Dalam satu buku pelajaran sejarah tingkat SMA, disebutkan, “manusia sekarang adalah bentuk sempurna dari sisa-sisa kehidupan purbakala yang berkembang dari jenis hominid, bangsa Kera” (Ratna Hapsari dan M. Adil, Sejarah Indonesia Untuk SMA/MA Kelas X , 2012: 81). Itulah sekelumit perkataan dalam buku sejarah untuk siswa-siwi SMA/MA, yang bermuara kepada pemikiran Charles Darwin. Dan Begitulah para murid diajarkan disekolahnya. Mereka seperti dipaksa untuk mengkaji serta mempercayai bahwa “nenek moyang” mereka ialah kera. Nyaris tak terdengar suara protes ataupun setidaknya mempertanyakan kebenaran teori tersebut. Apalagi ketika teori ini terus bertahan dengan sangat kokoh dalam kurikulum. Bahkan sampai saat ini, kurikulum 2013 yang masih setia menemani institusi pendidikan, juga tetap mempertahankan konsep evolusi manusia tersebut.
Pada dasarnya teori ini datang sebab adanya pemisahan antara agama yang merujuk langsung kepada (ilmu) wahyu dan sains yang menafikan keilmuan tersebut. Agama telah dianggap sebagai satu barang yang tidak saintifik. Bagi sebagian kalangan, apa yang dikabarkan lewat wahyu, tidak bisa dikatakan sebagai suatu hal yang ilmiah. Yang ilmiah ialah yang tampak dan bisa diindera, sehingga mampu diadakan eksperimen dan segala penelitian lainnya. Maka, sudah sepatutnya agama dilarang ikut campur dalam ranah ilmu pengetahuan.
Dalam buku itu pun disebutkan bahwa pendekatan agama tidak bisa dan tidak tepat manakala digunakan dalam memahami realitas alam semesta. Lebih jauh, dikatakan, “Agama berada dalam tingkat eksistensial dan transendental (soal rasa, soal hati), sedangkan sains berada dalam tingkat faktual (soal pembuktian empiris). Dengan kata lain, agama dan sains memiliki otonomi masing-masing. Itu tidak berarti keyakinan keagamaan tidak rasional. Perasaan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu tetap dapat dijelaskan secara rasional. Singkatanya, agama dan sains (ilmu pengetahuan) tidak perlu dicampuradukkan.” (2013: 81. Ini juga dikutip dalam buku 10 Kuliah Agama Islam karya Dr. Adian Husaini).
Jika merujuk pada kitab Aqaid An-Nasafiyah, dalam Islam setiap manusia bisa memperoleh ilmu atau kebenaran melalui tiga hal: panca indera yang sehat, akal, dan khabar shadiq. Dalam buku 10 Kuliah Agama Islam, Dr. Adian Husaini menjelaskan bahwa, cara pandang sekuler semacam itu merupakan kesalahan epistimologis, yang memisahkan panca indra dan akal sebagai sumber ilmu, dengan khabar shadiq (true report)—dalam hal ini wahyu Allah—sebagai sumber ilmu. Jadi, secara epistimologis, kajian sejarah tentang asal-asul manusia yang memakan rentang waktu ribuan tahun, hanya bisa diketahui dengan pasti melalui Khabar Shadiq yang meyakinkan, yaitu al-wahyu. Sumber-sumber yang bersifat empiris dan rasional, hanya sampai pada taraf dugaan (zhan).
Jadi, bagaimana mungkin akal sehat manusia bisa menerima, manakala ada dugaan (panca indra dan rasional) dianggap lebih kuat dan ilmiah daripada suatu hal yang sudah jelas kepastiannya, yakni khabar shadiq? Lagipula bukankah al-Qur’an dan hadits sudah sangat jelas menjelaskan asal-asul penciptaan Manusia yang bersumber dari Nabi adam? Bahkan Bukankah secara eksplisit Qur’an juga sudah menyebutkan umat manusia dengan sebutan “Bani Adam” (keturunan Adam) bukan “Bani Qirid?” (keturunan kera).
