Sebesar apa kesedihammu kepada dunia, sehesar itu pula keinginan akhirat keluar dari hatimu. Sebesar apa kesedihanmu karena akhirat, sebesar itu pala keinginan dunia keluar dari hatimu.
Bisyr bin Mansur berkata kepada Atha’ As-Sulaimi, “Wahai Atha’, kenapa engkau bersedih?” Beliau menjawab, “Kematian siap menjemputku, kuburan adalah rumahku. Di hari kiamat aku berdiri menghadap, di atas neraka Jahannam jalanku meniti shirath, dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat Rabbku kepadaku. Kemudian beliau mengambil nafas panjang dan tak sadarkan diri.”
Generasi tabi’in adalah kaum yang hatinya telah dikuasai oleh pikiran tentang akhirat sehingga terpalingkan dari setiap kenikmatan dunia. Akhirat adalah kesibukan mereka yang paling menyibukkan. Itulah yang menguasai hati dan menyetir pikiran mereka.
Oleh karena itu, dapat Anda temukan salah seorang dari mereka berada dalam sebuah lembah dan orang-orang di sekitarnya seakan di lembah lain. la mencurahkan segala amalannya untuk menggapai akhirat. Apabila ia gembira, itu karena akhirat. Apabila bersedih, itu karena akhirat juga. la jadikan tawa dan tangisnya untuk akhirat. Begitu pula diam dan geraknya, bicara dan diamnya, dan bangun dan tidurnya.
Semboyan generasi ini adalah “Ya Allah, tidak ada keinginan kecuali keinginan akhirat” maka Anda mendapati kesedihan telah mengisi hati mereka, dan menguasai akal mereka tatkala mereka mengetahui salah satu perkara akhirat.
Abu Maryam mengatakan, “Aku berkata kepada Abu Abdillah Al-Barani, “Berapa kali Anda menangis? Berapa kali tangisan seperti ini? Maka ia mengulurkan tangannya kepadaku, di ujung jarinya ada sehelai rambut yang tergulung Kemudian dia mengurainya dan berkata, ‘Kalau perumpamaan shirath seperti ini maka telapak kaki mana yang mampu tegak di atasnya?” Lalu ia menangis.”
Hal yang membuat keinginan mereka pada akhirat tidak pernah putus, kesedihan tidak pernah berpisah dari hati, dan air mata tidak pernah kering dari mata mereka adalah karena akhirat selalu hadir di dalam benak mereka. Akhirat dengan segala peristiwa di dalamnya dan dengan segala yang berhubungan dengannya. Maka hal itu meresap di hati mereka, seakan-akan dia melihatnya dengan nyata. Tidak ada bayangan di matanya kecuali bayangan kematian, kuburan, hari kiamat, dikumpulkannya manusia di padang Mahsyar, titian shirath, surga dengan segala kenikmatannya dan neraka dengan segala huru hara dan azabnya.
Pernah Umar bin Abdul Aziz menangis. Lalu, Fatimah istrinya juga ikut menangis, lalu seluruh penghuni rumah juga menangis. Mereka tidak tahu apa yang membuat mereka menangis. Tatkala kesedihan telah sirna, Fatimah bertanya kepada suaminya, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Aku teringat ketika orang-orang yang beranjak dari hadapan Allah; satu kelompok masuk surga dan kelompok lain masuk neraka.” Kemudian beliau berteriak histeris dan tak sadarkan diri.
Malik bin Dinar sangat heran kepada orang yang keadaannya tidak seperti para tabi’in. Beliau berkata, “Sangat mengherankan orang yang telah mengetahui bahwa perjalanan hidupnya pasti berakhir dengan kematian dan kuburan adalah rumah masa depannya, bagaimana dunia bisa membuatnya tenang, dan bagaimana hidupnya bisa tenteram di dalamnya.”
Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Selayaknya selalu bersedih orang yang mengetahui bahwa kematian pasti menghampirinya, hari kiamat adalah hari yang ditunggu, dan berada di hadapan Allah adalah peristiwa yang pasti dia lalui di hari kiamat.”
Beliau juga berkata, “Sesungguhnya orang mukmin itu di pagi hari dia bersedih dan di waktu sore dia bersedih. Keadaannya selalu berada di antara dua ketakutan, yaitu di antara dosa yang telah ia kerjakan karena dia tidak tahu apa yang akan Allah kerjakan dengannya, dan kematian yang pasti akan menjemputnya karena dia tidak tahu siksa apa yang akan menimpanya.”
Mereka adalah kaum, yang kesedihan mereka berkepanjangan di dunia agar kegembiraan mereka langgeng di akhirat. Mereka senantiasa saling menasihati. Salah seorang dari mereka, Ibrahim Al-Khawas berkata, “Barang siapa yang dunia belum menangis kepadanya maka akhirat tidak akan tertawa kepadanya.”
Itulah hal yang membuat kita berpikir mengenai keadaan mereka, bahwa kesedihan mereka di dunia yang berkepanjangan bukan karena hilangnya kenikmatan dunia dari mereka, tetapi karena mereka mengetahui dan memahami benar perkara akhirat. Kesedihan mereka mempunyai tabiat dan rasa tersendiri, sebagaimana dikatakan Ibrahim bin Adham, “Kesedihan ada dua macam; kesedihan yang baik bagimu dan kesedihan yang jelek bagimu. Kesedihan karena akhirat adalan kesedihan yang baik bagimu, sedangkan kesedihan karena dunia adalah kesedihan yang jelek bagimu.”
