhan iri hati dan dengki. Dengan demikian itu dia akan mencapai tingkat ketakwaan tertinggi, sehingga dia akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Rabb-nya, mendapatkan keberuntungan di dunia dan senantiasa dicintai, dihor-mati dan disegani orang banyak. Hingga akhirnya dia menjadi batu bata yang kuat dan bersih bagi bangunan masyarakat Islam yang bersih, kokoh, maju dan layak membawa panji risalah Rabb-nya.
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 351-355)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)















































