Kemudian mantan wartawan istana itu melanjutkan, bahwa secara ontologis-pun teori Darwin juga memiliki cacat yang besar. Sebab pada dasarnya manusia tidak hanya terdiri dari entitas jasadiyah, tapi juga entitas RUH, tetapi mereka menolak aspek tersebut. Sudah semestinya ruh yang insensible diakui sebagai objek ilmu yang seharusnya dipahami berdasarkan wahyu.
Dengan menganggap ruh tidak ada, mulailah “mereka” mengkaji sejarah asal-usul manusia hanya berdasar pada aspek tulang belulang. Jika begitu, pastilah simpulan akhirnya menjadi tidak sempurna, dan keliru. Maka selama ini para antropolog bukan meneliti “Sejarah Manusia”, melainkan lebih tepat kepada “Sejarah Tulang Manusia”. Lagipula tulang dan daging tanpa adanya ruh, apa artinya? Lebih jauh, penulis buku Wajah Peradaban Barat itu mengatakan, “Teori manusia purba adalah suatu rekaan dari penyusunan tulang-berulang makhluk purba yang kemudian difantasikan ke dalam wujud manusia purba atau manusia gua (caveman) yang telanjang, mulutnya monyong, dan hidupnya hanya untuk cari makan sebagaimana layaknya binatang” (Dr. Adian Husaini, 10 Kuliah Agama Islam, 2016: 205-207)
Tentu disamping itu semua, jika hendak dipikirkan kembali, tentu setiap murid pada dasarnya bisa mempertanyakan konsep itu. Dari mulai berpikir bahwa Tidak ada bukti yang bisa menjelaskan mengenai teori evolusi dari kera menjadi manusia. Sebab, apakah pernah ada bukti bahwa kera memang bisa berubah menjadi manusia? Apakah perkawinan antara profesor dengan kera bisa memproduksi kera yang berakal? Lagipula, jika memang manusia merupakan evolusi dari kera, mengapa kera-kera yang ada sekarang ini tetap menjadi kera? Kenapa mereka tidak berubah menjadi manusia?
Entitas ruh dan akal, tidak akan pernah datang dari apa yang memang sebelumnya tidak ada. Tidakkah kita berfikir bahwa akal-lah yang membedakan antara manusia dengan hewan? Bukankah seseorang itu akan dianggap sebagai manusia selama ia mempunyai akal? Lagipula, bukankah ini pe jinghinaan terhadap manusia karena telah direndahkan martabatnya ke tingkat hewan yang katanya sejenis kera? Juga, apakah kera akan terima manakala ia disama-samakan dengan manusia?
“Semua rekayasa objek purbakala hanya menghasilkan kesimpulan ke tingkat dugaan (zhan). Sebagian ilmuwan ada yang merujuk lagi pada tingkat persamaan struktur gen manusia dan simpanse yang mencapai 99%. Jika itu benar, toh, yang 1% itu pun tak pernah bisa dipenuhi oleh simpanse. Dengan cara apapun simpanse tetap simpanse; Monyet tetap Monyet; dan Monyet tidak akan jadi manusia. Secara aksiologis, konsep manusia dari Monyet ini pun tak membawa manfaat besar bagi manusia. Hasilnya hanya dugaan, bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daratan Cina dan sekitarnya. Jika hanya begitu kesimpulannya, untuk apa triliunan rupiah dikucurkan untuk penelitian semacam itu?” (10 Kuliah Agama Islam, 2019: 209. Lihat juga buku Dr. Syamsuddin Arif, Islam dan Diabolisme Intelektual, 2018: 184-185)
Lalu kalau sudah terbukti dan jelas kecacatannya, mengapa masih diajarkan bahkan masih istiqomah dalam kurikulum?
Ingatlah, konsep yang dicetuskan Darwin ini tidak bisa dianggap sepele. Tatkala seorang murid membenarkan konsep itu, kemungkinan besar ia akan menyalahi tujuan hidup yang sebenarnya. Saat itulah ia tidak punya atau mungkin lupa dengan konsep ibadah dalam hidupnya, karena telah ditanamkan “konsep monyet” tersebut. Lebih-lebih, konsep itu akan menghapus misi penting seorang Nabi untuk menegakkan kalimat tauhid (QS. 16: 36) dan perjuangan Adam dan Hawa dalam melawan Iblis. Sebab, rantai kenabian telah dihancurkan ketika konsep Darwin dikenalkan. Dan karena konsep itu pula, setiap murid akan lupa bahwa tugas mereka di muka bumi adalah sebagai khalifah yang memakmurkan bumi, melanjutkan Nabi Adam.
