“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya” (Qs. An-Nahl: 18).
Tiap detik, Allah melimpahkan nikmatNya kepada setiap makhluk. Misalnya, nikmat umur, iman, dan Islam. “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya” (QS. An-Nahl: 18).
Kita wajib bersyukur kepada Allah atas berbagai nikmatNya. Menurut Imam al-Ghazali, bersyukur adalah salah satu maqam yang lebih tinggi dari sabr, khauf kepada Allah dan maqam lainnya.
Bila kita bersyukur, berarti kita telah menempatkan nikmat Allah pada tempat yang sesungguhnya. Wujud syukur yang sebenarnya adalah melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya.
Abul Laits as-Samarqandi dalam Tanbih al-Ghafilin membagi syukur menjadi tiga macam. Pertama,Jika seseorang menerima nikmat, maka ingatlah a kepada yang memberi untuk memuj padanya.
Kedua, ia ridha dan puas terhadap nikmat yang diterima. Ketiga, selama ia merasakan manfaat nikmat itu, maka ia tidak menggunakannya untuk perbuatan maksiat.
Seorang hakim berkata, “Saya sibuk mensyukuri empat macam. Pertama, Allah telah menjadikan seribu macam makhluk, sedang yang termulia dari semua itu anak Adam, lalu Allah menjadikan aku dari anak Adam. Kedua, Allah telah melebihkan orang lelaki daripada wanita, lalu menjadikan aku lelaki.Ketiga, saya mengetahui bahwa Islam itu sebaik-baik agama, dan yang diterima oleh Allah, lalu saya dijadikan seorang muslim. Keempat, saya mengetahui bahwa umat Muhammad itu paling utamanya umat, lalu Allah menjadikan aku dari umat Muhammad SAW.
Nikmat Sehat
lbnu Abbas mengutip sabda Nabi Muhammad, “Dua macam nikmat yang kebanyakan manusta rugi (kecewa) dalam menerima keduanya. Yaituu nikmat sehat afiat dan libur (tidak ada kerja). Jarang orang yang dapat menggunakan dengan sungguh- Sungguh masa sehat dan libur itu” Imamal-Ghazali mengemukakan tiga cara bersyukur kepada Allah. Pertama, bersyukur dengan hati, yaitu mengaku dan menyadari segala nikmat Allah. Kedua, bersyukur dengan lidah, yaitu mengucapkan ungkapan rasa syukur.
Seorang ulama berkata, “Barangsiapa merasa menerima nikmat, hendaknya ia membaca banyak hamdalah (alhamdulillah). Dan barangsiapa yang sering risau, hendaklah ia sering membaca istighfar (astaghfirullah), dan barangsiapa merasa tertekan oleh kemiskinan, hendaknya ia membaca laa hawla wa laa quwwata illaa billahi al-aliyyi al-adzimi”.
Ketiga, bersyukur dengan amal perbuatan, yaitu mengamalkan dan memanfaatkan anggota tubuh sesuai dengan agama. Bagi al-Ghazali, anggota tubuh yang terpenting meliputi mata, telinga, lidah, tangan, perut, kemaluan (seksual), dan kaki.
Jika kita bersyukur, Allah akan menambah nikmatNya kepada kita, dan jika mengingkarinya, azabNya sangat pedih (QS. Ibrahim: 7). Bila kita bersyukur, sesungguhnya kita bersyukur untuk kebaikan sendiri (QS. An-Naml: 40; QS. Luqman:12).
Lagi pula, ada empat orang yang diberi keuntungan dunia dan akhirat. Orang yang menggunakan lidahnya untuk berdzikir, hatinya untuk bersyukur, badannya untuk bersabar, dan memiliki istri mukminah shalihah.
Sudahkah Kita Bersyukur?
Jangan butakan mata kita. Hanya karwna satu dua keinginan kita yang tidak tercapai, lalu kita menjadi manusia pengelu, yang terhbat sebab fokusnya hanya pada kekurangan.
Mata kita selalu terbiasa melihat kekurangan. Ini yang biasanya terjadi, selalu dan selalu yang kita lihat hanya kekurangan. Padahal Allah berfirman “Dan janganlah engkau tujukan penglihatanmu pada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, berupa perhiasan dunia, supaya Kami menguji mereka padanya, sedang rezeki Tuhanmu lebih baik dan kekal” (QS. Thรขha: 131).
