“Oang yang paling utama adalah yang bersikap tawadhnu’ ketika memiliki kedudukan tingi, hersikap zuhud ketika kaya, dan mengalah ketika kuat” _Abdul Malik bin Marwana
Suatu ketika Yazid bin Abdul Malik bin Marwan datang kepada Makhul yang sedang bersama kawan-kawannya. Ketika kamu melihatnya kamu berkehendak melapangkan majelis untuknya, Makhulpun berkata, “Tetaplah di tempat kalian, biarkan dia duduk di tempat yang dia dapat untuk belajar tawadhu’.”
Tawadhu’ adalah akhlak yang terpuji, sifat yang menarik, pendampirng kebenaran yang dicintai Allah Azza wa Jalla. Dia mencintai orang-orang yang menyifati diri dengan ketawadhu’an. Alah berfirman:
“Dan hamba-hamba Rabb Yang Maha Pemyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. “(Al-Furqân: 63)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga diperintahkan bersikap tawadhu, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. “(Asy-Syu’ara’ ; 215)
Dalam sahih Muslim diriwayatkan dari Iyadh bin Himar, Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku hendakahlah kalian bersikap tawadhu’ (merendahkan diri), hingga seseorang tidak bersikap sombong kepada yang lain dun tidak ada seseorang yang berbuat zalim kepada yang lain.,” (HR. Muslim, Abu Daud, dan Ibnu Majah)
Tawadhu’ adalah luluhnya hati dan menerima kebenaran dari orang lain, serta tidak melihat adanya kelebihan pada dirinya di atas orang lain.
Tatkala Fudhail ditanya tentang makna tawadhu’, beliau mengatakan, “Engkau menundukkan dirimu untuk menerima kebenaran dan mematuhinya meskipun engkau mendengarnya dari anak kecil atau dari orang yang paling bodoh, dan engkau tetap menerimanya.”
Sesungguhnya generasi tabi’in memahami hakikat akhlak ini, sebagaimana tatkala ditanyakan kepada Yusuf bin Asbat, “Apa inti dari sifat tawadhu’?” Beliau menjawab, “Engkau keluar dari rumahmu, dan setiap kali bertemu dengan seseorang maka engkau melihatnya lebih baik darimu.”
Pengertian inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syafi’i dengan perkataannya, “Orang yang paling tinggi kedudukannya ialah yang tidak melihat kelebihan pada dirinya, dan orang yang paing banyak keutamaannya ialah yang tidak melihat keutamaannya.”
Diantara sikap tawadhu’ ialah engkau menempatkan dirimu pada tempatnya. Tatkala Ibnu Al-Mubarak Rahimahullah, ditanya tentang pokok ketawadhu’an, beliau menjawab, “Pokok ketawadhuan adalah engkau meletakkan dirimu pada derajat orang di bawahmu dalam nikmat dunia, sehingga engkau mengetahui bahwa dengan duniamu engkau tidak ada kelebihan di atasnya, dan hendaklah engkau menaikkan dirimu pada derajat orang yang dunianya di atasmu sehingga engkau mengetahui bahwa dia dengan dunianya tidak ada kelebihan di atasmu.”
Ada perbedaan yang cukup besar antara tawadhu’ dan mahanah (menghinakan diri) sebagaimana yag dikatakan imam Ibnu Al-Qayim, “Tawadhu’ adalah luluhnya hati karena Allah dan merendahkan diri dengan ibadah, sehingga tidak melihat kelebihan pada dirinya atas orang lain dan tidak melihat baginyahak atas orang lain, tetapi melihat orang lain mempunyai kelebihan atas dirinya serta hak atas dirinya. Akhlak ini hanya Allah berikan kepada orang yang Dia cintai, muliakan dan yang dekat kepada-Nya.
