“Sebagaimana engkau ingin Allah Azza wa Jalla berhuat untukmu nanti maka begitu pula seharusnya engkau berbuat untuk-Nya hari ini.”_Abdullah bin Abdul Aziz.
Abu Hazim mengatakan, “Lihatlah apa yang engkau sukai untuk menemanimu nanti di akhirat lalu bersegeralah untuk mendapatkannya hari ini, dan lihatlah apa yang erngkau benci kalau nanti menemanimu di akhirat lalu tinggalkanlah sejak hari ini.”
Itulah seruan untuk memikirkan urusan akhirat, seruan untuk bersegera mengerjakan segala amal kebajikan, seruan untuk berhias dengan segala kemuliaan yang memudahkan pelakunya dalam meniti jalan akhirat, dan seruan untuk mengosongkan diri dari segala yang menghalangi jalan menuju Allah. Karena itu, para tabi’in selalu berusaha menjadikan hal ini sebagai jalan yang mereka tempuh, baik untuk diri mereka maupun murid-murid mereka.
Pada suatu hari Raja’ bin Haiwah berkata kepada Adi binbAdi dan Ma’an bin Mundir, “Lihatlah pada apa yang kalian sukai untuk berjumpa dengan Allah dengannya lalu bersegeralah untuk mengambilnya saat ini, dan lihatlah apa yang kalian benci kalau bertemu Allah dengannya lalu tinggalkanlah sejak saat ini.”
Abu Hazim kembali mengingatkan kita tentang wasilah dan manhaj membersihkan jiwa, kata beliau, “Setiap amalan yang engkau tidak suka kalau meninggal dengannya maka tinggalkanlah. Jika demikian itu yang selalu engkau perbuat maka engkau tidak akan khawatir lagi kapan akan meninggal.”
Kalian mendapati mereka selalu mendorongmu urntuk bersegera. Apabila engkau terlambat, serta merta mereka menghardikmu; celaka kamu, ayo segera maju, Jangan terlambat!! Celaka kamu, bersegeralah!!
Khalid bin Midan mengatakan, “Apabila terbuka pinti kebaikan bagi seseorang dari kalian hendaklah dia bersegera mengerjakannya karena dia tidak tahu kapan pintu tersebut ditutup.”
Mereka menasihatkan dan menyampaikan inti sai pengalaman tarbiyah mereka. Haris bin Qais Al-Ju’fi berkata, “Apabila engkau berada dalam urusan akhirat maka tetaplah berada di dalamnya, dan apabila engkau berada dalam urusan dunia maka bersegeralah untuk selesai darinya. Apabila engkau berkeinginan untuk mengerjakan suatu kebaikan maka jangan mengakhirkannya. Dan, apabila setan mendatangimu ketika engkau shalat dan dia berkata, Engkau berbuat riya'” maka semakin panjangkan shalatmu.”
Dengan cara lain Abdullah bin Abdul Aziz mengajarkannya kepada kita, beliau berkata, “Sebagaimana engkau ingin Allah Azza wa Jalla berbuat untukmu nanti maka begitu pula seharusnya engkau berbuat untuk-Nya hari ini.”
Mari belajar dan berusaha meneladani mereka. Apabila kita belum mampu seperti mereka, Aun bin Abdillah mensifati kita, Sesungguhnya orang-orang sebelum kita memberikan jatah untuk dunia dari apa yang tersisa dari akhirat mereka, sedang kalian nmemberikan jatah untuk akhirat kalian dari apa yang tersisa dari dunia kalian.”
Perbaikilah niat dan obatilah hati kalian karena apabila niat benar dan hati sehat maka akhirat akan menjadi dekat. Imam Ibnul Qayyim berkata, “Kalau hati sembuh dari sakitnya maka dia akan memburu akhirat, dan apabila hati sakit maka dia akan lebih mengutamakan dunia dan dunia bertempat di hatinya sehingga menjadi penghuninya.”
Yahya bin Mu’adz mengatakan, “Dunia itu rusak dan lebih rusak lagi hati orang yang memakmurkannya, sedangkan akhirat itu makmur dan lebih makmur lagi hati orang yang mencarinya.”
Sesungguhnya generasi tabi’in memotivasi dan mendorong kita agar bersegera mengerjakan amalan-amalan akhirat. Mereka meneriaki kita agar bangkit dan segera beramal. Seperti Abdus Somad bin Umarbin Muhammad bin Ishaq yang memotivasi dan memberi dorongan kepada para sahabatnya agar bersungguh-Sungguh dalam urusan akhirat, beliau berkata, “Bersegeralah, dunia telah meninggalkan kalian maka jangan sampai tidak mendapatkan akhirat.”
Saudaraku, Inilah sebagian dari metode tarbiyah, yaitu memotivasi diri. Hal ini telah dijadikan oleh para tabi’in sebagai manhaj bagi diri mereka dan murid-murid mereka, serta mewariskannya kepada generasi setelah mereka dan bagi siapa saja yang ingin mengikuti mereka dan menapaki jejak mereka. Patut direnungkan perkataan Muhammad bin Ali bin Abi Thalib ini, beliau berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan surga sebagai harga untuk membeli diri-diri kalian maka janganlah kalian menjualnya dengan selainnya.”
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 149-151
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)










































