Orang yang tinggi melihat bahwa ia kurus. Orang yang pendek melihat betapa enaknya bila bisa bertambah tinggi 5-10 cm. Yang punya TV 14″ dia ingin punyai TV yang 21. Yang punya rumah tipe 36, dia ingin tipe 72. Ada yang punya mobil satu, dia ingin mobil dua. Teruuus begituโฆ
Tidak salah memang punya keinginan. Namanya saja manusia. Tapi sudahkah kita syukuri apa yang sudah kita terima? Ini pertanyaan yang harus kita pertanyakan kepada diri kita. Jangan-jangan yang ada saat ini pun belum kita syukuri, lalu kita sudah kepingen ini dan itu sebagai tambahannya.
Jadilah kita manusia yang tidak pernah terpuaskan dahaga keinginannya. Kalau sudah begini, andai penyalurannya tepat, yakni lebih giat berusaha dan lebih cermat menangkap peluang, mungkin positif hasilnya.
Tapi andai salah penyalurannya, misal mencari jalan pintas, maka bisa ditebak, keinginan tersebut menjebak dia pada situasi kehidupan yang bemasalah. Ibaratnya, ia berenang di kolam yang tak bertepi.
Kehidupan itu indah, kalau dijalani dengan kebersyukuran. Apa yang ada di sekeliling kita, kita nikmati dulu sebagai pemberian Allah Yang Maha Baik. Keinginan dipasang, tapi tidak menjadi pasung yang mengharuskan kita memenuhi keinginan itu dengan membabi buta.
Berterima kasihlah pada Allah atas segala kebaikanNya, pasti Allah akan berkenan memberikan tambahannya. “.. Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tapi jika kamu mengingkari, ingatiah azabku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).
Dan salah satu cara berterima kasih itu, adalah menerima apa yang ada dan mau berbagi.
Cara Bersyukur Kepada Allah Subhanahu Wata’ala
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)” (0S Adh-Dhuha: 11).
Ada banyak cara yang dapat dilakukan manusia untuk mensyukuri nikmat Allah Subhanahu Wata’ala. Secara garis besar mensyukuri nikmat ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
– Syukur dengan Hati
Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah Subhanahu Wata’ala. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah” (QS. An-Nahl: 53).
– Syukur dengan Lisan
Ketika hati seseorang sangat yakin bahwa segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari Allah, spontan ia akan mengucapkan Alhamdulillah” (segala puji bagi Allah), “Wasysyukrulillah” (dan segala bentuk syukur juga millk Allah). Karenanya, apabila ia memperoleh nikmat dari seseorang, lisannya tetap memuji Allah Subhanahu Wata’ala. Sebab ia yakin dan sadar bahwa orang tersebut hanyalah perantara yang Allah Subhanahu Wata’ala kehendaki untuk “menyampaikan” nikmat itu kepadanya.
– Syukur dengan Perbuatan
Syukur dengan perbuatan mengandung arti bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhoiNya. Misalnya untuk beribadah kepada Allah, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat Allah harus kita pergunakan secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan. Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (bekas/wujud) nikmatNya pada hambaNya. (HR. Tirmidzi).
Allah SWT berfirman, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)” (QS. Adh-Dhuha: 11)
– Menjaga Nikmat dari Kerusakan
Ketika nikmat dan karunia didapatkan, cobalah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, usahakan untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan. Misalnya, ketika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kewajiban kita adalah menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar terhindar dari sakit.
Demikian pula halnya dengan nikmat iman dan lslam. Kita wajib menjaganya dari “kepunahan” yang disebabkan pengingkaran, pemurtadan dan lemahnya iman. Untuk itu, kita harus senantiasa memupuk iman dan Islam kita dengan shalat, membaca Al-Quran, menghadiri majelis-majelis ilmu, berdzikir dan berdoa. Kita pun harus membentengi diri dari perbuatan yang merusak iman seperti munafik, ingkar dan kemungkaran. Intinya setiap nikmat yang Allah berikan harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
Rasulullah SAW bersabda, “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari pada kamu dan janganlah kamu melihat orang yang di atasmu. Maka hal itu lebih baik untuk tidak meremehkan nikmat Allah atasmu.” (Muutafaq Alaih).
*************
Sumber : Majalah Yatim Mandiri, Edisi Maret 2017
Demikian Semoga Bermamfaatโฆ
@Wallahu โalam bishowabโฆ
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qurโan dan Sunnah
















































































