Bakr bin Abdillah Al-Muzani berkata, “Aku tidak melihat kepada seorang pun kecuali aku melihat bahwa ia lebih utama dariku, karena aku yakin akan kekurangan diriku dan masih ragu atas keberadaannya pada orang lain.”

Di sini Imam Ahmad memberikan pelajaran kepada kita mendidik bukan hanya sekedar wacana, yaitu ketika Khurasani berkata kepadanya, ‘Segala puji bagi Allah yang telah mentakdirkan aku bisa melihatmu’, maka beliau berkata, ‘Duduklah! Apa ini? Memangnya siapa saya ini?

Jika anak-anak para shahabatmenyikapi diri mereka dengan kekhawatiran yang sedemikian rupa, maka sudah sepatutnya kita ucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un kepada diri kita yang telah sekian lama suka dipuji dan diperhatikan.

Maka dari sinilah Ibnu Atha’ As-Sakandari menganggap bangga terhadap diri adalah sumber segala musibah. la berkata, “Sumber semua kemaksiatan, kelalaian, dan syahwat adalah bangga terhadap diri, sedang sumber semua ketaatan, kesadaran, dan kesucian diri adalah tidak bangga terhadap diri. Sungguh, sekiranya engkau berteman dengan seorang yang bodoh namun tidak bangga diri itu lebih baik bagimu daripada berteman dengan seorang alim, tetapi bangga diri. Apalah arti sebuah ilmu bagi seorang alim jika dia bangga diri, dan apa arti sebuah kebodohan bagi seorang yang bodoh jika dia tidak bangga diri.”

Muhammad bin Wasi’ pernah berkata, “Andai kata dosa itu memiliki bau, maka kalian tidak akan kuat mendekat kepadaku karena busuknya bauku.”

Muhammad bin Wasi’ adalah orang yang terkenal sebagai ahli ibadah, zuhud, dan wara’. Qutaibah bin Muslim selalu memintanya untuk menemaninya dalam berbagai peperangan. Apabila perang sudah berkecamuk, biasanya dia menyeru, “Di mana Muhammad bin Wasi’?” Maka Muhammad bin Wasi’ mengacungkan jarinya ke atas. Setelah melihatnya maka ia berkata, “Sesunguhnya jari Muhammad bin Wasi’ bagiku lebih aku cintai daripada seratus ribu tentara.” Begitulah generasi yang unik ini selalu menganggap kecil diri dan mengkritisinya karena takut dirasuki perasaan ujub (bangga diri dan sombong).

Ketika dikatakan kepada salah seorang dari mereka, “Berdoalah kepada Allah untuk kami, maka dia berkata, ‘Ya Allah, berilah rahmat kepadaku karena mereka, dan jangan turunkan azab kepada mereka karena aku,”

Atha’ As-Salimi apabila mendapatí angin bertiup kencang disertai halilintar maka dia berkata, “Iní disebabkan karena aku. Kalau Atha’ meninggal maka orang-orang akan tenteram Perawi mengatakan, “Kita pernah mengunjungí Atha’, apabia kita katakan, “Harga makanan sekarang mahal’, maka dia berkata, ‘Itu semua karena aku, kalau aku meninggal maka orang-orang akan tenteram.’

Di antara orang yang menyadari akan bahaya nafsu dan menganggap kecil diri adalah seorang tabi’in besar dan khalifah rasyid yang ke lima, Umar bin Abdul Aziz, Ketika dia pergi Ke Damaskus untuk menjabat sebagai Khalifah setelah sebelumnya menjadi wali kota Madinah, dia sadar bahwa urusan yang diamanahkan kepadanya sangat berat dan agung pada waktu natsu merasa tinggi. Dia berkata kepada budaknya, “Muzahim, kita khawatir termasuk orang yang dimurkai penduduk Madinah. “

Amir bin Abdu Qois, seorang ahli ibadah, zuhud, bertakwa, dan wara berkata, “Apakah aku termasuk ahli surga? Apakah aku termasuk ahli surga? Apakah orang sepertiku ini layak masuk surga?”

Ayyub As-Sajastani pernah berkata, “Apabila disebut nama orang-orang saleh maka aku tidak termasuk di dalamnya.”

Tatkala dikatakan kepada Sulaiman At-Timi, “Engkau, engkau, siapakah yang bisa menyamaimu?” Maka beliau berkata, “Janganlah kalian mengatakan begitu karena aku tidak tahu, apa keputusarn Allah yang bakal aku terima nantí. Aku mendengar Allah berfirman, ‘Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan’. “(Az-zumar: 47)

Ibnul Qayyim mengatakan, “Memarahi diri agar tetap lurus di jalan Allah termasuk sifat orang-orang saleh. Dengannya seorang hamba bisa dekat kepada Allah dalam seketika, lebih dari mendekatkan diri kepada-Nya dengan amalan.”

Sungguh, perkara semacam ini haruslah dipelajari oleh para dai zaman sekarang. Kalau tidak demikian, maka mereka terjebak ke dalam kesempurnaan yang nisbi, yang akan menghalangi mereka untuk melihat kekurangan-kekurangan yang mereka miliki sehingga makin menumpuk kesalahan yang dikerjakan dan makin menyimpang dari manhaj tanpa sadar.

Saudaraku, waspadalah! Terlalu tinggi dalam menilai diri akan membuat Anda menempatkan diri melebihi kepatutan. Hendaklah engkau selalu menganggapnya kecil.

Hal ini sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i, “Barang siapa berlebih-lebihan dalam menilai diri melebihi kepatutan maka Allah akan mengembalikannya kepada aslinya.”

Saudaraku, itulah generasi tabi’in. Para tokoh yang bisa menerangi gelapnya kesesatan. Bagai rembulan yang menerangi gulitanya malam. Mereka adalah neraca bagi semua madzhab, ibarat air segar bagi setiap peminumnya, dan generasi pilihan yang menjadi teladan bagi siapa pun.

**********

Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal.41-44

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)