Adapun mahânah adalah kerendahan, kehinaan serta mencurahkan segala usaha agar terpenuhi keinginan dan nafsu dirinya, sebagaimana kerendahan orang rendahan untuk mendapatkan nafsunya, dan ketundukan obyek kepada pelakunya serta ketundukan orang yang mempunyai keinginan terhadap seseorang yang diharap darinya dicapai keinginan tersebut, sesungguhnya ini semua adalah menginjak harga diri bukan tawadhu’.”
“Apabila seseorang menyeleweng dari garis tengah, maka dia akan menyeleweng kepada salah satu dari dua akhlak yang tercela dan itu pasti terjadi. Apabila dia menyeleweng dari akhlak tawadhu’ maka dia akan menyeleweng kepada kesombongan dan tinggi hati atau kepada kehinaan dan kerendahan.”
Jelas, setiap mukmin harus memahami apa itu arti tawadhu’ yang telah dijelaskan oleh generasi tabi’in, baik secara teori maupun praktik. Tidak hanya itu, mukmin juga harus mempraktikan teori tersebut dalam dunia nyata sehingga semakin tinggi nilainya. Juga mengajak orang-orang dengan amalan dan akhlak sebelum dengan ucapan.
Perhatikan kata-kata yang diucapkan seorang pakar pendidikan, bagaimana dia mengajari murid-muridnya sitat tawadhu’. Bakr bin Abdillah mengatakan, “Apabila Iblis membisikkan kepadamu bahwa engkau memiliki kelebihan atas seseorang dari kaum muslimin, maka lihatlah, apabila dia lebih tua darimu maka katakan, sesungguhnya dia telah mendahuluiku dengan keimanan dan amal saleh maka dia lebih baik dariku. Dan apabila dia lebih kecil darimu maka katakan, sesungguhnya aku telah mendahuluinya berbuat maksiat dan dosa dan berhak menerima hukuman, maka dia lebih baik dariku.”
Karena engkau tidak melihat seorang pun dari umat Islam kecuali dia lebih tua darimu atau lebih kecil darimu, beliau juga mengatakan, “Apabila engkau melihat saudara-saudaramu dari kaum muslimin memuliakanmu, menghormatimu dan menjalin hubungan denganmu, maka katakanlah, sesungguhnya ini adalah karena keutamaan yang mereka peroleh. Dan apabila engkau melihat mereka tidak menghormatimu dan tidak berbuat baik kepadamu, maka ini adalah karena dosa yang telah aku perbuat.
Demikianlah generasi tabi’in mengajarkan kepada kita bahwa dunia bukanlah tempat untuk saling meninggikan diri, sehingga yang tinggi adalah yang memilikinya sedang yang tidak memilikinya maka dialah yang tersingkir. Namun jadilah, “Lemah lenbut terhadap orang-orang mukmin dan keras terhadap orang-orang kafir. “(Al-Ma’idah: 54), maka di sini dia bersikap tawadhu’ dan di sana dia bersikap tinggi.
Oleh karena itu, agar kita berhasil dalam berdakwah, hendaklah kita terus melatih diri dengan akhlak ini hingga melekat pada diri kita, lalu mendidik anak didik kita dengannya dalam lembaga pendidikan yang kita kelola.
Ibnu Sammak berkata kepada Harun Ar-Rasyid, “Ketawadhu’anmu dalam kemuliaanmu lebih mulia bagimu dari kemuliaanmu.”
Abdul Malik bin Marwan mengatakan, “Orang yang paling utama adalah yang bersikap tawadhu’ ketika memiliki kedudukan tinggi, bersikap zuhud ketika kaya, dan mengalah ketika kuat.”
