Buku ini sangatlah luar biasa. Penulis benar-benar lihai menggambarkan keadaan masyarakat sebelum terjadinya Perang Salib. Penulis banyak sekali mengutip tulisan-tulisan sejarawan sezaman seperti Ibnu Al-Atsir, Ibn Aqil, Ibnu Katsir, Ibnu al-Jauzi, Ibnu Khaldun, dan masih banyak lagi, untuk menguatkan pendapatnya tentang kondisi masyarakat pada saat itu.

Bahasa penerjemahan buku ini juga mudah untuk dipahami. Sehingga, saya pribadi merasa seperti melihat langsung keadaan yang sedang terjadi ketika membacanya. Walaupun ia menulis tentang perselisihan mazhab pada saat itu, akan tetapi dalam penulisannya ia sama sekali tidak menunjukkan keberpihakkannya pada salah satu mazhab. Alhasil kita bisa melihat secara jelas kesalahan dan kebenaran yang terjadi pada saat itu.

Alasan mengapa umat Islam kalah dalam Perang Salib I masih sering menjadi pertanyaan sebagian orang. Padahal kita bisa membaca kisah hidup ulama besar pada masa itu untuk mengerti kondisi dan konteks peristiwanya, salah satunya seperti Imam Al-Ghazali. Kondisi umat Islam saat itu tidaklah buruk, umat Islam memiliki banyak madrasah untuk mendalami ilmu-ilmu agama, dan juga hadirnya guru-guru nan hebat yang menguasai banyak ilmu agama.

Itu menunjukkan bahwa umat pada saat itu hidup dalam kemakmuran. Kemakmuran dan sains tengah berada di masa puncaknya. Umat Islam pun masih hidup dalam naungan kehidupan bernegara Islami. Sehingga, amat dipertanyakan mengapa bisa sekelompok umat yang sedang dalam kemakmuran bisa ditaklukkan dengan mudah oleh musuh tanpa ada perlawanan yang berarti.

Pada masa itu sikap mazhabisme ramai terjadi. Setiap orang menganggungkan mazhab yang mereka yakini, baik dalam aqidah maupun fiqih. Para pengikut mazhab Hambali yang menganggap hanya mereka lah yang memilki kemampuan untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Mereka merasa paling berhak dalam menyebarkan ajaran mazhabnya. Makanya pada saat para pengikut mazhab Asy’ari muncul di pentas dakwah dan aktivitas Islam, para pengikut Hambali menganggap mereka sebagai pesaing.

Mereka pun melakukan berbagai cara untuk menghalangi para da’i Asy’ari, dengan menuduh dan merusak citra mereka di mana-mana. Begitu pula orang-orang dari mazhab Asy’ari, mereka menganggap dirinya memiliki pengetahuan luas dan kemampuan intelektual yang baik. Sehingga mereka memandang orang-orang mazhab Hambali berpengetahuan rendah dan juga dangkal.

Karena keangkuhan dari setiap mazhab tersebut, sering kali terjadi pertikaian diantara keduanya. Baik yang dalam kelompok kecil sampai dalam jangkauan besar yang sampai memakan korban. Seperti yang terjadi pada tahun 469 H. Salah seorang ulama bermazhab Asy’ari diundang ke Madrasah an Nizhamiyah.

Dalam ceramahnya itu ulama tersebut menyudutkan pengikut mazhab Hambali dan menuduh mereka menganut ajaran Tajzim. Tuduhan ini di dukung oleh guru-guru mazhab di madrasah tersebut, yang menyulut pertikaian kedua belah pihak. Karena hal tersebut pemerintah mengeluarkan peraturan, bahwa para penceramah tidak boleh mengajar sampai tahun 472 H.

Tidak hanya itu, pada tahun 470 H dua ulama mazhab Hambali dan Syafi’i terlibat pertikaian. Keduanya didukung para pengikutnya, dan juga orang awam. Dalam peristiwa tersebut tercatat 20 orang meninggal dan sejumlah orang luka-luka. Juga pada tahun 475 H, para pengikut mazhab Syafi’i mengundang Abu al-Qasim al-Bakri al-Asy’ari ke Madrasah an-Nizhamiyah.

Dalam ceramahnya al-Qasim mengeluarkan pernyataan yang menyakiti pengikut Hambali. Maka dari itu terjadilah pertikaian di dalam dan di luar madrasah. Alhasil beberapa rumah hancur dan sejumlah buku raib. Banyak lagi pertikaian yang terjadi antara mazhab Hambali dan juga Syafii pada masa itu, dan juga bukan hanya terjadi di Baghdad tapi juga di beberapa kota lainnya.