Generasi ini sangat memahami bahwa kesedihan karena akhirat dan kesedihan atas hilangnya dunia dan syahwatnya adalah tidak akan bisa bertemu dalam hati orang mukmin. Pelajaran yang mendidik ini disebutkan oleh Abul Hakam Sayyar bin Dinar, beliau berkata, “Kegembiraan karena dunia dan kesedihan karena akhirat tidak bisa bertemu di dalam hati seorang hamba. Apabila salah satu dari keduanya mendiami hati maka yang lain akan pergi.”
Malik bin dinar juga pernah menyebutkannya tapi dengan redaksi lain, “Sebesar apa kesedihanmu kepada dunia, sebesar itu pula keinginan akhirat keluar dari hatimu. Sebesar apa kesedihanmu karena akhirat, sebesar itu pula keinginan dunia keluar dari hatimu.”
Tidaklah mengherankan jika Anda melihat dan mengamati wajah generasi tabi’in mendapati akhirat telah tergurat di dahi mereka, di bawah mata mereka, serta di atas pipi mereka. Ibrahim bin Isa Ali Yasykuri menceritakan tentang kondisi Hasan Al-Basri, “Aku tidak pernah melihatnya kecuali aku mengira dia baru tertimpa musibah.”
Masma’ mengatakan, “Kalau Anda melihat Hasan pasti Anda mengatakan, ‘Seakan-akan kesedihan semua makhluk terkumpul pada dirinya karena lamanya air matanya mengalir serta isak tangis yang tiada henti’.” Lebih dari itu, salah seorang dari mereka mengatakan, “Apabila aku melihat wajah Muhammad bin Wasi’ maka aku mengira wajahnya seperti wajah wanita yang ditinggal mati anaknya.”
Sesungguhnya, hal yang membuat mereka tidak bisa tidur dan yang meluluhkan hati mereka adalah ketakutan yang sangat terhadap tempat kembali di akhirat, yang telah menunggu mereka. Ibrahim An-Nakha’i mengatakan, “Apabila kita mengiringi jenazah atau mendengar ada seseorang yang meninggal maka pengaruhnya tampak pada diri kita berhari-hari. Karena kita mengetahui bahwa telah datang kepadanya sesuatu yang menggiringnya, apakah ke surga atau ke neraka.” Beliau melanjutkan, mensifati generasi yang mulia ini, “Apabila di antara mereka ada yang meninggal maka berhari-hari mereka bersedih dan itu tampak jelas pada mereka.”
Bahkan hati mereka yang lembut ini tidak kuat melihat kematian dan jenazah. Suatu hari Atha’ mengiringi jenazah, beliau jatuh pingsan empat kali hingga shalat jenazah selesai. Beliau pingsan lalu sadar, namun begitu melihat jenazah lagi, beliau pingsan lagi.
Karena sensitivitas dan empati yang tinggi serta hati yang selalu sadar maka keadaan mereka sebagaimana yang dikatakan Sulaiman bin Mihran Al-A’masy, “Sesungguhnya tatkala kita menyaksikan jenazah maka semua sangat bersedih sehingga tidak tahu siapa yang kita takziahi.”
Begitulah, akhirat benar-benar menguasai dan menyibukkan hati mereka sehingga ia penuh dengan kesedihan dan ketakutan karena khawatir terjebak kelalaian dan keteledoran, atau terkena hembusan angin dosa, atau rusak karena akibat kemaksiatan. Oleh karena itu, mereka mengatakan, “Sungguh, apabila tidak ada kesedihan di dalam hati, niscaya ia akan rusak. Seperti rumah apabila tidak dihuni akan rusak. Sungguh, hati orang-orang baik itu sangat bersemangat mengerjakan amal-amal kebajikan, sedangkan hati orang-orang yang jahat itu bersemangat mengerjakan amal-amal buruk. Allah melihat keinginan setiap kalian, lihatlah apa yang menjadi keinginan kalian semoga Allah merahmati kalian.”
Generasi ini menganggap bahwa kesedihan karena akhirat dan keinginan untuk meraihnya adalah termasuk kebutuhan pokok bagi hati dalam menempuh jalan menuju Allah. Malik bin Dinar mengatakan, “Sesungguhnya segala sesuatu memerlukqn suntikan dan suntikan bagi amal saleh adalah kesedihan (karena akhirat). Sesungguhnya orang tidak bisa bersabar dalam urusan ini kecuali dengan kesedihan. Demi Allah, tidaklah berkumpul kesedihan akhirat dan kegembiraan dunia di dalam hati seorang hamba karena salah satu dari keduanya mengusir yang lain.”
Saudaraku, begitulah Generasi tabi’in ini, mereka adalah kaum yang hatinya telah dikuasai oleh pikiran tentang akhirat sehingga terpalingkan dari setiap kenikmatan dunia. Akhirat adalah kesibukan mereka yang paling menyibukkan. Itulah yang menguasai hati dan menyetir pikiran mereka. Semoga Allah merahmati diri-diri kita dengan bersemangat mengerjakan amalan-amalan yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’ala.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 108-113
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)










































