Marilah kita merenungi sikap salah seorang pendidik dari kalangan tabi’in dan bagaimana dia mendidik para pengikutnya dengan akhlak ini. Diriwayatkan dari Jabir, “Suatu ketika Yazid bin Abdul Malik bin Marwan datang kepada Makhul yang sedang bersama kawan-kawannya. Ketika kami melihatnya kami hendak melapangkan majelis untuknya, maka Makhul berkata, “Tetaplah di tempat kalian, biarkan dia duduk di tempat yang dia dapat untuk belajar tawadhu'”. “
Sungguh, bimbingan amali ini tak bisa lain keluar dari seorang pakar pendidikan yang sadar dan berpengalaman dalam menyikapi berbagai kondisi hati dan tabiat jiwa: “Tetaplah di tempat kalian, biarkan dia duduk di tempat yang dia dapat untuk belajar tawadhu. Sungguh, ini lebih mengena daripada seribu khutbah atau pelajaran tentang tawadhu’.
Kita juga bisa mendapatkan pelajaran ini dari seorang pakar pendidik lain dari generasi ini tatkala dia mengajarkan kepada murid-muridnya sifat tawadhu’, namun dengan cara yang sederhana, sebagaimana dikatakan oleh Bakr Asy- Syibli, “Apabila engkau ingin melihat dunia dengan berbagai isinya maka lihatlah tempat pembuangan sampah, itulah hakikat dunia. Apabila engkau ingin melihat hakikat dirimu maka ambillah segenggam tanah karena engkau diciptakan darinya. Kepadanya engkau kembali dan darinya engkau akan dikeluarkan. Apabila engkau ingin melihat siapakah dirimu, maka lihatlah apa yang keluar darimu ketika masuk WC. Barang siapa yang kondisinya demikian, tidak pantas baginya untukmerasa tinggidenganduniaatau menyombongkandiri.” Maka, sadar dan bersikap tawadhu’lah, hai tanah!
Fudhail bin Ghassan meriwayatkan dari ayahnya, “Abdullah bin Abdul Aziz Al-Umari melihat salah seorang dari keluarga Ali berayun tangan ketika berjalan maka beliau bersegera menjumpainya lalu memegang tangannya dan berkata, ‘Engkau, orang yang dengannya Allah menjadikanmu terhormat, bukan seperti ini cara berjalannya’. Maka orang tersebut berhenti dari melakukan hal itu.”
Sesungguhnya kisah unik dari orang-orang yang terdidik melalui tangan para shahabat Nabi dan berakhlak dengan akhlak mereka mampu membangun bangunan akhlak yang menjulang tinggi dengan ketawadhu/an mereka. Diriwayatkan dari Ubaid bin Walid dari ayahnya, “Sesungguhnya Umar bin Abdul Aziz apabila begadang karena urusan umat maka beliau menyalakan lentera dari harta kaum muslimin, dan apabila begadang karena urusan pribadinya maka beliau menyalakan lentera miliknya. Namun, pada suatu malam lentera redup, beliau pun bangkit untuk memperbaikinya, maka dikatakan kepadanya, ‘Amirul mukminin, biarlah kami yang memperbaikinya’. Beliau berkata, ‘Aku Umar ketika aku berdiri dan aku Umar ketika aku duduk’.”
Tidak ada ketawadhu’an setelahnya selain amalan sebagaimana dikatakan, “Tidak sempurna ketawadhu’an setelah mengetahuinya selain mengamalkannya.
Sekarang tiada yang tersisa selain amalan, dan saya menutup pembahasan ini dengan wasiat dari seorang pendidik di kalangan harakah islamiyah, Dr. Musthafa As-Siba’i mengatakan sebagai peringatan bagi saya dan Anda “Apabila Allah memberikan nikmat kepadamu dengan suatu pemberian yang tidak dimiliki oleh ikhwanmu maka janganlah engkau merusaknya dengan berbuat congkak kepada mereka dan dengan banyak membicarakannya karena sesungguhnya separuh kepandaian bersama sifat tawadhu’ lebih disukai oleh orang lain dan lebih bermanfaat bagi masyarakat daripada kepandaian yang utuh bersama sifat bangga diri.”
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 179-185
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)










































