Disamping itu, dampak negatif lainnya adalah kemungkinan besar mereka bisa menjadi orang-orang yang gila dunia (dalam tujuan hidup dari aktivitas mereka). Sebagaimana kehidupan kera pada umumnya dan nenek moyang mereka yang digambarkan di buku pelajaran sejarah, yakni sekedar mencari makan (survive) dan memuaskan hawa nafsunya, maka, tidak mungkin tidak dengan para siswa yang mempelajarinya. Sehingga hidupnya hanya selalu tentang materi dan bagaimana bisa memuaskan fisik dan hawa nafsu.
Sedikit dari para pendidik yang menyinggung soal entitas jiwa manusia sebagai indikator utama kebahagiaan. Maka, tidak heran jika pelajaran yang didapat setelah itu, ialah tentang kebutuhan primer manusia yang sama sekali hanya mengurusi masalah fisik, layaknya kebutuhan monyet, yakni sandang, pangan, dan papan. Dan tidak heran pula jika tujuan pembelajaran mereka hanya diarahkan bagaimana supaya bisa sekedar bekerja lalu cari makan demi memenuhi kebutuhan hidup. Akibatnya, kehidupan para murid kering dari nilai-nilai ibadah, perjuangan, ketaqwaan, dan lain sebagainya. Lagipula, bukankah tujuan bekerja untuk bisa makan, setelah selesai mengemban pendidikan di perguruan tinggi, justru akan meletakkan martabat kamanusiaan seseorang di bawah kera? Sebab, kera untuk bisa makan saja tidak perlu sekolah ataupun kuliah.
Jika begini, bukankah akan lebih baik agama diikutsertakan dalam pelajaran sains di sekolah-sekolah? Bukankah alangkah lebih baiknya konsep kera Darwin ini dipertimbangkan kembali, apakah layak untuk dimasukkan ke dalam kurikulum dan diajarkan kepada para siswa atau tidak?
“Pencarian manusia tentang asal-usulnya harusnya merujuk kepada kabar dari Sang Pencipta, Allah Swt. Penolakan wahyu Ilahi sebagai sumber ilmu telah memalingkan manusia dari sejarahnya sendiri…. Kebutuhan primer manusia tertinggi adalah ibadah; bukan makan dan minum. Untuk beribadah, liya’budun—bukan liya’ kulun (untuk makan)—(Q.s. adz-Dzariyat [51]: 56) itulah, maka manusia dicipta’; bukan hidup untuk makan! “Untuk makan”, itu tujuan hidup monyet. Saat berpuasa, seorang Muslim rela meninggalkan kebutuhan makan-minum, demi ibadah. Seorang ibu rela menyabung nyawa, demi keselamatan anak tercintanya. Mujahid ikhlas mengorbankan jiwa, demi cita-cita mulia. Kebutuhan ibadah lebih tinggi daripada kebutuhan jasadiah, makan-minum…. Adam a.s. dicipta dan diturunkan ke dunia untuk menjadi khalifah fil-ardh. Tugasnya, dan para Nabi sesudahnya, menegakkan kalimat Tauhid; agar manusia hanya menyembah Allah semata…. Secara aksiologis, kajian tentang sejarah manusia ini sangat penting untuk didasarkan pada sumber-sumber wahyu, dengan mengosentrasikan pada kisah Adam dan Iblis…. Bahwa, manusia—sampai hari kiamat—akan tetap menghadapi musuh abadi, yaitu Iblis dan para setan dari jenis manusia dan jin yang kerjanya hanya untuk menyesatkan manusia. Sejarah diajarkan terutama untuk mencari hikmah (ibrah) dari kisah-kisah yang sudah lampau. Sejarah diajarkan bukan untuk sejarah itu sendiri. Kaidahnya, bukan history for the sake of history, tetapi history for the sake of ibrah” (10 Kuliah Agama Islam, 2016: 209-210).
************
Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa At-Taqwa College)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































