Tazkiyatun nafs, satu istilah penting dalam kehidupan umat Islam. Bagi yang sering mengikuti kajian tasawuf, istilah ini pasti familiar di telinganya. Tazkiyatun nafs adalah proses penyucian jiwa. Dasarnya bisa ditemukan dalam QS al-Syams : 9-10.

قذ أقلح من زگاها. وقد خابَ مَنْ دَسَاها

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan rugi orang yang mengotorinya.”

Sebagaimana jasad manusia, jiwa mereka juga bisa dihinggapi penyakit. Jika jasad manusia bisa terkena penyakit kulit, panas, gatal dan sebagainya, maka jiwanya juga bisa terkena penyakit seperti takabbur, riyâ’, hasad penyakit lainnya.

Jasad yang terkena penyakit harus segera diobati. Jika tidak segera berobat, jasadnya akan sakit, kemudian bisa mati. Begitu juga dengan jiwa, jika dibiarkan penuh penyakit, akan semakin sakit, kemudian juga akan mati. Kalau sudah begini, maka obat apapun tiada berguna lagi.

Tazkiyatun nafs seperti ini adalah fardhu ‘ain atas tiap Muslim. Jadi, yang harus bersih jiwanya itu bukan hanya Ustadz, Kyai atau ulama. Setiap Muslim, apapun profesinya, wajib mengamalkan tazkiyatun nafs. Guru, pengusaha, dokter, politisi, tentara, penguasa, dan sebagainya harus bersih jiwanya.

Jika setiap orang baik jiwanya, maka akan melahirkan masyarakat yang baik, kemudian mewujudkan peradaban yang mulia. Inilah hakikat peradaban dalam pandangan Islam. Di sisi lain, ada tazkiyatun nafs yang tercela. Lho kok bisa? Ya, tazkiyatun nafs yang ini memiliki makna yang berbeda dengan sebelumnya. Dasarnya ada di dalam QS. al-Najm : 32.

فل تنزرگوا أنفسكم هو أغلم بمن أتقی

“Jangan mengatakan dirimu suci, Dia lebih mengetahui
siapa yang takwa.”

Jadi, makna tazkiyatun nafs yang tercela adalah sikap memuji-muji diri sendiri. Seakan-akan suci dari dosa, mengaku sebagai orang baik, paling shaleh, jujur, dan sebagainya. Padahal, andaikan itu benar ada pada dirinya, maka sikap memuji-muji diri sendiri itu bukanlah perbuatan terpuji.

Dalam tasawuf, sikap semacam ini disebut al-shidq al-qabih (kejujuran yang buruk). Apalagi, fakta yang sebenarnya justru sebaliknya. Mengaku suci padahal hobi maksiat. Mengklaim sebagai orang baik, padahal zhalim. Merasa shaleh padahal senang berbuat salah.

Mendakwa diri sebagai orang jujur, padahal suka menipu. Kalau sudah begini, maka kesalahannya menjadi berlipat, dosanya dan hukumannya akan bertambah berat. Untuk bahagia dunia akhirat, kita wajib tazkiyatun nafs. Tentu saja, bukan tazkiyatun nafs dengan makna yang kedua.

Tazkiyatun nafs seperti itu hanya membawa petaka dan celaka bagi pelakunya. Caranya mudah, akibatnya membuat tapi susah. Tampilannya indah, hakikatnya membuat hati menjadi gundah. Sebaliknya, tazkiyatun nafs dengan makna pertama adalah jalan untuk bahagia. Menjalaninya berat, tapi akibatnya membawa nikmat. Melakukannya butuh perjuangan, tapi hasilnya membawa ketenangan dan kesenangan.

Puncaknya, adalah ketika Sang Pencipta memanggil mesra, untuk kembali kepada-Nya, masuk ke dalam surga-Nya, dan meraih ridho-Nya. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۖ  ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَا ضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَا دْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِى ۙ  وَا دْخُلِيْ جَنَّتِى

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha’ dan diridhai. Masuklah dalam golongan hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. al-Fajr 27-30).

************

Bersambung, Insya Allah…

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Ardiansyah, M.Pd.I
(Pengasuh Ponpes at-Taqwa Depok & Penulis Buku Catatan Pendidikan)

Sumber: Buku Catatan Pendidikan (Refleksi Tentang Nilai-Nilai Adab dan Budaya Ilmu dalam Islam), Penerbit (Yayasan Pendidikan Islam At-Taqwa Depok) Cetakan Pertama Februari 2020.

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)