Sibuklah pada dirimu dan jangan sibuk dengan orang lain. Barang siapa sibuk dengan orang lain, sungguh día telah terpedaya

Hammad bin Zaid meriwayatkan dari Ashim Al-Ahwal, ia berkata, “Fudhail bin Zaid Ar-Raqasyi berkata kepadaku, Hai kamu, jangan sampai banyaknya orang membuatmu lalai terhadap diri sendiri karena nantinya urusan itu kembali kepadamu sendiri tanpa mereka. Janganlah menghabiskan waktu siangmu untuk pergi ke sana kemari dengan ini dan itu. Karena setiap apa yang kamu ucapkan dicatat untukmu (untuk dimintai pertanggungjawaban). Kami tidak melihat sesuatu yang lebih baik untuk dicari dan lebih cepat untuk diraih daripada kebaikan baru untuk menghapus dosa lama’.”

Sungguh, hati generasi Rabbani ini senantiasa terhubung dengan Allah. Mereka tidak terpedaya oleh nafsu yang merupakan musuh paling berbahaya sehingga sibuk dengan segala urusan yang memalingkannya. Mereka selalu mendidik dan membimbingnya karena mereka paham bahwa mendidik dan mengurusi nafsu adalah langkah awal yang harus dikerjakan bagi siapa saja yang ingin selalu istiqamah menjalankan perintah Allah. Pun karena mereka telah mengetalhui hakikat nafsu dan tabiatnya, sebagaimana yang dikatakan A-Ajuri, “Apabila Anda menjadikan nafsu Anda rakus maka ia akan rakus. Apabila Anda menjadikarnnya putus asa maka ia akan putus asa. Apabila Anda menjadikannya puas maka ia akan puas. Apabila Anda lembek kepadanya maka ia akan melampaui batas. Apabila Anda membiarkannya maka ia akan berbuat jelek. Dan apabila Anda memaksanya untuk selalu berada di atas perintah Allah maka ia akan menjadi baik.”

Musa bin Ismail berkata, “Jika aku mengatakan kepada kalian bahwa aku tidak pernah melihat Hammad bin Salamah tertawa, sungguh, aku jujur kepada kalian. Dia selalu sibuk dengan dirinya, membacakan hadits, membaca, bertasbih, atau shalat. Dia membagi waktu siangnya untuk amalan-amalan ini.”

Sekarang berapa banyak waktu yang orang habiskan dalam kelalaian, lupa dengan diri mereka sehingga kosong dari ketaatan, atau sibuk dengan amalan-amalan yang mubah, atau dengan amalan-amalan yang tidak membawa manfaat bagi dirinya. Hal semacam ini menurut kamus para tabiin termasuk perbuatan bunuh diri. Ketika membaca firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu” (An-nisa: 29), Fudhail bin Iyadh berkata, “Janganlah kalian lalai terhadap diri kalian. Barang siapa yang lalai terhadap dirinya, sungguh dia telah membunuh dirinya.”

Beliau juga mengatakan, “Sibuklah pada dirimu dan jangan sibuk dengan orang lain. Barang siapa sibuk dengan orang lain, sungguh dia telah terpedaya.”

Begitulah manhaj mereka terhadap diri mereka, yaitu sibuk dengan aib sendiri. Pada langkah pertama, apabila seorang hamba tidak sibuk dengan mengendalikan nafsunya dan menyucikan hatinya dengan berbagai kesungguhan maka selamanya dia akan jelek.”

Aku menangisi diriku dan tidak menangisi yang lain

Aku tersibukkan dengan diriku dari orang lain.

Mereka selalu sibuk dengan menata diri sebagaimana dikatakan Bikar, “Aku tidak pernah melihat Abdullah bin Aun mencandai seseorang. Dia selalu sibuk dengan dirinya. Apabila selesai shalat Subuh, dia tetap duduk menghadap kiblat sambil berzikir. Apabila matahari telah terbit, dia shalat kemudian menemui kawan-kawannya. Aku tidak pernah melihatnya mencela seorang pun; budak laki-laki atau perempuan, ayam atau kambing. Akujuga tidak pernah melihat seorang pun yangg lebih bisa menjaga lisannya daripada dia. Dia berpuasa sehari dan berbuka sehari hingga meninggal. Apabila dia berwudhu tidak ada seorang pun yang membantunya, baunya wangi, dan pakaiannya lembut.”

Demikianlah para tabi’in memahami urusan ini. Mereka bersungguh-sungguh mengerjakannya. Bertolak dari hal ini, jiwa mereka menjadi tinggi dan melangit, yaitu ketika mereka benar-benar memperhatikannya. Setiap dari mereka benar-benar mengetahui bahwa “Apabila sesaat saja orang lalai terhadap nafsunya maka nafsunya akan berkhianat. Dan apabila orang terus membiarkannya maka nafsunya akan tumbuh dalam pengkhianatan.”

Maka, waspadalah terhadap pengangguran, kekosongan, dan kelalaian diri. Sebab, apabila Anda tidak menyibukkannya dengan kebaikan maka dia akan sibuk dengan yang batil sebagaimana yang dikatakan Imam Syafi’i. Di antara wujud kelalaian terhadap nafsu dan sibuk dengan kebatilan ialah sibuk dengan aib orang lain, menjelek-jelekkan, menggolong- golongkan serta mencari-cari kesalahan untuk disebarkan, dan membuat orang lari dari majelisnya. Dengan itu, lisan penuh dengan berbagai prasangka buruk dan dosa, kecurigaan, dan melupakan segala kebaikan orang lain; bisikan hati menjadi ikutan, maksud dan niat ditafsirkannya seenak sendiri.

Tak pelak lagi, ini merupakan kejahatan terbesar terhadap diri. Kejahatan semacam ini menimpa karena virus kejelekan telah menyerang lisan kita. Kalau ini tidak segera diobati maka akan menjalar dan menyebabkan kebutaan terhadap aib sendiri. Virus-virus ini akan berkembang dan menjalar sedikit demi sedikit sampai akhirnya menguasai hati dan menghentikan fungsinya.

Oleh karena itu, generasi tabi’in ini selalu mendidik dan mengingatkan kita untuk senantiasa waspada terhadap bahaya ini. Muhammad bin Ahmad bin Salamah berkata, Dzun-nun berkata kepadaku, ‘Jangan sampai aib orang lain membuatmu sibuk dan lalai terhadap aib sendiri. Sebab, engkau tidak berkewajiban mengawasi mereka.” Kemudian dia berkata, Sesungguhnya hamba yang paling Allah cintai adalah yang paling paham dengan-Nya, dan tanda kesempurnaan akal dan ketawadhu’an seseorang adalah mau mendengarkan orang lain yang bicara meskipun sebenarnya dia telah mengetahuinya dan segera menerima kebenaran meskipun dari orang yang di bawahnya serta mau mengakui kesalahannya’.”

**********

Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal.45-48

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)