Setiap mazhab ingin menjadi yang terbaik, mereka merekrut banyak orang baik orang yang berilmu maupun orang awam. Kehebatan suatu mazhab bukan dinilai seberapa banyak orang berilmu dalam mazhab tersebut, tapi hanya sebatas jumlah pengikutnya. Alhasil para pengikut mazhab tersebut tidaklah berkualitas. Mereka hanya sekadar ikut-ikutan, ataupun untuk kepentingan dirinya sendiri.

Tak jarang pula pertikaian antar pengikut mazhab terjadi, mereka memperebutkan kedudukan di sisi penguasa. Berlomba-lomba merebut hati penguasa dengan berpura-pura alim di depannya. Agar bisa mendapat kepercayaan dan juga jabatan dari penguasa. Bisa dibayangkan bagaimana rendahnya sikap para “ulama” pada saat itu.

Sehingga dari perpecahan-perpecahan tersebut orang-orang Kristen mengambil kesempatan untuk menguasai orang-orang muslim. Perang Salib bermula dari Peters Amiens yang kembali dari ziarah ke Palestina pada tahun 1094. Ia merasa sangat tersinggung melihat tanah tempat kelahiran Isa Al-Masih dikuasai umat Islam, yang ia anggap sebagai orang-orang kafir. Akhirnya ia pun pulang ke Eropa dan melakukan kampanye kepada para raja-raja Kristen agar mau merebut tanah suci itu. Karena Kaisar Elexius Komeninus dari Byzantium menganggap bahwa kekuatan Turki Saljuk yang kekuasaanya sudah sampai ke Asia Kecil berbahaya untuk Kontantin, ajakan ini pun diterima dengan cepat.

Kaisar pun menyampaikan permohonan kepada Paus Urbanus II agar mengeluarkan perintah suci kepada raja-raja di Eropa, mengumpulkan kekuatan untuk merebut Palestina dari tangan Muslimin. Maka setujulah Paus karena mengharapkan bersatunya lagi gereja Roma dan Gereja Byzantium. Terkumpulah kekuatan yang sangat besar tersebut untuk menaklukan Palestina (Hamka, Dari Hati ke Hati, Depok: Gema Insani, 2016. hlm. 87).

Serangan pasukan Salib ini sangat hebat. Pergerakan mereka pun tak terhentikan. Pada 1097 M, mereka berhasil mengausai Anthakiyah dan berlanjut merebut Baitul Maqdis pada tahun 1098 M. Pasukan Salib melakukan pembantaian ketika berhasil menguasai Palestina. Mereka membantai semua orang yang mereka temui tanpa terkecuali. Sampai-sampai disebutkan bahwa pada saat itu Al-Quds di banjiri darah hingga semata kaki.

Para sultan yang sedang saling berselisih dan bertikai tersebut tidak melakukan perlawanan apapun terhadap pasukan Salib tersebut, karena sibuk dengan urusan pribadinya. Sampai-sampai ketika datang seorang utusan datang ke sultan untuk meminta pertolongan, bukannya menolong justru ia mengabaikannya dan sibuk dengan urusannya yang tak penting. Begitu pula dengan masyarakatnya, tidak ada yang memiliki keberanian untuk menolong Kaum Muslim di Palestina karena rasa takut mati dan cinta dunia yang telah tertanam dalam hati mereka.

Dari penggalan kisah tersebut, ada hikmah yang bisa kita ambil, salah satunya ialah akibat memiliki sifat-sifat tercela seperti sombong, hasad, iri, cinta dunia, dan lain sebagainya yang dapat mencelakai diri kita dan juga orang banyak. Sebagaimana para penganut mazhab tersebut yang sombong agar kelebihan ulama mazhabnya terdahulu sehingga merendahkan mazhab lainnya, yang sebenarnya sama-sama baik adanya. Juga penyakit hasad dan iri karena melihat keunggulan mazhab lain ataupun temannya dalam beberapa aspek yang menyebabkan pertikaian yang tak terelakkan.

Juga yang paling parah dan berbahaya pun ialah penyakit cinta dunia. Yang membuat orang-orang takut untuk berjihad di jalan Allah, dan justru berlomba-lomba mencari-cari keuntungan duniawi. Cukuplah Perang Salib yang menjadi bukti bagaimana umat dapat dihancurkan dengan sangat mudahnya karena sifat-sifat tersebut. Kita yang hidup di zaman sekarang, hendaknya menjauhkan diri dari sifat-sifat dan berusaha mendidik jiwa kita sendiri tersebut agar tidak jatuh dalam kebinasaan yang sangat menghinakan.

***********

Penulis: Salma Mufidah A

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan