“Aku menangis bukan karena pemintaanmu, tedapi aku menangis karena aku tidak tanagap dengan kendaammu sebelam engkau memintanya kepadaku.”
Adalah Uwais Al-Qarni, apabila tiba waktu sore, beliau bersedekah dengan apa yang lebih di rumahnya, seperti makanan dan pakaian, kemudian berkata, “Ya Allah, barang siapa yang meninggal dari kaum muslimin karena kelaparan maka janganlah Engkau mengazabku karenanya. Ya Allah, barang siapa yang meninggal dari kaum muslimin karena tidak mempunyai pakaian sehingga kedinginan maka janganlah Engkau mengazabku karenanya.”
Hanya sedikit orang yang mendapatkan rezeki kepekaan yang tajam sebagaimana para tabi’in sehingga banyak kehormatan kaum muslimin yang dinodai, namun tidak ada hati yang tergugah. Berapa banyak kita mendengar jeritan ibu menangis kehilangan anaknya, namun tidak ada mulut yang berani angkat bicara. Berapa banyak musibah besar yang terjadı, tetapi Anda tidak mendapati hati yang tergugah karenanya, sebagaimana hati para tabi’in besar seperti Uwais Al-Qarni. Hatinya selalu terenyuh setiap melihat orang kelaparan dari kaum muslimin, baik anak-anak, orang dewasa, wanita atau kaum tua. Hatinya terkoyak setiap melihat orang yang tidak mempunyai pakaian. la juga tidak keberatan memberikan bantuan kecuali setelah habis hartanya, dan setelah benar benar mencurahkan kesungguhan. Kemudian mengadukan rasa bersalahnya kepada Allah Ta’ala apabila memang benar-benar sudah tidak mampu memberikan bantuan. Lalu ia mengerjakan sebagaimana yang dikerjakan Bisyr bin Harits Al-Hafi seperti diriwayatkan bahwa ketika beberapa orang datang mengunjungi Bisyr bin Harits Al-Hafi pada hari yang sangat dingin, mereka mendapati beliau melepas baju dan menggigil. Mereka pun bertanya, “Apa ini, wahai Abu Nashir?” Beliau menjawab, “Aku teringat orang-orang fakir dengan kedinginan yang mereka rasakan, sedang aku tidak mempunyai sesuatu untuk membantu mereka. Maka aku ingin merasakan kedinginan yang mereka rasakan.”
Saudaraku, berapa banyak anak terlantar yang menyerumu, atau saudara yang memohon pertolonganmu, atau perempuan yang menjerit meminta pertolongan? Saudaraku, tidakkah Anda mengetahui bahwa siapa yang menelantarkan saudaranya Muslim maka Allah akan menelantarkannya? Lantas, bagaimana pula dengan menelantarkan umat?
Oleh karena itu, sebagian mereka sebenarnya tidak berkepentingan dengan pekerjaannya. Mereka bekerja tak lain hanya karena dorongan rasa tanggung jawab terhadap orang lain. Sebagaimana Hisan bin Abi Sinan mengatakan, “Kalau bukan karena orang-orang miskin, aku tidak akan berniaga.”
Kepekaan terhadap sesama Muslim terwujud dalam banyak bentuk sebagaimana yang dikatakan Ibnul Qayyim, “Membantu orang beriman itu bermacam-macam bentuknya: membantu dengan harta, membantu dengan jabatan, membantu dengan badan dan pelayanan, membantu dengan nasihat dan petunjuk, membantu dengan doa dan istighfar untuk mereka, serta membantu dengan sengaja melaparkan diri. Bantuan yang dapat diberikan adalah sesuai kadar keimanan dalam diri seseorang. Semakin lemah keimanan, semakin lemah pula bantuan yang diberikan. Sebaliknya, semakin kuat keimanan, semakin besar pula bantuan.”
Seorang mukmin yang shadiq adalah yang memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Tampak pada dirinya kesedihan yang mendalam yang terpancar dari sela- sela sikapnya karena tidak mampu membahagiakan orang lain. Rintihan sakitnya terdengar dari lisannya, pandangan matanya, atau raut wajahnya. Sebagaimana yang dikatakan Abu Ubaid Al- Asqalani, “Aku melihat Abu Ubaidah Al-Khawas As-Sahili tidak pernah tertawa selama 40 tahun. Tatkala ditanyakan, ‘Mengapa engkau tidak pernah tertawa? Dia menjawab, ‘Bagaimana aku bisa tertawa sedangkan masih ada orang Islam yang ditawan kaum musyrikin’.”
Perkara yang paling membuat generasi ini sangat bersedih dan tersentak adalah apabila ada seseorang datang meminta tolong tapi mereka mampu melakukannya sebelum itu. Atau, ada orang yang teraniaya dan mereka bisa membebaskannya, atau ada orang yang tersesat dan mereka bisa menunjukkan jalannya, namun mereka tidak melakukannya.
“Suatu ketika Muhammad bin Sauqah dimintai sesuatu oleh keponakannya, lalu beliau menangis. Maka keponakannya berkata, “Demi Allah, wahai pamanku, kalau aku mengetahui bahwa permintaanku akan membuatmu seperti ini maka aku tidak akan memintamu.” Beliau menjawab, “Aku menangis bukan karena permintaanmu, tetapi aku menangis karena ak tidak tanggap dengan keadaanmu sebelum engkau memintanya kepadaku. “
Oleh karena itu, saudaraku, jangan sampai menelantarkan umat! Tolonglah mereka dengan segenap jiwa, harta, dan ucapan. Bantulah setiap yang lemah. Apabila Anda tidak mampu maka mendoakan mereka adalah sangat utama.
Pemandangan pembunuhan dan pengusiran
menangis
sedang bara api kesedihan telah membakarku.
Segera berkorbanlah semampu Anda. Jangan sampai terlambat. Jangan lalai atau berpura-pura buta, atau membuat-buat alasan. Mereka telah menunjukkan kepadamu jalannya dan tidak ada alasan lagi setelahnya. Rasulmu telah menyerumu dengan sabdanya:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya sakit maka seluruh anggota yang lain merasakan demam dan panas.” (HR. Muslim dari Nu’man bin Basyir)
Berapa banyak anak kaum muslimin yang kelaparan sedangkan engkau kekenyangan. Berapa banyak yang tidak mempunyai pakaian sedang engkau berlebih pakaian. Berapa banyak dari mereka yang kedinginan sedang engkau berada dalam kehangatan. Mengapa engkau tidak merasa bahwa perasaanmu telah bebal?
Baiknya, setiap Muslim berlatih dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menajamkan kepedulian terhadap penderitaan kaum muslimin untuk mendidik diri. Jangan biarkan penderitaan kaum muslimin berlalu begitu saja. Sungguh aku mengenal beberapa murabbi (pendidik) harakah islamiyah yang melatih saudara-saudaranya dengan gaya kehidupan semacam ini. Mereka tidur bersama-sama beralaskan bumi dan berselimutkan langit. Itu dilakukan bukan karena kekurangan alas tidur atau tempat berteduh. Akan tetapi, itu semua untuk turut merasakan penderitaan para pengungsi di tenda-tenda pengungsian warga Palestina, yang dinginnya musim dingin membuat badan menggigil, dan panasnya musim panas menyengsarakan mereka.
Saudaraku, mulai sekarang, mari kita didik diri-diri kita menjadi hambah Allah yang senantiasa peka terhadap penderitaan kaum muslimin di luar sana. Kita bantu mereka, saling menopang antara satu dan lainnya dengan segenap jiwa, harta, dan jika tak mampu maka mendoakan mereka juga merupakan bantun yang sangat utama.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 114-117
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































